Perang gerilya bukan hanya soal strategi, senjata, dan cara menghindari kejaran musuh. Bagi pasukan Jenderal Soedirman, bertahan hidup di tengah kepungan Belanda juga berarti bertahan dari rasa lapar dan keterbatasan logistik.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Jenderal Soedirman bersama pasukannya terdesak di kawasan hutan Kediri saat bergerilya. Situasi yang sulit karena menghindari pasukan Belanda, kondisi logistik mereka pun ikut menipis. Pasukan Jenderal Soedirman yang tengah berjuang pun mengalami kelelahan dan kelaparan.
Di tengah keadaan tersebut, ternyata bukan nasi putih seperti yang dibayangkan yang menolong, tetapi nasi oyek. Makanan olahan singkong ini ternyata banyak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar hutan Kediri, yang akhirnya sampai ke tangan mereka. Kisah ini menunjukkan bahwa dalam situasi perang, makanan bukan sekadar urusan mengisi perut. Sepiring oyek bisa menjadi bagian dari perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Lalu, apa itu nasi oyek? Dan bagaimana makanan sederhana ini bisa jadi bagian dari kisah perjuangan Jenderal Soedirman?
Apa Itu Nasi Oyek?
Nasi oyek merupakan olahan berbahan dasar singkong yang difermentasi. Nasi oyek jadi makanan pokok pengganti beras di beberapa wilayah di Jawa karena harga beras yang mahal dan sulit didapat. Singkong yang lebih murah dan jumlahnya yang lebih banyak, diolah oleh masyarakat setempat menjadi pangan lokal yang lebih mudah dijangkau.
Tentu saja, rasa nasi oyek berbeda dari nasi putih yang biasa kita konsumsi. Nasi oyek punya aroma khas dari hasil fermentasi dan rasanya lebih tawar. Teksturnya juga lebih kasar dan berserat. Meski begitu, ternyata nasi oyek punya indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih biasa, loh. Artinya, olahan singkong ini cocok untuk program diet dan lebih aman untuk penderita diabetes.
Bagaimana Cara Membuat Nasi Oyek?
Nasi oyek dibuat dari singkong yang melalui proses pengolahan cukup panjang. Nasi oyek diolah dari singkong yang telah dikupas bersih lalu direndam selama 3 hari. Setelah 3 hari, singkong dijemur hingga kering menjadi gaplek. Setelah itu, gaplek dihaluskan hingga berbentuk tepung. Sebelum dikukus, tepung gaplek ditambahkan sedikit air sampai teksturnya berpasir. Setelah itu, kukus hingga matang dan lunak.
Proses pengolahan ini juga membuat singkong lebih awet dibandingkan jika dikonsumsi dalam kondisi segar. Karena itu, oyek dapat menjadi salah satu cara masyarakat mengolah dan menyimpan singkong sebagai persediaan pangan.
Kisah Nasi Oyek dan Gerilya Jenderal Soedirman
Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948 membuat situasi Indonesia semakin genting. Jenderal Soedirman pun semakin giat bergerilya. Perjalanan ini yang membuat pasukan Jenderal Soedirman mau tak mau keluar masuk hutan.
Ketika berada di sekitar Kediri, rombongan Soedirman terdesak masuk ke hutan rotan untuk menghindari kepungan pasukan Belanda. Kondisi mereka semakin berat karena logistik tidak lagi mencukupi. Berhari-hari di dalam hutan, pasukan mulai mengalami kelelahan dan kelaparan yang luar biasa.
Dalam keadaan tersebut, Kapten Soepardjo Rustam, Ajudan I Soedirman, ditugaskan menembus barikade Belanda menuju desa terdekat. Ia membawa sarung dan baju bekas untuk ditukar dengan makanan. Misi ini dilakukan sendirian karena rombongan membutuhkan makanan, sementara kawasan sekitar masih berada dalam pengawasan Belanda. Setelah beberapa saat, Soepardjo membawa makanan yang ia peroleh dari desa sekitar. Makanan inilah nasi oyek yang kemudian dinikmati oleh pasukan Jenderal Soedirman. Ia menjelaskan bahwa masyarakat sekitar tidak mengonsumsi nasi putih melainkan nasi oyek ini.
Masih Eksis Hingga Kini
Hingga kini, eksistensi nasi oyek masih cukup populer di beberapa wilayah Jawa, seperti Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan sekitarnya. Namun, nasi oyek kini tak lagi dikonsumsi sebagai makanan pokok utama karena beras yang sudah cukup mudah didapat. Meski begitu, nasi oyek tak ditinggalkan dan tetap dikonsumsi secara terbatas untuk menu sehat serta warisan pangan tradisional.
Nasi oyek tak hanya menjadi alternatif bahan pangan saat beras sulit diperoleh, tetapi juga menjadi penolong pasukan gerilya pejuang Indonesia yang tengah kelaparan. Olahan singkong ini lahir dari keinginan masyarakat sekitar mempertahankan ketahanan pangan dengan bahan lokal yang ternyata malah menyimpan cerita sejarah yang indah untuk dikenang. Sudah pernah coba nasi oyek?
Baca Juga
-
The Island of the Blue Dolphins: 18 Tahun Sendirian di Pulau Terpencil?
-
Le Petit Prince, Buku Anak yang Diam-Diam 'Menampar' Orang Dewasa
-
Metamorfosis: Menilik Proses Gregor Samsa 'Menghilang' dari Dunia
-
5 Bahan Makanan yang Beracun Jika Tidak Diolah Benar, Termasuk Kimpul?
-
Mengulas Bridge to Terabithia, Novel yang Ajarkan Anak tentang Kehilangan
Artikel Terkait
-
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru, Rektor Unsoed Ahmad Sodiq Ditahan KPK
-
Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?
-
Lebih Dari Sekadar Rasa, CommuniTaste 2026 Buktikan Makanan Adalah Media Komunikasi Budaya
Ulasan
-
The Library in the Woods, Ketika Buku Menjadi Jalan untuk Memahami Sejarah
-
Ulasan Hidayah: Film Horor Mencekam tentang Tobat dan Pengampunan Tuhan
-
Berasa Liburan ke Italia! Review Novel ROMA: Con Amore Karya Robin Wijaya
-
Review Drama Marriage Contract, Pengorbanan Seorang Ibu Untuk Putrinya
-
Review Film Mantis: Saat Ambisi Berubah Jadi Pertarungan Hidup dan Mati
Terkini
-
Sering Lapar Padahal Baru Sarapan? Waspada Efek Roller Coaster Gula Darah
-
Manga Boruto Hiatus 1 Bulan, Chapter 37 Kembali pada September 2026
-
Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
-
HP Makin Awet, Mengapa Sebagian Orang Masih Tak Bisa Lepas dari Power Bank?
-
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif