Pernahkah Anda menyaksikan video seorang pencari sensasi yang merekam kepulan asap kawah gunung berapi aktif sambil panik berteriak, "Ada gas beracun, kita harus lari!"? Rekaman dramatis di bibir kawah Gunung Dukono, Halmahera Utara itu belakangan memicu perdebatan sengit. Sebagian besar warganet langsung menghujat sang kreator karena dianggap nekat dan mengabaikan peringatan bahaya. Sebagian lain mengkritik lemahnya pengawasan pos penjagaan di lapangan.
Namun, mari kita jujur: apakah masalah ini benar-benar selesai hanya dengan menyalahkan individu atau menambah pos penjagaan di kaki gunung?
Selama ini kita kerap terjebak pada narasi klasik yang dangkal. Kita lupa bahwa di balik aksi nekat menantang maut itu, ada mesin raksasa bernama algoritma media sosial yang siap mengganjar risiko ekstrem dengan jutaan views, likes, dan tumpukan rupiah dari monetisasi.
Candu Algoritma di Bibir Kawah
Platform seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube dirancang untuk mengejar satu hal: engagement tinggi. Sayangnya, konten visual yang tenang dan patuh aturan jarang sekali menjadi viral. Sebaliknya, video yang memperlihatkan detik-detik mencekam di zona merah gunung api justru dipromosikan oleh sistem rekomendasi algoritma karena sanggup menahan perhatian penonton lebih lama.
Secara tidak langsung, platform media sosial telah menciptakan insentif finansial dan popularitas bagi siapa saja yang berani menembus batas keselamatan. Di sisi lain, membebankan seluruh pengawasan fisik kepada petugas Pos Pengamatan Gunung Api di daerah terpencil jelas tidak realistis. Lereng gunung sangat luas, sedangkan jumlah personel di lapangan sangat terbatas.
Mengapa kita tidak memindahkan benteng pertahanan pertama mitigasi bencana ini ke hulu digital?
Digital Eco-Gatekeeping: Solusi di Hulu Digital
Sudah saatnya otoritas kebencanaan seperti PVMBG dan BNPB duduk bersama dengan raksasa teknologi media sosial. Kita membutuhkan pendekatan baru bernama Digital Eco-Gatekeeping—sebuah sistem integrasi di mana platform digital turut bertanggung jawab atas keselamatan penggunanya di zona rawan bencana.
Ada dua langkah konkret yang bisa diterapkan di lapangan:
- Peringatan Otomatis (Geo-Tagging Warning): Platform media sosial dapat menerapkan sistem penandaan berbasis lokasi (geofencing). Setiap kali ada unggahan video yang terdeteksi berada di titik koordinat zona bahaya atau status gunung berapi "Waspada/Siaga", platform wajib menyematkan label disclaimer otomatis di bawah video. Label ini langsung terhubung ke situs resmi BNPB atau PVMBG untuk menampilkan status bahaya secara real-time. Mekanisme ini mirip dengan label edukasi otomatis yang pernah dipakai platform saat pandemi atau pemilu.
- Inisiatif Creator Guild dan Pembatasan Monetisasi: Pemerintah bersama platform dapat membentuk wadah edukasi bagi adventure creators. Sebelum sebuah konten ekstrem disetujui untuk masuk ke program monetisasi atau algoritma rekomendasi publik (For You Page), kreator harus membuktikan bahwa mereka mematuhi etika keselamatan dan mengantongi izin resmi. Tanpa insentif monetisasi, motivasi untuk mempertaruhkan nyawa demi konten akan berkurang secara drastis.
Pilihan di Tangan Kita
Memelihara keselamatan di era modern tidak bisa lagi mengandalkan papan imbauan kayu di lereng gunung atau teriakan peringatan petugas di lapangan. Di era ketika layar ponsel mengendalikan perilaku manusia, aplikasi yang ada di genggaman kita harus ikut menjadi pelindung.
Akankah kita terus membiarkan algoritma mengganjar nekatnya aksi menantang maut demi angka engagement? Atau, sudah saatnya kita menuntut platform teknologi untuk menjadikan keselamatan manusia sebagai prioritas utama di atas sekadar algoritma?
Baca Juga
-
Menko Pangan Bicara Sampah: Membakar Food Waste Bikin Rugi Dua Kali?
-
Di Balik Emas Leo/Daniel: Sampai Kapan Bulu Tangkis Menggendong Klasemen?
-
Menolak Tudingan HAM di PBB Saja Tidak Cukup: Butuh 'Diplomasi Terbuka'
-
Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR
-
Beban Lapangan dan Riuh Tribun: Menjadikan SUGBK Benteng Timnas
Artikel Terkait
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?
-
Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
Kolom
-
Kita Sibuk Menghemat Seribu Rupiah, tapi Membuang Satu Jam dengan Percuma
-
Nongkrong Cuma Ngopi tapi Bayar Ratusan Ribu? Waspada Jebakan Teman yang Doyan Gaslighting!
-
Reshuffle Menteri Keuangan: Ketika Ambisi Politik Membebani APBN
-
Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?
-
Bukan Cuma Main Game: Mengapa Anak SD Sekarang Lebih Betah di Roblox?
Terkini
-
Crying in H Mart, Ketika Makanan Menjadi Cara untuk Mengingat
-
Tangis di Balik Pintu Kelas
-
5 Film dan Serial Netflix yang Layak Masuk Daftar Tontonan Oktober 2026
-
4 Lightweight Sunscreen Anti-Sumuk Buat Kulit Kombinasi saat Cuaca Panas
-
Sinopsis Klara and The Sun, Film Jenna Ortega yang akan Tayang Oktober 2026