M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi menikmati tempo pelan (Pexels/Fatih Doğrul)
e. kusuma .n

Beberapa waktu lalu, saya mendapati diri saya sedang berdiri menunggu air mendidih untuk menyeduh kopi pagi hari sambil menatap jam dengan rasa cemas karena tidak sabar. Detik itu juga, saya tersadar: “Mengapa saya begitu terburu-buru? Ini bahkan hanya beberapa menit menunggu.”

Saya mulai menyadari kalau kecemasan ini bukan sekadar tentang air untuk seduhan kopi, melainkan tentang bagaimana saya menjalani seluruh hidup saya selama ini. Pikiran saya seperti telah terbiasa diprogram otomatis untuk beroperasi dalam mode darurat.

Di kepala saya, semuanya berlabel “harus segera.” Membalas pesan teks harus segera, menyelesaikan proyek harus segera, bahkan menikmati waktu luang pun diburu-buru agar bisa beralih ke agenda berikutnya.

Hidup di era yang memuja kecepatan tampaknya membuat mode lambat dianggap sebagai dosa efisiensi. Namun, setelah merasakan kelelahan mental, saya memutuskan untuk mengambil langkah radikal: mengubah mantra hidup saya dari "harus segera" menjadi "aku bisa pelan-pelan."

Penjara Tak Kasat Mata Bernama Urgensi

Konsep urgensi palsu adalah jebakan terbesar abad ini. Teknologi mendekatkan segalanya dalam hitungan detik, yang secara tidak sadar membuat kita menuntut kecepatan yang sama dari kapasitas biologis dan emosional kita.

Saya dulu merasa jika tidak langsung merespons surel pekerjaan dalam waktu lima menit, dunia akan runtuh. Sikap selalu waspada ini menciptakan tingkat kortisol—hormon stres—yang konstan di dalam tubuh.

Saya menyadari bahwa tuntutan "harus segera" ini sebagian besar tidak datang dari luar, melainkan dari rasa takut saya sendiri. Takut dianggap tidak kompeten, tertinggal, dan kehilangan kendali seolah sedang memenjarakan diri dalam ekspektasi kecepatan yang tidak manusiawi.

Menemukan Kembali Kendali Atas Waktu

Langkah pertama saya untuk bergeser ke pola pikir "aku bisa pelan-pelan" dimulai dengan membuat jeda sadar sebelum merespons sesuatu. Saat notifikasi ponsel berbunyi, alih-alih langsung menyambarnya dengan panik, saya menarik napas dalam-dalam.

Saya bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini benar-benar darurat?" Jika tidak, maka hal itu bisa menunggu sepuluh menit, atau bahkan beberapa jam. Menurunkan tempo hidup bukan berarti kita menjadi malas atau tidak profesional.

Ini adalah tentang membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya berisik. Saat mengizinkan diri untuk melangkah pelan-pelan, saya justru mendapatkan kembali kendali atas waktu, bukan membiarkan waktu dan kepanikan orang lain mendikte hari-hari saya.

Menikmati Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir

Saat hidup dijalani dengan tergesa-gesa, kita kehilangan detail-detail kecil yang membuat hidup ini layak dijalani. Kita makan siang sambil menatap layar laptop tanpa benar-benar mengecap rasa makanan. Kita berjalan kaki dengan terburu-buru tanpa menyadari pohon-pohon yang mulai berbunga di sepanjang jalan.

Saat mulai menerapkan prinsip "aku bisa pelan-pelan," dunia di sekitar saya mendadak berubah warna. Saya mulai menikmati proses menyeduh teh di sore hari secara perlahan, merasakan transisi rasa pada setiap sesapan.

Saya juga mendengarkan cerita teman tanpa sibuk memikirkan kalimat apa yang harus diucapkan selanjutnya. Melambatkan tempo membuat saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak berada di garis finis, tapi tersebar di sepanjang lintasan yang sering kita lewati begitu saja.

Memeluk Kecepatan yang Manusiawi

Hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat sampai. Setiap orang memiliki musim, ritme, dan kapasitas energi masing-masing. Memaksa diri untuk selalu berlari hanya akan membuat kehabisan napas sebelum sempat menikmati apa yang telah diperjuangkan.

Mengubah mantra hidup menjadi "aku bisa pelan-pelan" adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta pada diri sendiri. Langkah ini adalah pengakuan jujur bahwa saya adalah manusia, bukan mesin algoritma.

Jadi, saat dunia menuntut untuk terus berlari kencang, beranikan diri untuk berjalan kaki. Bisikkan pada hati yang cemas bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan katakan dengan lantang: "Aku tidak perlu terburu-buru, aku bisa pelan-pelan."