Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Edukasi Finansial (magnific/KamranAydinov)
Ukhro Wiyah

Adakah Sobat Yoursay yang mengikuti konten-konten edukasi finansial?

Sebagai orang yang lumayan aktif di media sosial, saya cukup sering mendapati konten-konten keuangan yang berseliweran di beranda. Jujur, saya senang-senang saja, sebab dengan adanya konten semacam itu, saya juga bisa sekalian belajar tentang persoalan finansial yang dekat dengan kehidupan banyak orang, termasuk saya. Dari berbagai konten tersebut, saya mulai menemukan banyak hal baru, mulai dari budgeting, investasi, dana darurat, dan istilah-istilah lainnya di bidang keuangan.

Para financial influencer menjelaskan semua itu dengan  bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh orang awam. Bahkan tidak sedikit orang yang mulai sadar pentingnya manajemen keuangan melalui konten yang mereka bagikan. Saya rasa itulah mengapa konten-konten seperti ini bisa terasa begitu menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan bagaimanapun, uang merupakan hal yang sangat krusial dalam hidup semua orang.

Seperti yang saya sebut di awal, tidak ada masalah dengan konten edukasi finansial yang kini bertebaran di media sosial. Namun, semakin banyak konten tentang keuangan yang saya tonton, baik secara sengaja atau yang tiba-tiba lewat saat scroll, rupanya bukan hanya pengetahuan yang semakin bertambah. Di baliknya, ada juga perasaan lain yang terkadang muncul. Seperti ekspektasi terhadap kondisi finansial sendiri yang semakin tinggi hingga perasaan tertinggal dan mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Misalnya, ketika melihat konten yang menyebutkan perihal target tabungan yang seharusnya dicapai sesuai umur seseorang, lalu motivasi untuk mulai investasi dan mencari lebih banyak sumber penghasilan, hingga konten-konten tentang mencapai financial freedom di usia muda. Dari sisi influencer ataupun edukator finansial, konten semacam itu mungkin tujuannya memang untuk memberikan edukasi. Namun, masalahnya audiens yang melihat konten tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Perjalanan hidup yang dilalui pun tentu tak sama. Ada yang sudah memiliki banyak penghasilan dan hidup nyaman di usia muda, ada pula yang baru merintis kariernya dari nol sembari menjalani hidup pas-pasan, dan ada juga yang masih sibuk mencari pekerjaan.

Karena itulah, konten edukasi finansial bisa memunculkan respons yang berbeda-beda dari audiens. Di satu sisi bisa menambah wawasan terkait keuangan dan membantu kita lebih melek finansial, tapi di sisi lain juga bisa melahirkan standar tertentu yang terasa seperti kewajiban bagi semua orang. Akibatnya, ketika ada audiens yang belum mencapai hal yang sama di usianya, ia bisa merasa tertinggal.

Kemudian berawal perasaan tertinggal tersebut, audiens yang baru belajar tentang manajemen finansial bisa mulai membandingkan kondisi keuangannya dengan orang lain. Muncul rasa cemas ketika dirinya masih terasa begitu jauh dari standar yang ada. Ia pun mulai bertanya-tanya, "Apakah caraku mengelola uang selama ini sudah cukup baik? Haruskan menambah pekerjaan agar bisa mencapai standar yang 'seharusnya' tercapai di usiaku ini?"

Hingga akhirnya, ia memaksakan diri mencari lebih banyak sumber penghasilan demi memenuhi standar tersebut tanpa memperhatikan batasnya sendiri. Jika hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dampaknya ia bisa merasa stres, burnout, dan kelelahan secara mental maupun fisik. Padahal literasi finansial seharusnya membantu kita memahami kondisi keuangan, bukan membuat kita merasa gagal hanya karena belum mencapai standar finansial orang lain.

Kembali lagi ke awal, konten edukasi finansial memang bisa menjadi pintu masuk yang bagus bagi kita untuk mulai belajar tentang keuangan. Namun, sebagaimana kita menyikapi banyak konten lainnya, konten edukasi seperti ini pun tetap perlu disaring. Kita bisa mengambil ilmunya, lalu disesuaikan dengan kondisi finansial yang kita miliki, tanpa menganggap tips yang dibagikan para financial influencer ini sebagai aturan yang harus diikuti oleh semua orang.