"Rajin pangkal pandai.", "Hemat pangkal kaya.", "Nikah aja dulu, nanti rezeki ada yang ngatur."
Familiar dengan kalimat-kalimat di atas, Sobat Yoursay?
Iya, itu adalah kata-kata mutiara andalan para orang tua untuk menasihati anak-anaknya. Jadi, saat mendengar kalimat itu, rasanya sudah sangat akrab sekali di telinga kita. Sejujurnya, nggak ada yang salah dari nasihat-nasihat pepatah tersebut. Namun, perkembangan zaman dan perubahan realitas kehidupan yang begitu cepat, sepertinya ikut mengubah cara Gen Z memaknainya.
Baru-baru ini, di media sosial saya menemukan beberapa konten yang cukup menarik berisi bantahan Gen Z terhadap ungkapan pepatah lama. Menariknya, jawaban yang terkesan receh dan random itu tidak lahir tanpa alasan. Banyak di antaranya yang bisa jadi memang benar-benar berdasarkan realitas hidup yang mereka jalani saat ini.
Masuk ke pepatah pertama. Dulu kita sering mendengar kalimat "jangan bangun siang, nanti rezekinya dipatuk ayam." Nggak ada yang salah dari nasihat itu. Bahkan bagi umat muslim, bangun subuh hari memang sudah seharusnya dilakukan, sebab ada kewajiban untuk beribadah. Setelah itu, biasanya orang-orang sudah mulai beraktivitas.
Namun, nasihat itu kini dibantah dengan kalimat lain, seperti: "ayamnya aku geprek." Ini mungkin terdengar seperti lelucon biasa, tapi jika kita ingat lagi, sekarang Gen Z memang sering makan ayam geprek 'kan? Haha.
Bantahan yang lebih serius juga ada: "Aku kerjanya malam," yang menunjukkan perbedaan pola kerja anak muda sekarang dengan generasi sebelumnya. Jika dulu orang bekerja harus berangkat ke kantor pagi-pagi dan pulang sore atau malam hari, kini ada sebagian anak muda yang punya jam kerja lebih fleksibel. Seiring berkembangnya teknologi, kita juga mengenal lebih banyak pekerjaan yang tidak harus dilakukan dari kantor dan bisa dilakukan kapanpun, selagi tak melebihi batas waktu yang ditentukan klien atau pihak lain yang memberi pekerjaan. Perbedaan inilah yang mungkin turut mempengaruhi cara pandang Gen Z tentang nasihat "bangun pagi" yang saya sebutkan sebelumnya.
Ungkapan berikutnya yang dibantah adalah kalimat "rajin pangkal pandai." Nasihat ini sering terdengar ketika saya masih sekolah dulu. Saya akui, rajin belajar memang bisa membuat seseorang menjadi lebih pintar dan kritis.
Namun, jika nasihat ini dibawa ke dunia kerja, maknanya bisa sedikit bergeser. Celah inilah yang kemudian melahirkan jawaban para Gen Z terhadap pepatah ini: "kalau terlalu rajin nanti malah dimanfaatin." Logika ini cukup bisa dimengerti mengingat tidak semua orang memiliki pengalaman yang baik di tempat kerjanya. Ada yang berusaha bekerja keras, tapi semakin ia terlihat rajin malah semakin sering diberi pekerjaan di luar tanggung jawabnya tanpa tambahan penghasilan.
Memang nggak ada yang salah dengan sikap kerja keras dan rajin yang kita lakukan saat bekerja. Namun, ketika hal itu tidak benar-benar dihargai secara adil, bisa muncul pikiran bahwa kerja keras hanya membuatnya dimanfaatkan dan dibebani lebih banyak tugas yang seharusnya jadi tanggung jawab orang lain.
Selanjutnya ungkapan "hemat pangkal kaya," dipatahkan Gen Z dengan realitas ekonomi yang agak-agak nyelekit, ya, Sobat Yoursay. Kata mereka "kalau uangnya emang sedikit, mau dihemat pun, ya, nggak kaya-kaya." Jujur, ini relate banget, sih. In this economy, semuanya serba mahal, sementara gaji tetap segitu-gitu aja. Hidup hemat memang penting, tapi tidak lantas menjadi satu-satunya cara jadi orang kaya. Selain itu, kemampuan seseorang untuk menabung juga dipengaruhi banyak hal, mulai dari pendapatan, kebutuhan sehari-hari, hingga gaya hidup yang mereka terapkan. Jadi bisa dikatakan, jawaban tersebut muncul bukan karena ungkapannya yang keliru, tetapi memang kondisi ekonomi hari ini yang jauh lebih kompleks.
Kemudian apa Sobat Yoursay familiar dengan kalimat "kalau orang lain bisa, kamu harus bisa"?
Ungkapan yang terasa seperti sebuah motivasi. Namun, sekaligus dekat dengan kebiasaan membandingkan pencapaian orang lain dengan diri sendiri. Perbandingan semacam ini alih-alih jadi dorongan positif, terkadang justru malah menciptakan tekanan yang membuat seseorang merasa dituntut mengikuti standar orang lain. Padahal, setiap orang memiliki ritme hidup masing-masing. Dan keberhasilan seseorang tidak bisa otomatis menjadi standar yang harus kita ikuti. Mungkin karena itulah, nasihat itu lalu dibantah Gen Z dengan kalimat: "kalau orang lain bisa, yaudah congrats." atau "kalau orang lain bisa, kenapa aku?"
Yang terakhir ungkapan: “nikah aja dulu, nanti rezeki ada yang ngatur.” yang dipatahkan Gen Z dengan kalimat: "kamu aja dulu, aku mah gampang."
Sebenarnya nasihatnya nggak salah. Mungkin ada keyakinan yang terselip di kalimat itu bahwa Tuhan Maha Kaya dan rezeki kita sudah diatur oleh-Nya. Namun, sebagai manusia yang realitis-realistis aja, sebagian Gen Z tidak bisa menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang bisa "dijalani aja dulu". Melontarkan bantahan bukan berarti menolak pernikahan. Hanya saja, generasi sekarang ingin lebih mempertimbangkan kesiapan mental, finansial, hingga mematangkan tujuan hidupnya lebih dulu sebelum melangkah ke sana.
Secara keseluruhan, sebenarnya nilai dasar beberpa nasihat yang ada dalam ungkapan yang saya sebutkan di atas masih terasa relevan di masa sekarang. Namun, seiring waktu cara seseorang memahami dan menerapkannya bisa jadi berubah mengikuti perkembangan yang ada. Berbagai jawaban unik yang dilontarkan Gen Z untuk ungkapan itu pun lahir dari realitas yang mereka hadapi di masa sekarang. Yang artinya, tidak semua nasihat tersebut bisa diterapkan mentah-mentah di kehidupan anak muda saat ini.
Baca Juga
-
Dianggap Cacat, Jaksa di Bad Prosecutor Justru Melawan Penegak Hukum Korup
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Realita Perpisahan dalam Lagu Rutinitas yang Nggak Cuma Bikin Patah Hati
Artikel Terkait
Kolom
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
Terkini
-
Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer
-
Belajar Tidak Menilai Orang dari Luarnya lewat Novel Senior
-
Dianggap Cacat, Jaksa di Bad Prosecutor Justru Melawan Penegak Hukum Korup
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Bukan Kisah Menyeramkan, Ini Keunikan Persahabatan di Buku The Skeleton and the Cat