Kolom

Krisis Usia 25: Lepas dari Jebakan Timeline Media Sosial dan Temukan Rute Sendiri

Krisis Usia 25: Lepas dari Jebakan Timeline Media Sosial dan Temukan Rute Sendiri
ilustrasi sukses di usia muda (Pexels/Gustavo Fring)

Ada satu standar hidup dulu terasa begitu normal: usia 25 harus sudah punya pekerjaan bagus, penghasilan stabil, pasangan, tabungan, bahkan kalau bisa rumah sendiri. Namun, kini Gen Z mulai mempertanyakan standar “punya segalanya di usia 25”.

Seolah-olah usia 25 adalah batas waktu untuk membuktikan kalau seseorang sudah berhasil menjadi orang dewasa. Bagi generasi muda era modern, hidup tidak lagi harus mengikuti timeline sukses, karier, finansial, dan hubungan.

Standar mulai dipertanyakan dan anak muda mulai memiliki pemikiran yang berbeda. Menurut saya, perubahan cara pandang ini bukan berarti tidak ada ambisi. Justru, Gen Z mulai menyadari kalau hidup yang baik tidak harus dibangun dengan terburu-buru.

Usia 25 Bukan Deadline Kehidupan

Angka 25 sering dianggap sebagai usia yang “cukup dewasa” untuk memiliki berbagai pencapaian. Masalahnya, setiap orang memulai perjalanan dari kondisi yang berbeda. Menyamakan semuanya dengan satu standar usia tentu tidak sepenuhnya adil.

Ada yang mendapatkan dukungan keluarga. Ada yang harus membiayai pendidikan sendiri. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ada pula yang membutuhkan waktu untuk menemukan bidang yang sesuai.

Menurut saya, usia 25 seharusnya bukan deadline, melainkan salah satu fase ketika seseorang masih memiliki banyak ruang untuk mencoba dan menentukan arah. Belum memiliki semuanya di usia 25 bukan berarti gagal.

Gen Z Mulai Mempertanyakan Arti “Sukses”

Dulu, sukses sering dikaitkan dengan pekerjaan tetap, jabatan tinggi, rumah, kendaraan, dan kehidupan keluarga. Sekarang, definisinya semakin beragam, bahkan di kalangan Gen Z sendiri.

Bagi sebagian Gen Z, sukses mungkin berarti punya pekerjaan yang tidak membuat hidup terasa sepenuhnya habis untuk bekerja. Bagi yang lain, sukses berarti memiliki kondisi finansial yang cukup untuk hidup dengan tenang.

Ada pula yang memilih membangun karier secara perlahan alih-alih mengejar jabatan secepat mungkin. Perubahan ini menunjukkan bahwa sukses mulai bergeser dari sesuatu yang terlihat menjadi sesuatu yang dirasakan.

Media Sosial Membuat Timeline Terasa Semakin Cepat

Ironisnya, media sosial juga menjadi salah satu penyebab mengapa standar “harus punya segalanya di usia 25” begitu kuat. Setiap hari kita melihat anak muda mampu membeli rumah, punya pekerjaan impian, menikah, membuka bisnis, atau bepergian ke berbagai tempat.

Akhirnya muncul perasaan tertinggal. Padahal, yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka dan tidak tahu berapa lama prosesnya, dukungan apa yang dimiliki, atau masalah apa yang tidak ditampilkan.

Karena itu, membandingkan perjalanan hidup secara langsung melalui media sosial sebenarnya tidak pernah benar-benar setara. Timeline mungkin terasa cepat, padahal kecepatan setiap orang berbeda satu dengan lainnya.

Tidak Terburu-buru Bukan Berarti Tidak Punya Rencana

Namun, menurut saya, ada satu hal yang perlu dibedakan. Tidak ingin terburu-buru bukan berarti tidak memiliki tujuan. Bukankah kita tetap perlu memikirkan pendidikan, pekerjaan, keuangan, dan masa depan?

Hanya saja, tujuan tersebut tidak harus dicapai dengan kecepatan yang sama seperti orang lain. Ada perbedaan antara santai karena memiliki rencana dengan menunda tanpa arah. Semua bergantung cara kita menentukan kapan setiap rencana harus tercapai.

Memilih Jalan Sendiri Juga Butuh Keberanian

Ada kalanya tekanan terbesar bukan berasal dari media sosial, tapi dari lingkungan sekitar. Pertanyaan seperti “Kapan menikah?”, “Kapan punya rumah?”, atau “Kapan punya pekerjaan tetap?” membuat anak muda merasa harus segera mengejar sesuatu.

Padahal, kehidupan bukan daftar tugas yang harus diselesaikan berdasarkan usia. Berani mengatakan “Saya belum siap” atau “Saya ingin menjalani ini lebih dulu” juga membutuhkan keberanian.

Kita memang tidak harus menolak semua ekspektasi orang lain. Hanya saja, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk menentukan mana yang memang sesuai dengan kehidupan kita dan mana yang sebaiknya ditunda atau diabaikan dulu.

Hidup Bukan Perlombaan Menuju Usia 25

Mempertanyakan standar “punya segalanya di usia 25” bukan berarti Gen Z kehilangan semangat untuk maju. Justru, pertanyaan ini bisa menjadi kesempatan untuk mendefinisikan kembali apa yang ingin kita kejar.

Sebab, jika terus mengejar pencapaian hanya karena takut tertinggal, kita mungkin mendapatkan banyak hal tapi tidak benar-benar menikmati prosesnya. Hidup itu bukan perlombaan untuk memiliki segalanya sebelum usia 25.

Memang tidak ada yang salah dengan memiliki rumah di usia 25, menikah di usia 25, atau sukses secara finansial di usia tersebut. Namun, tidak ada pula yang salah jika seseorang belum mencapainya.

Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai. Yang lebih penting adalah apakah tujuan tersebut memang kita inginkan. Hidup adalah perjalanan untuk menemukan apa yang benar-benar berarti bagi diri sendiri sesuai waktunya masing-masing.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda