Pernahkah kamu berada di titik di mana pekerjaan harianmu sudah begitu hafal di luar kepala, tugas selesai hanya dalam satu jam, tetapi sisa tujuh jam di kantor terasa seperti siksaan tak berkesudahan yang menguras seluruh energimu?
Dua hari yang lalu, seorang kawan lama menghubungi saya lewat telepon. Dengan nada suara yang sangat lesu, dia mencurahkan kekesalan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh. Pekerjaannya stabil, gajinya cukup, dan bebannya terbilang sangat ringan. Namun, dia mengaku justru merasa sangat tertekan dan hampa setiap kali melangkahkan kaki ke kantor. "Semua orang mikir saya enak karena kerjanya santai. Tapi jujur Bro, duduk delapan jam sehari cuma buat ngerjain hal monoton yang anak SMP pun bisa, itu bikin mental saya rasanya kaya membusuk pelan-pelan," keluhnya penuh frustrasi.
Curhatan kawan saya ini adalah potret sempurna dari sebuah fenomena psikologis di dunia kerja modern yang dikenal sebagai Boreout.
Jika masyarakat sudah sangat akrab dengan istilah burnout—kondisi kelelahan fisik dan mental ekstrem akibat beban kerja berlebih, maka boreout adalah sisi sebaliknya yang tak kalah berbahaya. Boreout terjadi ketika seseorang mengalami stres psikologis parah akibat pekerjaan yang sangat membosankan, terlalu mudah, tidak menantang, serta tidak memberikan makna atau arti hidup bagi pengampunya.
Kondisi psikologis dan dampak kesehatan dari fenomena ini dikupas secara komprehensif dalam studi ilmiah bertajuk The Effects Of Boreout On Stress, Depression, And Anxiety In The Workplace. Penelitian tersebut menguraikan secara mendalam bagaimana rasa bosan yang kronis dan ketiadaan tantangan di lingkungan kerja berimbas langsung pada kondisi mental karyawan. Kebosanan akut akibat pekerjaan yang tidak berbobot terbukti memicu peningkatan kadar stres, memicu gejala depresi, serta menimbulkan gangguan kecemasan (anxiety) sistemik di tempat kerja yang dampaknya tak kalah merusak dibandingkan beban kerja yang berlebihan.
Menariknya, fenomena ini melahirkan benturan cara pandang yang cukup kontras jika ditarik ke dalam skala perbandingan lintas generasi.
Bagi generasi terdahulu atau orang tua, bisa mendapatkan pekerjaan yang santai, minim tekanan, dan berpenghasilan tetap adalah sebuah pencapaian ideal yang patut disyukuri. Di mata mereka, pekerja yang mengeluh karena "kurang pekerjaan" dianggap sebagai sosok yang kurang bersyukur, manja, atau tidak paham beratnya mencari nafkah di dunia nyata. Standar kelayakan kerja generasi tua sering kali bertumpu pada stabilitas dan keamanan finansial semata.
Sebaliknya, Gen Z dan angkatan kerja muda tumbuh dengan pandangan bahwa pekerjaan bukan sekadar alat untuk bertahan hidup, melainkan juga wadah untuk aktualisasi diri. Bagi anak muda, menghabiskan waktu produktif untuk tugas-tugas administratif yang monoton tanpa tujuan yang jelas menimbulkan perasaan tak berguna (existential dread). Menatap layar laptop sambil pura-pura sibuk demi menggugurkan jam kerja (pretend working) ternyata jauh lebih melelahkan secara mental dibandingkan menyelesaikan proyek yang menantang.
Mengalami boreout tidak serta-merta membuat seseorang menjadi sosok yang tidak bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Perasaan butuh berkembang, ingin mempelajari hal baru, dan merindukan arti dari apa yang dikerjakan adalah dorongan alami manusia yang sangat valid. Namun di sisi lain, menyalahkan keadaan atau membiarkan diri terjebak dalam kelesuan tanpa mengambil tindakan proaktif juga bukanlah langkah yang dewasa.
Boreout yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan hanya akan mematikan motivasi, tumpulnya keterampilan profesional, dan mengikis percaya diri.
Ketika pekerjaanmu saat ini terasa begitu membosankan dan tak lagi memberi ruang untuk tumbuh, solusi utamanya bukan sekadar meratap atau langsung keluar tanpa rencana. Kita bisa mulai dengan mengomunikasikan kebutuhan tantangan baru kepada atasan, mempelajari keterampilan baru di luar jam kerja, atau menjadikan stabilitas pekerjaan tersebut sebagai batu loncatan untuk membangun impian pribadi di luar kantor.
Jadi, saat kamu menatap jam dinding kantor yang terasa bergerak sangat lambat hari ini, cobalah bertanya pada diri sendiri: apakah kamu sedang berada di fase istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga, atau justru sedang membiarkan potensi dirimu perlahan pudar dalam jebakan boreout?
Baca Juga
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
-
Petualangan Bubu Si Awan Kecil
-
Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide
Artikel Terkait
-
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun
-
UU Ketenagakerjaan Baru Sah: Ojol dan Kreator Resmi Diakui Pekerja
-
Penasihat Prabowo Khawatir UU Perlindungan Ketenagakerjaan Buka Celah Magang Jadi Outsourcing
-
UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Manfaatnya Harus Dirasakan Pekerja
-
Bagaimana Cara Dapat BSU 2026 Rp900 Ribu? Begini Penjelasannya
Kolom
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
Terkini
-
Agensi Konfirmasi Sophia KATSEYE Bakal Comeback Januari 2027 Usai Hiatus
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik