Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
ilustrasi Pernikahan (unsplash/@iwillbmm)
Oktavia Ningrum

Ada orang yang berkali-kali jatuh cinta kepada tipe pasangan yang sama. Hubungan penuh tarik-ulur, komunikasi yang melelahkan, ketidakpastian, kecemburuan, atau konflik yang tidak kunjung selesai. Dari luar, pilihan itu mungkin terlihat membingungkan. Mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang membuatnya tidak tenang? Salah satu kemungkinan jawabannya berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Dalam psikologi, pengalaman masa kanak-kanak, pola pengasuhan, dan hubungan dengan orang-orang terdekat dapat memengaruhi bagaimana seseorang memahami kedekatan, kepercayaan, dan rasa aman ketika dewasa.

Jika sejak kecil seseorang terbiasa dengan hubungan yang penuh ketegangan, komunikasi yang tidak konsisten, penolakan, atau kasih sayang yang hanya muncul dalam kondisi tertentu, pola tersebut dapat menjadi sesuatu yang familier. Bukan berarti ia menyukai penderitaan. Bukan pula berarti semua orang yang memiliki pengalaman masa kecil yang sulit pasti akan memilih pasangan yang bermasalah. Namun, sesuatu yang familier terkadang dapat terasa lebih mudah dikenali dibandingkan sesuatu yang benar-benar baru.

Bayangkan seseorang yang sejak kecil terbiasa dengan hubungan yang membuatnya selalu menebak-nebak: apakah hari ini akan mendapatkan perhatian atau justru dimarahi? Apakah seseorang akan dekat atau tiba-tiba menjauh? Ketika dewasa, hubungan yang penuh ketidakpastian mungkin terasa sangat menguras energi. Tetapi karena pola tersebut sudah dikenalnya, ia mungkin lebih mudah mengenali dinamika itu dibandingkan hubungan yang stabil.

Sebaliknya, ketika bertemu seseorang yang konsisten, komunikatif, menghargai batasan, dan tidak memainkan tarik-ulur emosi, situasi tersebut mungkin terasa asing. Bahkan bagi sebagian orang, ketenangan dapat memunculkan rasa tidak nyaman. Bukan karena ketenangan itu buruk, tetapi karena sistem hubungan yang sehat belum menjadi sesuatu yang familiar bagi mereka.

Tidak semua perilaku dalam hubungan yang sulit merupakan akibat trauma, dan tidak semua pengalaman buruk masa kecil otomatis menghasilkan pola hubungan tertentu. Manusia jauh lebih kompleks daripada satu pengalaman masa lalu. Ada pula faktor lain yang memengaruhi pilihan pasangan: kepribadian, lingkungan sosial, pengalaman hubungan sebelumnya, norma budaya, kebutuhan emosional, serta kondisi kehidupan seseorang saat ini.

Seseorang juga dapat belajar bahwa cinta tidak harus terasa seperti perjuangan terus-menerus. Cinta tidak harus membuat seseorang cemas setiap kali pesan tidak dibalas. Tidak harus membuat seseorang terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Tidak harus diwarnai kecemburuan, ancaman ditinggalkan, atau permainan emosi agar hubungan terasa hidup. Hubungan yang sehat justru dapat terasa membosankan bagi orang yang terbiasa dengan drama. Tetapi tenang tidak sama dengan tidak cinta. 

Kadang-kadang kita memang keliru mengira intensitas sebagai kedalaman perasaan. Pertengkaran hebat, kemudian berbaikan dengan sangat emosional, dapat terasa seperti cinta yang luar biasa kuat. Padahal, hubungan yang sehat tidak membutuhkan siklus konflik ekstrem agar seseorang merasa dicintai. Karena itu, belajar mengenali hubungan yang sehat menjadi penting. Bukan sekadar mencari seseorang yang membuat jantung berdebar, tetapi juga seseorang yang mampu menghormati batasan, berkomunikasi secara terbuka, konsisten, dan membuat kedua pihak merasa aman menjadi dirinya sendiri.

Dan bagi seseorang yang menyadari bahwa ia terus mengulang pola hubungan yang menyakitkan, kesadaran tersebut bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri. Justru itu bisa menjadi titik awal untuk berubah. Dari sanalah proses memahami diri dapat dimulai. Sebab kita tidak selalu bisa memilih pengalaman yang membentuk kita sejak kecil. Namun ketika sudah dewasa, kita memiliki kesempatan untuk mempelajari kembali seperti apa hubungan yang sehat dan menyadari bahwa sesuatu yang asing tidak selalu berarti sesuatu yang salah. Kadang-kadang, yang perlu kita pelajari bukan bagaimana mencintai lebih keras, melainkan bagaimana mengenali bahwa cinta juga bisa terasa aman.