Setiap kali istilah megathrust muncul, reaksi masyarakat hampir selalu terbelah dua. Sebagian panik, membayangkan gempa raksasa dan tsunami datang dalam waktu dekat. Sebagian lainnya justru menganggap peringatan tersebut sebagai bentuk menakut-nakuti masyarakat. Keduanya sama-sama bermasalah. Sebab yang sedang dibicarakan para ilmuwan bukanlah ramalan bahwa besok, minggu depan, atau bulan depan Indonesia akan diguncang gempa besar. Yang dibicarakan adalah potensi bahaya yang secara ilmiah memang ada dan perlu dipersiapkan.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah menjelaskan bahwa pembahasan mengenai potensi gempa megathrust sudah berlangsung sejak lama. Dalam penjelasan BMKG, zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut merupakan wilayah yang perlu diwaspadai karena dikaji sebagai seismic gap, atau zona yang relatif lama tidak mengalami gempa besar. Namun, BMKG menegaskan bahwa pembahasan tersebut bukan peringatan bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Masalahnya, masyarakat sering kesulitan membedakan tiga kata yang sebenarnya sangat berbeda: potensi, prediksi, dan peringatan dini. Potensi berarti sesuatu mungkin terjadi berdasarkan kondisi ilmiah dan sejarah kegempaan. Prediksi berarti menentukan kapan, di mana, dan seberapa besar suatu gempa akan terjadi. Sementara peringatan dini diberikan setelah suatu kejadian terdeteksi dan sistem memperkirakan dampaknya. Untuk gempa bumi, kemampuan manusia belum sampai pada tahap memprediksi secara tepat tanggal, lokasi, dan kekuatannya.
BMKG sudah berulang kali menegaskan hal tersebut. Bahkan sejak 2018, ketika isu gempa besar beredar luas, BMKG menyatakan belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa yang akan terjadi. Jadi ketika seorang pejabat atau ilmuwan mengatakan ada potensi gempa besar, bukan berarti gempa besar akan segera terjadi.
Justru sebaliknya. Kita tidak tahu kapan gempa itu terjadi, karena itu kita harus siap sebelum terjadi. Sayangnya, komunikasi kebencanaan sering terjebak pada persoalan viral. Angka magnitudo menjadi judul. Skenario terburuk berubah menjadi seolah-olah ramalan. Kemungkinan tsunami diterjemahkan menjadi kepastian. Potongan pernyataan ilmuwan beredar tanpa konteks, lalu ketakutan menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan ilmiahnya.
Padahal, jika masyarakat hanya diberi dua pilihan yaitu panik atau mengabaikan. Keduanya tidak akan membuat kita lebih aman. Yang dibutuhkan adalah waspada tanpa paranoid. Kajian tentang potensi gempa besar justru seharusnya menjadi alasan untuk memperbaiki hal-hal yang bisa kita kendalikan. Bangunan harus memenuhi standar keselamatan. Pemerintah daerah perlu memiliki jalur evakuasi yang jelas. Masyarakat pesisir harus mengetahui titik evakuasi tsunami. Sekolah, rumah sakit, kantor, dan fasilitas publik perlu memiliki prosedur menghadapi gempa.
BMKG sendiri menjelaskan bahwa skenario gempa besar bukan ramalan, melainkan hasil kajian yang dapat digunakan sebagai dasar mitigasi. Artinya, ketidakmampuan memprediksi waktu gempa bukan alasan untuk tidak melakukan persiapan. Di sinilah cara berpikir kita perlu diubah.
Kita terlalu sering bertanya, kapan megathrust terjadi?Padahal pertanyaan yang jauh lebih berguna adalah kalau terjadi hari ini, seberapa siap kita?
Apakah kita tahu harus berlindung di mana ketika gempa mengguncang rumah? Apakah kita tahu jalur evakuasi terdekat jika berada di wilayah pesisir? Apakah pemerintah daerah memiliki sistem komunikasi ketika listrik dan jaringan telekomunikasi terganggu? Apakah bangunan tempat kita tinggal cukup aman? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak seviral angka magnitudo. Tetapi justru itulah pertanyaan yang dapat menyelamatkan nyawa.
Bencana tidak menjadi lebih kecil hanya karena kita tidak membicarakannya. Sebaliknya, membicarakannya secara keliru juga tidak membuat kita lebih siap. Karena itu, masyarakat perlu belajar menerima informasi kebencanaan secara proporsional: jangan panik terhadap sesuatu yang belum bisa diprediksi, tetapi jangan pula merasa aman hanya karena belum terjadi.
Kita tidak membutuhkan ramalan tanggal terjadinya megathrust. Kita membutuhkan bangunan yang lebih aman, jalur evakuasi yang benar-benar bisa digunakan, sistem peringatan yang bekerja, pemerintah yang siap, dan masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan. Sebab dalam menghadapi gempa, manusia memang belum bisa memilih kapan bumi bergerak. Tetapi kita masih bisa memilih seberapa siap kita ketika bumi benar-benar bergerak.
Baca Juga
-
Rindu yang Menjelma Kabut Pagi: Rumah itu Berupa Luka dan Kenangan
-
Kenapa Harus Melihat Orang Lain Menderita Dulu untuk Belajar Bersyukur?
-
Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan
-
Merangkul Keragaman dengan Komedi di Buku Pahlawan Tanpa Tanda Tangan
-
Kalau Semua Harus Ditanggung Sendiri, Lalu Pajak Kita untuk Apa?
Artikel Terkait
Kolom
-
Pagi Hari Nongkrong di Warkop, Mengapa Petani Bojonegoro Sering Dikira Pengangguran?
-
Kerja Keras Tak Menjamin Naik Kelas, tapi Si Miskin Dianggap Kurang Berusaha
-
Absurditas Formalitas WFO: Saat Kerja Digital Wajib Dikerjakan di Kantor
-
Bukan Sekadar Kutu Loncat, Ini Beda Job Hopping dan Career Exploration
-
Seni Menjaga Batasan Privasi dengan Tetangga Agar Kebaikan Tak Jadi Tuntutan
Terkini
-
5 Sabun Muka Anti Acne Lokal Remaja untuk Kulit Bersih Bebas Jerawat
-
Outback, Drama Misteri Terbaru Netflix Resmi Umumkan Jajaran Pemeran Utama
-
Anime Bride of the Barrier Master Ungkap 5 Karakter Baru Jelang Tayang 2027
-
Review Namib: Sisi Gelap di Balik Mimpi Menjadi Idol
-
Kejutan Skuad Timnas di FIFA ASEAN Cup 2026: Badai Cedera dan Misi Sulit John Herdman