Nama sebuah program pemerintah bukan sekadar label. Nama membawa janji. Karena itu, ketika sebuah program disebut Makan Bergizi Gratis (MBG), apakah makanan yang diberikan kepada anak sekolah benar-benar bergizi dan aman? Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap program. Justru sebaliknya. Kalau negara ingin memberi makan anak-anak melalui program berskala besar, standar pertanggungjawabannya harus jauh lebih tinggi daripada sekadar memastikan makanan sampai di sekolah dan dibagikan kepada siswa. Sebab memberi makanan kepada anak bukan hanya persoalan kenyang.
Anak membutuhkan makanan yang memiliki komposisi gizi yang sesuai dengan kebutuhannya. Ada protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, serta jumlah dan kualitas makanan yang diperhitungkan. Menu juga seharusnya mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, keberagaman bahan pangan, keamanan pangan, hingga kondisi khusus seperti alergi atau pantangan tertentu.
Jadi, ukuran keberhasilan MBG seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa banyak porsi yang sudah dibagikan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang sebenarnya dimakan anak-anak itu?”
Program dengan jumlah penerima yang sangat besar tentu menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Makanan harus diproduksi dalam jumlah banyak, dikemas, disimpan, diangkut, kemudian dikonsumsi dalam kondisi yang tetap aman. Semakin panjang rantai distribusinya, semakin banyak pula titik yang harus diawasi.
Kesalahan kecil dalam satu dapur atau rantai distribusi dapat berdampak kepada banyak anak sekaligus.
Karena itu, keamanan pangan bukan aksesori dalam program MBG. Ia merupakan bagian inti dari program tersebut. Pemerintah perlu memastikan bahan baku layak, proses memasak memenuhi standar kebersihan, air yang digunakan aman, penyimpanan dilakukan pada kondisi yang tepat, serta makanan tidak melewati batas waktu aman untuk dikonsumsi.
Dan kalau terjadi masalah, pertanggungjawabannya harus jelas.
Jangan sampai ketika makanan bermasalah, publik hanya mendapatkan jawaban bahwa itu “insiden” atau “kelalaian oknum”. Program yang menggunakan anggaran negara dan menyangkut makanan anak harus memiliki sistem pengawasan yang membuat kesalahan bisa dilacak: siapa penyedianya, bagaimana bahan diperoleh, bagaimana makanan diproses, siapa yang memeriksa, dan mengapa makanan tersebut akhirnya sampai kepada anak.
Hal yang sama berlaku untuk kandungan gizinya. Kalau pemerintah mengatakan makanan itu bergizi, maka klaim tersebut semestinya bukan sekadar narasi. Harus ada standar yang dapat diperiksa, menu yang transparan, evaluasi kandungan gizi, dan mekanisme pengawasan yang memungkinkan publik mengetahui apakah standar tersebut benar-benar dipenuhi.
Ini penting karena makanan bergizi tidak ditentukan oleh penampilannya. Sepiring makanan bisa terlihat lengkap, tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan gizi anak. Sebaliknya, makanan sederhana pun dapat bernilai gizi baik jika komposisinya dirancang dengan tepat. Karena itu, keberhasilan program tidak seharusnya diukur hanya dari tampilan kotak makanan, jumlah menu, atau banyaknya penerima.
Ada pula persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan kualitas tetap konsisten ketika program diperluas?
Memperbanyak penerima memang bisa menjadi prestasi administratif. Tetapi ekspansi tidak boleh mengorbankan standar. Jangan sampai semakin besar cakupan program, semakin longgar pengawasannya.
Anak sekolah bukan tempat untuk menguji apakah sistem distribusi makanan nasional sudah siap atau belum. Kalau negara berani menamainya Makan Bergizi Gratis, negara juga harus berani mempertanggungjawabkan setiap kata dalam nama itu. Gratis berarti masyarakat tidak membayar langsung. Tetapi “bergizi” dan “aman” tetap merupakan kewajiban yang harus dibuktikan.
Ukuran keberhasilan MBG bukan sekadar berapa juta kotak makanan yang keluar dari dapur dan berapa banyak anak yang menerima. Ukuran keberhasilannya adalah apakah makanan itu benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak tanpa menghadirkan risiko baru.
Kalau namanya Makan Bergizi Gratis, maka gizinya harus bisa dibuktikan dan keamanannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Anak-anak tidak membutuhkan sekadar makanan gratis. Mereka membutuhkan makanan yang memang layak untuk mereka makan.
Baca Juga
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
The Atala: Ketika Sejarah Nusantara Sera Membawa Menembus Waktu
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya
Artikel Terkait
Kolom
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
Terkini
-
Catat Tanggalnya! NCT Wish Siap Merilis Album Terbaru 'I SPY' Oktober Depan
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur
-
Review Film Runner: Kisah Pengorbanan Mengharukan dalam Balutan Laga Modern