Indonesia adalah negeri tropis. Matahari berlimpah, hujan relatif melimpah, tanah di banyak wilayah subur, dan hampir setiap daerah memiliki buah khasnya sendiri. Dari pisang, pepaya, mangga, rambutan, jambu, nanas, hingga berbagai buah lokal yang tumbuh musiman. Tetapi ada paradoks yang sulit diabaikan: mengapa buah bisa terasa mahal, sementara makanan berbahan tepung justru begitu mudah ditemukan dan relatif murah?
Di warung, mi instan murah. Gorengan ada di hampir setiap sudut jalan. Roti, kue, biskuit, kerupuk, dan berbagai makanan berbasis tepung tersedia dengan harga yang mudah dijangkau. Sebaliknya, membeli buah untuk konsumsi harian sebuah keluarga kadang terasa seperti pengeluaran tambahan. Bukankah ini janggal?
Masalahnya tentu bukan sekadar karena Indonesia kekurangan buah. Persoalannya jauh lebih rumit: produksi, distribusi, rantai pasok, musim, kehilangan hasil panen, pola konsumsi, hingga struktur industri pangan saling berkelindan. Buah adalah komoditas yang mudah rusak. Pisang yang terlalu matang tidak bisa disimpan lama. Pepaya yang sudah dipotong membutuhkan penanganan berbeda. Mangga memiliki musim panen. Tanpa penyimpanan dan distribusi yang baik, sebagian hasil pertanian dapat rusak sebelum sampai ke konsumen.
Di sinilah perbedaan mendasar dengan tepung terlihat. Tepung dapat disimpan jauh lebih lama, mudah dipindahkan, mudah diolah, dan dapat menjadi bahan dasar berbagai produk. Industri kemudian mengubahnya menjadi mi, roti, kue, biskuit, gorengan, dan makanan ringan. Dengan kata lain, tepung bukan hanya bahan pangan; ia sudah menjadi bagian dari sistem industri pangan yang sangat efisien.
Sementara buah masih sering berhenti sebagai komoditas segar. Petani menanam, pedagang membeli, kemudian produk bergerak melalui rantai distribusi sebelum sampai ke konsumen. Jika rantainya panjang dan biaya logistik tinggi, harga di tingkat konsumen ikut meningkat.
Ironisnya, ketika buah mahal, masyarakat berpendapatan rendah justru semakin sulit menjadikannya bagian rutin dari makanan sehari-hari. Makanan yang mengenyangkan dan murah akhirnya menjadi pilihan rasional: nasi, mi, gorengan, roti, atau makanan olahan berbasis tepung. Ini bukan semata-mata soal selera. Orang miskin tidak selalu memilih makanan yang paling sehat; sering kali mereka memilih makanan yang paling mungkin dibeli. Karena itu, jika pemerintah ingin memperbaiki pola konsumsi masyarakat, kampanye “ayo makan buah” saja tidak cukup. Tidak adil meminta masyarakat meningkatkan konsumsi buah jika akses ekonominya tidak diperbaiki.
Mengapa negara yang memiliki kekayaan buah tropis belum mampu membangun ekosistem pangan yang membuat buah lebih mudah diakses? Jawabannya membutuhkan pembenahan dari hulu hingga hilir.
Produksi harus diperkuat, tetapi produksi saja tidak cukup. Negara juga membutuhkan gudang, rantai dingin, transportasi yang efisien, pengolahan pascapanen, pasar yang transparan, serta industri yang mampu mengubah buah menjadi produk bernilai tambah tanpa kehilangan aspek gizinya.
Buah yang tidak laku sebagai buah segar, misalnya, tidak selalu harus berakhir menjadi limbah. Ia dapat diolah menjadi puree, jus, buah kering, selai, atau produk pangan lain. Dengan begitu, petani tidak hanya bergantung pada pasar buah segar yang sangat dipengaruhi musim.
Masalah lainnya adalah cara kita memandang pangan. Kita terlalu sering membicarakan ketahanan pangan hanya dari sisi “berapa banyak yang diproduksi”. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: pangan apa yang tersedia, siapa yang mampu membelinya, dan seberapa bergizi makanan tersebut?
Negara tidak cukup hanya memiliki sawah, kebun, dan perkebunan. Negara juga harus memastikan hasilnya sampai ke meja makan masyarakat dengan harga yang masuk akal. Sebab paradoks terbesar bukanlah bahwa Indonesia kekurangan makanan. Paradoksnya adalah negeri yang kaya sumber pangan alami justru dapat membuat makanan segar terasa mahal, sementara pangan olahan berbasis tepung begitu mudah dijangkau.
Kalau situasi ini dibiarkan, persoalannya bukan lagi sekadar harga buah. Ini adalah pertanyaan tentang arah sistem pangan nasional: apakah kita hanya ingin rakyat kenyang, atau juga ingin rakyat mendapatkan makanan yang beragam, bergizi, dan terjangkau? Negara tropis seharusnya tidak hanya terkenal karena buahnya tumbuh subur. Yang lebih penting, buah itu harus mampu tumbuh subur di meja makan rakyat.
Baca Juga
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
-
Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?
-
Jangan Puas Menjadi Perakit: Indonesia Harus Naik Kelas dalam Industri
-
Paradoks Efisiensi: Menghemat Anggaran, Memperbesar Beban Sosial
-
Ketika Pemerintah Memuja UMKM, tapi Gagal Menyediakan Pekerjaan yang Layak
Artikel Terkait
Kolom
-
Rocky Gerung di Wantimpres: Mengapa Istana Butuh 'Devil's Advocate'?
-
Bukan Cuma Perkara Cinta, Ini 3 Batasan Wajib agar Gaya Pacaran Tetap Sehat dan Positif
-
Menyapa Diri Sendiri Lewat Tulisan: Langkah Kecil Merawat Kesehatan Mental
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
-
Jeda Bukan Berarti Berhenti: Makna Self-Care di Tengah Hidup Serba Cepat
Terkini
-
Cyberpunk: Edgerunners 2 Rilis 20 Oktober di Netflix, Hadir dengan Kru Baru
-
Sering Ingin 'Menghilang' dari Dunia? Film One Million Yen Girl Punya Jawaban Menohok buat Kamu
-
Yoshihiro Togashi Tolak Proyek dengan Deadline demi Fokus Hunter x Hunter
-
4 Sabun Mandi Charcoal untuk Atasi Kusam & Bau Badan, Auto Segar Seharian!
-
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam