Pernahkah kamu berniat membalas pesan singkat seperti "iya" atau "oke", tetapi mendadak jarimu tertahan, lalu kamu memilih mengetik balasan sepanjang tiga paragraf penuh emotikon hanya karena takut lawan bicaramu mengira kamu sedang marah atau ketus?
Kemarin malam, seorang kawan pria mencurahkan kekesalan sekaligus kelelahannya kepada saya di sebuah kedai kopi. Dia baru saja menghabiskan waktu 20 menit hanya untuk mengetik balasan pesan WhatsApp kepada pasangannya. Dia bercerita bahwa kekasihnya sangat mudah merajuk dan tersinggung jika hanya dikirimi pesan singkat.
Balasan irit langsung ditafsirkan sebagai tanda bahwa dia sedang emosi, cuek, atau tidak lagi peduli. "Padahal saya cuma mau bilang kalau lagi jalan pulang. Tapi daripada memicu salah paham dan drama panjang, akhirnya saya ketik penjelasan lengkap, alasan kenapa telat balas, plus imbuhan emotikon biar nadanya keliatan ramah," curhatnya sambil menghela napas panjang.
Dilema yang dialami kawan saya ini merupakan representasi nyata dari fenomena komunikasi modern yang dikenal sebagai Over-explaining dalam pesan teks.
Over-explaining atau kecenderungan memberikan penjelasan berlebihan merujuk pada kebiasaan seseorang mengetik pesan teks yang sangat panjang, detail, dan penuh dengan penegas emosi (seperti emotikon, tanda seru berulang, atau kata-kata manis). Perilaku ini didorong oleh rasa cemas berlebih (overthinking) bahwa lawan bicara akan salah menafsirkan nada bicara (tone of voice) atau merasa tersinggung. Di era di mana komunikasi fisik bergeser ke layar kaca, teks tanpa nada suara dan ekspresi wajah kerap dipandang sebagai arena rentan salah paham.
Dinamika psikologis dari fenomena komunikasi ini dibahas secara mendalam dalam studi ilmiah bertajuk "Avoidance and Anxiety About Phone Calls in Young Adults: The Role of Social Anxiety and Texting Controllability". Penelitian tersebut menguraikan bagaimana kecemasan sosial (social anxiety) mendorong orang muda menghindari komunikasi spontan (seperti panggilan telepon) dan lebih memilih pesan teks karena adanya aspek keterkontrolan (texting controllability).
Dalam konteks ini, kebiasaan mengetik penjelasan yang sangat panjang dan detail dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengontrol penuh narasi, mengatur persepsi emosional lawan bicara, serta meredakan kecemasan sosial agar interaksi tetap terasa aman dan bebas dari konflik.
Menariknya, fenomena ini melahirkan perbedaan cara pandang yang cukup tajam apabila ditinjau dari kacamata perbandingan lintas generasi.
Bagi generasi terdahulu seperti orang tua kita, pesan teks diciptakan murni untuk efisiensi dan penyampaian informasi yang lugas. Menulis pesan pendek, padat, dan langsung pada intinya adalah bentuk kepraktisan. Generasi tua jarang memusingkan apakah huruf kapital atau titik di akhir kalimat akan terkesan galak, karena bagi mereka, fungsi utama pesan singkat adalah keterpampaian berita secara cepat.
Sebaliknya, Gen Z dan Milenial tumbuh dalam lanskap digital di mana setiap tanda baca, pilihan emotikon, hingga panjang kalimat memiliki arti implisit (subtext). Balasan satu kata atau tanda titik di akhir kalimat sering dianggap sebagai tindakan agresif pasif (passive-aggressive). Akibatnya, generasi muda merasa wajib menyisipkan penjelasan ekstra panjang sebagai "bantal pelindung emosional" agar hubungan tetap harmonis dan bebas dari potensi krisis salah paham.
Niat baik untuk menjaga perasaan pasangan atau kawan melalui kejelasan komunikasi adalah hal yang sangat terpuji. Mengagumi rasa empati dalam berinteraksi tentu penting agar hubungan tetap hangat. Namun, ketika kebiasaan over-explaining justru berbalik menjadi beban mental, memicu kelelahan kognitif (text fatigue), dan lahir dari rasa takut yang obsesif terhadap reaksi negatif orang lain, di situlah batas komunikasi yang sehat mulai tergeser.
Pesan teks sejatinya adalah alat bantu interaksi, bukan panggung ujian emosional tempat kita harus selalu memoles paragraf demi memuaskan persepsi orang lain.
Jadi, saat kamu hendak membalas pesan di ponselmu hari ini, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah paragraf panjang yang sedang kamu ketik itu benar-benar dibutuhkan untuk kejelasan pesan, atau sekadar tameng ketakutanmu akan drama yang belum tentu terjadi?
Baca Juga
-
Eksploitasi Terselubung: Bahaya Nyata Sharenting bagi Masa Depan Anak
-
Pelajaran Merelakan dari Lagu Percuma Mahalini: Ketika Usaha Tak Lagi Didengar
-
Nongkrong Cuma Ngopi tapi Bayar Ratusan Ribu? Waspada Jebakan Teman yang Doyan Gaslighting!
-
Bukan Cuma Main Game: Mengapa Anak SD Sekarang Lebih Betah di Roblox?
-
Solo Date: Saat Jalan-Jalan Sendiri Berubah Jadi Bentuk Perawatan Diri
Artikel Terkait
Kolom
-
Burnout tapi Dompet Belum Siap Resign? Saatnya Terapkan Quiet Quitting
-
Bahaya Praktik Greenwashing, Perhatikan Gaya Hidup Hijau agar Tidak Tertipu
-
Tarot, Primbon, dan Ilusi Kendali: Cara Unik Founder Startup Hadapi Ketidakpastian Bisnis
-
Jeritan Ekonomi Akar Rumput: Pertumbuhan yang Gagal Menetes
-
Eksploitasi Terselubung: Bahaya Nyata Sharenting bagi Masa Depan Anak
Terkini
-
Intoleransi Laktosa? Coba 5 Alternatif Susu Nabati Ini, Lebih Aman di Perut
-
Masa Depan CR7 Dipertanyakan usai Ngambek Tinggalkan Kamp Latihan, Sinyal Segera Pensiun?
-
Review Verity: Licik Memainkan Kepercayaan Penonton lewat Banyak Kebenaran
-
Ketika Persoalan Sehari-hari Muslimah Dijawab Lewat Buku Fiqh Wanita Populer
-
Rempah dan Jalur Laut: Komoditas Membentuk Dinamika Masyarakat Nusantara