Sobat Yoursay, pernah nggak sih kalian tertarik buat klik produk karena lihat harganya yang murah?
Sebagai kaum mendang-mending, harga selalu jadi hal pertama yang saya lihat setelah gambar produk yang ditampilkan di etalase. Tertarik dengan produknya, cek harga, cocok, baru buka etalase dan cek variannya. Namun, akhir-akhir ini saya berulang kali kena prank harga produk.
Contoh nih, ya. Saya sedang mencari produk atasan perempuan. Lalu, di deretan etalase ada satu pakaian yang menarik perhatian. Dilihat dari harganya cukup murah, Rp38.000, misalnya. Tapi begitu saya buka etalase dan melihat varian warna atau pilihan ukurannya, ternyata harga Rp38.000 itu bukan harga produk yang terlihat di thumbnail gambar, melainkan harga jilbab saja.
Contoh lainnya, pernah juga saya tertarik dengan blouse yang tampak cantik di gambar. Saat melihat thumbnail, harga yang ditampilkan Rp35.000. Lalu, begitu saya buka etalasenya dan melihat semua varian yang ada, rupanya harga tersebut milik kalung atau aksesori saja. Sedangkan harga pakaian yang saya lihat di thumbnail etalase jauh lebih tinggi dari itu.
Dulu, di awal-awal, saya sering kali ketipu dan termakan ekspektasi. Namun, seiring makin banyaknya toko yang menggunakan sistem variasi produk dalam satu etalase yang sama, saya jadi cukup terbiasa dengan prank semacam itu. Meskipun begitu, selalu ada rasa kecewa ketika melihat harga yang ditampilkan di thumbnail etalase ternyata tidak sesuai dengan harga produk yang terlihat di gambar.
Maksud saya, kenapa sih harus dibuat seperti itu? Memasang produk yang bervariasi dalam satu etalase mungkin bisa jadi pilihan, tapi kalau memang produknya berbeda dan selisih harganya cukup jauh, kenapa nggak dipisah aja?
Kalau menggunakan sistem semacam itu, harga yang dilihat pembeli di awal bisa saja bukan harga barang yang ditampilkan. Rasanya, penulisan harga tersebut hanya menjadi pancingan agar calon pembeli tertarik mengeklik produk.
Oke, jika dilihat dari sudut pandang penjual, mungkin menempatkan produk dengan harga lebih murah dalam satu etalase memang bisa mengundang orang untuk mengeklik. Dan tentu saja, pilihan untuk menggunakan sistem variasi produk merupakan hak penjual.
Namun, bagaimana dengan calon pembeli?
Mereka sudah tertarik dengan barangnya dan merasa cocok dengan harga yang dilihat di awal. Ketika harga berubah jauh lebih tinggi setelah memilih variasi produk yang diinginkan, tentu rasa kecewa bisa saja muncul.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sistem tersebut. Secara teknis, harga murah yang ditampilkan memang benar-benar ada di etalase tersebut dan penjual tidak serta-merta memasang harga palsu. Namun, yang membuat pembeli merasa kena prank adalah cara menampilkan produk yang bisa membuat mereka mengira harga tersebut berlaku untuk barang yang sedang dilihat.
Dampaknya, calon pembeli bisa merasa tertipu atau terjebak oleh ekspektasi yang terbentuk sejak awal. Apalagi jika selisih harga antara produk utama yang ditampilkan di etalase dan produk dengan harga termurah cukup jauh.
Menutup opini saya tentang hal ini, penjual yang menerapkan sistem variasi produk dalam satu etalase yang sama bukan berarti punya niat untuk menipu. Hanya saja, sebagai pembeli, kita pun perlu lebih teliti dalam menghadapi hal semacam ini. Ketika melihat produk yang kita inginkan dibanderol dengan harga cukup murah, setidaknya kita perlu mengecek detail produk dan harga setiap variannya terlebih dahulu agar tidak berlebihan dalam menaruh ekspektasi.
Baca Juga
-
Nonton Sambil Istigfar, 4 Drakor Ini Bikin Kamu Bingung Harus Dukung Siapa!
-
Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan
-
Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
Artikel Terkait
Kolom
-
Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?
-
Kesederhanaan yang Perlahan Pergi
-
Berhenti Jadi Budak Produktivitas: Lawan Ekspektasi Semua Harus Selesai Hari Ini dengan Jeda Sejenak
-
Viral Artis Dirujak Tanpa Ampun, Cancel Culture Itu Keadilan atau Main Hakim Sendiri?
-
7 Kali Reshuffle Prabowo: Bukti Tegas atau Kabinet yang Gagal Fokus?