Ada satu standar hidup dulu terasa begitu normal: usia 25 harus sudah punya pekerjaan bagus, penghasilan stabil, pasangan, tabungan, bahkan kalau bisa rumah sendiri. Namun, kini Gen Z mulai mempertanyakan standar “punya segalanya di usia 25”.
Seolah-olah usia 25 adalah batas waktu untuk membuktikan kalau seseorang sudah berhasil menjadi orang dewasa. Bagi generasi muda era modern, hidup tidak lagi harus mengikuti timeline sukses, karier, finansial, dan hubungan.
Standar mulai dipertanyakan dan anak muda mulai memiliki pemikiran yang berbeda. Menurut saya, perubahan cara pandang ini bukan berarti tidak ada ambisi. Justru, Gen Z mulai menyadari kalau hidup yang baik tidak harus dibangun dengan terburu-buru.
Usia 25 Bukan Deadline Kehidupan
Angka 25 sering dianggap sebagai usia yang “cukup dewasa” untuk memiliki berbagai pencapaian. Masalahnya, setiap orang memulai perjalanan dari kondisi yang berbeda. Menyamakan semuanya dengan satu standar usia tentu tidak sepenuhnya adil.
Ada yang mendapatkan dukungan keluarga. Ada yang harus membiayai pendidikan sendiri. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ada pula yang membutuhkan waktu untuk menemukan bidang yang sesuai.
Menurut saya, usia 25 seharusnya bukan deadline, melainkan salah satu fase ketika seseorang masih memiliki banyak ruang untuk mencoba dan menentukan arah. Belum memiliki semuanya di usia 25 bukan berarti gagal.
Gen Z Mulai Mempertanyakan Arti “Sukses”
Dulu, sukses sering dikaitkan dengan pekerjaan tetap, jabatan tinggi, rumah, kendaraan, dan kehidupan keluarga. Sekarang, definisinya semakin beragam, bahkan di kalangan Gen Z sendiri.
Bagi sebagian Gen Z, sukses mungkin berarti punya pekerjaan yang tidak membuat hidup terasa sepenuhnya habis untuk bekerja. Bagi yang lain, sukses berarti memiliki kondisi finansial yang cukup untuk hidup dengan tenang.
Ada pula yang memilih membangun karier secara perlahan alih-alih mengejar jabatan secepat mungkin. Perubahan ini menunjukkan bahwa sukses mulai bergeser dari sesuatu yang terlihat menjadi sesuatu yang dirasakan.
Media Sosial Membuat Timeline Terasa Semakin Cepat
Ironisnya, media sosial juga menjadi salah satu penyebab mengapa standar “harus punya segalanya di usia 25” begitu kuat. Setiap hari kita melihat anak muda mampu membeli rumah, punya pekerjaan impian, menikah, membuka bisnis, atau bepergian ke berbagai tempat.
Akhirnya muncul perasaan tertinggal. Padahal, yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka dan tidak tahu berapa lama prosesnya, dukungan apa yang dimiliki, atau masalah apa yang tidak ditampilkan.
Karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara langsung melalui media sosial sebenarnya tidak pernah benar-benar setara. Timeline mungkin terasa cepat, padahal kecepatan setiap orang berbeda satu dengan lainnya.
Tidak Terburu-buru Bukan Berarti Tidak Punya Rencana
Namun, menurut saya, ada satu hal yang perlu dibedakan. Tidak ingin terburu-buru bukan berarti tidak memiliki tujuan. Bukankah kita tetap perlu memikirkan pendidikan, pekerjaan, keuangan, dan masa depan?
Hanya saja, tujuan tersebut tidak harus dicapai dengan kecepatan yang sama seperti orang lain. Ada perbedaan antara santai karena memiliki rencana dengan menunda tanpa arah. Semua bergantung cara kita menentukan kapan setiap rencana harus tercapai.
Memilih Jalan Sendiri Juga Butuh Keberanian
Ada kalanya tekanan terbesar bukan berasal dari media sosial, tapi dari lingkungan sekitar. Pertanyaan seperti “Kapan menikah?”, “Kapan punya rumah?”, atau “Kapan punya pekerjaan tetap?” membuat anak muda merasa harus segera mengejar sesuatu.
Padahal, kehidupan bukan daftar tugas yang harus diselesaikan berdasarkan usia. Berani mengatakan “Saya belum siap” atau “Saya ingin menjalani ini lebih dulu” juga membutuhkan keberanian.
Kita memang tidak harus menolak semua ekspektasi orang lain. Hanya saja, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk menentukan mana yang memang sesuai dengan kehidupan kita dan mana yang sebaiknya ditunda atau diabaikan dulu.
Hidup Bukan Perlombaan Menuju Usia 25
Mempertanyakan standar “punya segalanya di usia 25” bukan berarti Gen Z kehilangan semangat untuk maju. Justru, pertanyaan ini bisa menjadi kesempatan untuk mendefinisikan kembali apa yang ingin kita kejar.
Sebab, jika terus mengejar pencapaian hanya karena takut tertinggal, kita mungkin mendapatkan banyak hal tapi tidak benar-benar menikmati prosesnya. Hidup itu bukan perlombaan untuk memiliki segalanya sebelum usia 25.
Memang tidak ada yang salah dengan memiliki rumah di usia 25, menikah di usia 25, atau sukses secara finansial di usia tersebut. Namun, tidak ada pula yang salah jika seseorang belum mencapainya.
Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai. Yang lebih penting adalah apakah tujuan tersebut memang kita inginkan. Hidup adalah perjalanan untuk menemukan apa yang benar-benar berarti bagi diri sendiri sesuai waktunya masing-masing.
Baca Juga
-
Jeda dari Lifestyle Inflation: Tidak Semua Tren Harus Dikejar Demi Gengsi
-
Quiet Quitting pada Gen Z: Malas Bekerja atau Butuh Jeda Akibat Burnout?
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri
-
Jeda dari Timeline Kehidupan: Tidak Semua Orang Harus Sukses di Usia Sama
-
Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata
Artikel Terkait
-
Wamensos Agus Jabo Tegaskan Akurasi Dapodik Jadi Kunci Sukses Sekolah Rakyat
-
Jeda dari Timeline Kehidupan: Tidak Semua Orang Harus Sukses di Usia Sama
-
Urutan Zodiak Paling Berpotensi Jadi Miliarder dan Sukses di Usia Muda
-
3 Zodiak Ini Diprediksi Sukses Secara Finansial Sepanjang Oktober 2026
-
Sang Pemenang Berdiri Sendirian: Ketika Kesuksesan Berujung pada Kehampaan
Kolom
-
Guru Dituntut Mengurus Segalanya, Kapan Bisa Fokus Mengajar?
-
Belum 2040, Krisis Air Sudah Terasa: El Nino Ekstrem Tanda Peringatan Dini
-
Revisi UU Kehutanan Sekadar Tambal Sulam: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi?
-
Efisiensi Anggaran Kesehatan Jangan Membuat Pasien BPJS Kehilangan Obat
-
Karhutla Membara, Komunikasi Krisis Para Gubernur Dipertanyakan
Terkini
-
Kisah Fangirl Terjebak Cinta Segitiga di Drakor My Bias, My Boss
-
ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC
-
Call of Duty: Modern Warfare 4 Siapkan DMZ yang Jauh Lebih Ambisius
-
Audisi Global Live Action Naruto Dibuka, Sutradara Ungkap Alasan Adaptasi
-
Auto Glowing! 5 Brightening Gel Cleanser Niacinamide Hempas Kulit Kusam