Aksi mahasiswa kembali memenuhi jalanan Jakarta pada Selasa (18/8/2026). Mengusung tajuk “Merebut Kemerdekaan”, mahasiswa dari sejumlah kelompok menyuarakan berbagai persoalan, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebijakan pemerintah.
Aksi yang dipusatkan di kawasan Bundaran HI itu menjadi pengingat bahwa mahasiswa masih menjadi salah satu kelompok yang paling konsisten turun ke jalan menyampaikan kritik.
Ramainya aksi mahasiswa juga menyoroti beban lain yang selama ini melekat pada mereka. Setiap kali kebijakan pemerintah dianggap bermasalah, mahasiswa kembali didorong untuk turun ke jalan, seolah perubahan merupakan tanggung jawab mereka.
Namun, ketika demonstrasi dianggap tidak menghasilkan apa-apa, mereka pula yang disalahkan. Belum lagi ketika aksi menimbulkan kemacetan, kritik semakin deras karena mahasiswa dianggap hanya membuat gaduh tanpa membawa hasil nyata.
Padahal, kalau masalah yang diperjuangkan menyangkut kehidupan rakyat luas, mestinya perjuangannya juga tidak berhenti di lingkar kampus. Rakyat dari berbagai lapisan juga perlu mengambil bagian dan menentukan sendiri apa yang ingin diubah.
Mahasiswa Bukan Mesin Perubahan
Di masyarakat, ada kecenderungan untuk melihat mahasiswa sebagai kelompok yang harus berada di garis depan setiap persoalan politik. Narasi agent of change membuat mahasiswa seolah memiliki mandat khusus untuk mengurus perubahan sosial. Padahal, status sebagai mahasiswa tidak lantas membuat seseorang menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kondisi negara.
Mahasiswa memang punya ruang untuk bersuara. Mereka punya lingkungan akademik, organisasi, forum diskusi, dan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai gagasan. Namun, bukan berarti mahasiswa harus memikul seluruh pekerjaan politik masyarakat.
Saya justru melihat narasi “agen perubahan” perlu ditempatkan secara proporsional. Mahasiswa bisa menjadi pemantik, pengingat, atau salah satu kekuatan yang mendorong perubahan. Tetapi setelah itu, perubahan membutuhkan kekuatan yang lebih besar.
Selain itu, mahasiswa juga punya keterbatasan. Mereka masih harus membagi waktu dengan kuliah, tugas, organisasi, dan kehidupan pribadi. Banyak yang masih bergantung pada keluarga dan belum memiliki kekuatan politik yang besar.
Oleh karena itu, menjadikan mahasiswa sebagai tumpuan utama perubahan tanpa melibatkan masyarakat secara luas bisa membuat gerakan cepat lelah dan kehilangan daya.
Jangan Jadikan Demo sebagai Jasa yang Dipesan Rakyat
Ada sesuatu yang menurut saya cukup ironis dalam cara masyarakat melihat demonstrasi mahasiswa. Ketika ada kebijakan yang dianggap merugikan, keberadaan mahasiswa di jalan sering kali diharapkan untuk menyuarakan keresahan yang dirasakan banyak orang. Seakan-akan demonstrasi adalah sebuah layanan yang bisa dipesan.
Tetapi ketika aksi itu mengganggu kenyamanan, narasinya bisa berubah menjadi keluhan tentang jalanan yang macet, aktivitas yang terganggu, atau demonstrasi yang dianggap tidak ada gunanya.
Demonstrasi bukan berarti besoknya pemerintah langsung mengubah kebijakan. Ada proses panjang yang harus dilewati, dan aksi di jalan hanyalah salah satu cara untuk memberi tekanan.
Sekilas memang wajar kalau gerakan mahasiswa dikritik karena dianggap terlalu sibuk merespons satu isu ke isu lain tanpa memikirkan langkah berikutnya. Tapi rasanya aneh kalau kritik itu hanya diarahkan kepada mahasiswa. Masyarakat yang merasa punya kepentingan terhadap isu tersebut juga seharusnya ikut mengambil bagian.
Perubahan Butuh Rakyat yang Bergerak
Kalau kita sepakat bahwa yang perlu dibenahi adalah sistemnya, maka mahasiswa saja jelas tidak akan cukup. Sistem yang bermasalah juga ikut menentukan hidup banyak orang di luar kampus. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang-orang yang merasakan dampaknya ikut mengambil bagian, bukan terus menyerahkan urusan perubahan kepada mahasiswa.
Kelas pekerja, pedagang, petani, nelayan, guru, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya juga punya kepentingan yang sama terhadap banyak masalah politik dan ekonomi. Mereka merasakan langsung dampak dari kebijakan yang dibuat. Kalau semua kelompok ini ikut menyuarakan kepentingannya dan bergerak bersama, daya dorongnya tentu jauh lebih besar daripada jika perubahan hanya diserahkan kepada mahasiswa.
Saya paham, tidak semua orang punya kesempatan untuk turun ke jalan. Hanya saja, ikut bergerak tidak selalu berarti hadir dalam demonstrasi. Menyuarakan sikap, berdiskusi, mengedukasi orang sekitar, menyebarkan informasi yang benar, hingga menggunakan hak politik juga merupakan bentuk keterlibatan.
Masyarakat tidak seharusnya terus menjadikan mahasiswa sebagai perwakilan untuk menyuarakan keresahan bersama. Kalau aksi mereka dianggap gagal, jangan buru-buru mencari kekurangannya. Coba tengok juga ke diri sendiri, selama ini kita sudah ikut melakukan apa?
Baca Juga
-
Ulasan Psychopath Diary: Ketika Psikopat Palsu Bertemu Pembunuh Asli
-
Lowongan Minta Paket Lengkap, Gaji Paket Hemat: Ada Apa dengan Pasar Kerja?
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
Artikel Terkait
Kolom
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Bukan Cuma Dua Musim, Laboratorium Sedusun Bongkar Mitos lewat Kearifan Gunungkidul
-
Ketika AI Jadi Jalan Pintas, Buku Makin Ditinggalkan
Terkini
-
Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
-
Sinopsis Life Trade, Drama Jepang Dibintangi Baba Fumika dan Maki Yoko
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri