Status pernikahan seharusnya tidak menentukan kemampuan seseorang dalam bekerja. Namun, bagi sebagian pencari kerja, menikah justru bisa menjadi alasan untuk kehilangan kesempatan. Pengalaman kerja, pendidikan, dan skill yang sesuai dengan posisi seolah menjadi sia-sia setelah perusahaan mengetahui kandidat sudah menikah.
Fenomena ini menunjukkan adanya bias dalam rekrutmen yang masih melihat status pernikahan sebagai pertimbangan penting. Kandidat yang sudah menikah kerap dianggap kurang fleksibel terhadap waktu, lebih banyak memiliki urusan keluarga, atau berpotensi tidak bertahan lama di perusahaan.
Padahal, menikah tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan profesionalitas atau komitmen terhadap pekerjaannya. Jika kompetensi dan pengalaman tetap menjadi dasar utama dalam rekrutmen, mengapa status pernikahan masih bisa memengaruhi peluang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan?
Menikah Bukan Berarti Kehilangan Ambisi untuk Bekerja
Saya sering mendengar anggapan bahwa setelah menikah, prioritas seseorang otomatis berubah. Pekerjaan dianggap tidak lagi menjadi hal utama karena ada pasangan atau anak yang perlu diurus. Asumsi seperti ini membuat kandidat yang sudah menikah seolah membawa beban tambahan yang tidak dimiliki pekerja lajang.
Padahal, menikah tidak serta-merta mengubah cara seseorang bekerja. Banyak orang yang justru semakin serius membangun karier setelah menikah karena memiliki kebutuhan dan tujuan hidup yang semakin jelas. Ada pula yang sejak awal memang sudah punya komitmen untuk tetap bekerja setelah berkeluarga.
Terlebih lagi, asumsi tentang pekerja menikah sering muncul sebelum perusahaan benar-benar mengenal kandidat. Baru mengetahui status pernikahan saja sudah cukup untuk mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi.
Perempuan Menikah Selalu Punya Risiko di Dunia Kerja
Masalah ini terasa lebih berat bagi perempuan. Status menikah sering dianggap sebagai awal dari berbagai kemungkinan lain, yaitu hamil, melahirkan, punya anak, lalu mengambil cuti panjang.
Perempuan sering kali harus berhadapan dengan penilaian yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan kerja. Status menikah bisa memunculkan pertanyaan tentang kehamilan dan anak, sementara keputusan untuk memiliki keluarga dianggap sebagai potensi gangguan bagi karier.
Ironisnya, perusahaan juga tidak mungkin selamanya diisi oleh pekerja yang lajang. Orang menikah, punya anak, lalu tetap bekerja adalah hal yang sangat biasa. Jadi, mengapa status yang begitu umum dalam kehidupan pekerja malah dianggap sebagai kekurangan ketika seseorang sedang melamar pekerjaan?
Kalau Kinerja Bisa Dinilai, Mengapa Status Harus Dipermasalahkan?
Perusahaan sebenarnya punya banyak cara untuk menilai apakah seseorang layak diterima. Ada pengalaman kerja, portofolio, kemampuan teknis, cara menyelesaikan masalah, sampai performa selama proses interview. Kalau posisi tersebut memang membutuhkan fleksibilitas tertentu, hal itu juga bisa ditanyakan secara langsung kepada kandidat.
Tapi, kenyataannya, status menikah menjadi semacam jalan pintas bagi perusahaan untuk menilai kandidat. Belum bekerja saja sudah dianggap punya keterbatasan tertentu karena diasumsikan memiliki lebih banyak urusan keluarga.
Perusahaan tentu punya hak untuk mempertimbangkan kebutuhan operasional. Namun, kebutuhan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membuat asumsi tentang seseorang hanya karena status pernikahannya.
Saya juga merasa ada standar ganda di sini. Kandidat diminta profesional, tetapi perusahaan justru membawa kehidupan personalnya ke dalam penilaian profesional. Mereka ingin pekerja yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan, tetapi status keluarga pekerja malah dijadikan indikator apakah ia mampu bertanggung jawab atau tidak.
Menikah bukan penyakit yang membuat kompetensi seseorang menurun. Namun, entah bagaimana, status tersebut masih bisa membuat CV terlihat kurang menarik di mata sebagian perusahaan.
Baca Juga
-
Ulasan Psychopath Diary: Ketika Psikopat Palsu Bertemu Pembunuh Asli
-
Lowongan Minta Paket Lengkap, Gaji Paket Hemat: Ada Apa dengan Pasar Kerja?
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
Artikel Terkait
-
Pengusaha Minta Buruh Kerja 45 Jam, Airlangga: Ikut Regulasi Saja
-
Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru
-
Dear Fresh Graduate: Ditolak Pekerjaan Itu Tak Berarti Ditolak Kehidupan
-
Panja Komisi IX Rampungkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Draf Akhir 23 Bab 313 Pasal
-
TKW Mencari Surga: Potret Kehidupan Tenaga Kerja Wanita yang Tak Banyak Diketahui Orang
Kolom
-
Ilusi Kekayaan Individual: Saatnya Literasi Finansial Jadi Gerakan Warga
-
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
-
Televisi Canggih Jadi Pajangan, ke Mana Prioritas Anggaran Pendidikan?
-
Menduniakan Batik atau Merusak Bumi? Sisi Gelap Industri yang Jarang Dibahas
-
Saat Minta Maaf Diremehkan: Bahaya Emotional Invalidation dalam Pertemanan
Terkini
-
Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini
-
Ulasan Film Sunshine, Bedah Isu Aborsi dan Kriminalisasi Reproduksi
-
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, John Herdman Keluar dari Bayang-bayang STY?
-
Novel Dilizzy: Ketika Cinta, Luka dan Mimpi Terbentur Kasta serta Restu
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar