M. Reza Sulaiman | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi kartu ATM (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Kasus pemblokiran dana donasi aksi yang tersimpan di Bank Mandiri milik koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, tengah menjadi sorotan di media sosial. Dana sekitar Rp80,9 juta tersebut disebut berasal dari uang pribadi Supriyono dan donasi publik yang disiapkan untuk kebutuhan logistik, konsumsi, hingga akomodasi massa aksi.

Pihak Bank Mandiri menjelaskan bahwa pemblokiran tersebut dilakukan berdasarkan permintaan aparat penegak hukum, bukan atas keputusan internal bank. Meski demikian, keterangan itu belum sepenuhnya menjelaskan dasar hukum, alasan, serta konteks yang melatarbelakangi pembekuan rekening tersebut.

Perdebatan pun bergeser dari soal pemblokiran rekening menuju masalah demokrasi. Jika dana operasional aksi dapat dihentikan melalui proses hukum, apakah langkah tersebut masih sebatas penegakan hukum atau turut membatasi kebebasan warga?

Rekening dan Hak atas Akses Finansial

Di tengah kehidupan yang serba digital, rekening bukan lagi sekadar tempat menyimpan uang. Ia menjadi sarana untuk menerima penghasilan, melakukan transaksi, mengirim bantuan, sampai mengorganisasi kegiatan bersama.

Hal ini terasa lebih penting dalam konteks aksi publik. Uang donasi yang terkumpul dipakai untuk memenuhi berbagai kebutuhan peserta aksi, seperti makanan, transportasi, dan perlengkapan lainnya. Oleh karena itu, pemblokiran dana tidak hanya membuat pemilik rekening kehilangan akses terhadap uang, tetapi juga bisa menghambat kegiatan yang bergantung pada dana tersebut.

Oleh karena itu, pemblokiran rekening layak dilihat dengan lebih hati-hati. Penegakan hukum tentu membutuhkan kewenangan untuk mencegah dana digunakan dalam aktivitas yang melanggar hukum.

Namun, kewenangan tersebut juga perlu memiliki batas yang jelas agar rekening warga tidak berubah menjadi ruang yang bisa dibatasi tanpa penjelasan memadai.

Kalau dilihat lebih jauh, kasus ini bisa mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank yang ikut dipertaruhkan. Wajar kalau publik kemudian meminta penjelasan yang lebih jelas mengenai pemblokiran tersebut.

Kepatuhan Bank Perlu Disertai Transparansi

Saya melihat Bank Mandiri memang berada dalam posisi yang serba salah. Sebagai lembaga perbankan, bank memiliki kewajiban untuk mematuhi ketentuan hukum dan menindaklanjuti permintaan pihak yang memang memiliki kewenangan.

Mengatakan bahwa bank hanya menjalankan permintaan aparat rasanya belum cukup. Masyarakat juga perlu tahu apa dasar pemblokirannya, bagaimana prosedurnya, dan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Di sinilah transparansi menjadi penting, terutama karena yang dibatasi adalah akses nasabah terhadap uangnya sendiri.

Saya kira, kepatuhan tidak seharusnya dipahami sebagai tindakan mengikuti perintah tanpa perlu mempertanyakan dampaknya. Bank memiliki hubungan langsung dengan nasabah dan memegang kepercayaan masyarakat untuk mengelola uang mereka.

Oleh karena itu, kepatuhan terhadap aparat perlu berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian dan perlindungan terhadap hak nasabah.

Apalagi dalam kasus yang berkaitan dengan dana donasi, kasusnya jadi lebih rumit. Ada uang yang dikumpulkan secara sukarela oleh banyak orang dan digunakan untuk kepentingan bersama. Semakin luas dampak sebuah pemblokiran, semakin penting pula kejelasan mengenai alasan dan mekanisme yang digunakan.

Pemblokiran Rekening Menyentuh Ruang Demokrasi

Ada alasan kenapa kasus ini ramai dibicarakan di media sosial. Bagi banyak orang, pemblokiran dana aksi tidak lagi terasa seperti urusan antara nasabah dan bank. Ada kekhawatiran bahwa akses terhadap uang juga bisa ikut menentukan apakah warga punya ruang untuk berkumpul, menggalang dukungan, dan menyampaikan kritik bersama-sama.

Padahal, demokrasi tidak cuma soal datang ke TPS lalu mencoblos. Warga juga punya cara lain untuk menyampaikan sikap, salah satunya lewat aksi di jalan. Ada yang ikut turun langsung, ada yang membantu lewat donasi, ada pula yang menyediakan makanan atau kebutuhan lain. Semua bentuk dukungan itu menjadi bagian dari bagaimana masyarakat ikut bersuara.

Kalau memang ada pelanggaran hukum, negara punya hak untuk mengambil tindakan. Tapi tindakan tersebut juga perlu punya batas yang jelas. Uang memang bisa dibekukan, tetapi ruang demokrasi seharusnya tidak ikut dibekukan.