Bang, tugas ini jawabannya apa? Tinggal kirim foto soal ke AI, beberapa detik kemudian jawaban rapi muncul. Tinggal salin, rapikan sedikit, lalu kumpulkan. Buku yang tadi ada di meja? Tetap tertutup.
Masalah pendidikan dan literasi hari ini mungkin bukan sekadar siswa makin malas membaca. Yang lebih mengkhawatirkan, sekolah bisa tanpa sadar mengajari anak bahwa belajar adalah kegiatan mencari jawaban tercepat, bukan memahami persoalan. Kalau pola ini dibiarkan, AI bukan cuma menggantikan buku sebagai tempat bertanya, tapi perlahan bisa menggantikan proses berpikir itu sendiri.
Bukan AI yang Salah, Cara Kita Belajar yang Bermasalah
Kita harus jujur siapa yang mau membuka buku puluhan halaman kalau jawaban tugas bisa muncul dalam hitungan detik? AI menawarkan sesuatu yang sangat masuk akal bagi pelajar cepat, praktis, dan bahasanya bisa disesuaikan.
Masalahnya muncul ketika mencari jawaban dianggap sama dengan belajar.
Padahal, membaca buku membutuhkan proses yang lebih panjang. Ada bagian yang membingungkan, ada argumen yang harus dibandingkan, ada informasi yang perlu dicatat, bahkan ada rasa bosan yang kadang memang menjadi bagian dari proses belajar. Justru dari proses itulah kemampuan memahami sesuatu terbentuk.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sendiri mendefinisikan literasi membaca bukan sekadar bisa membaca teks. Dalam Asesmen Nasional, literasi mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai teks tertulis. Artinya, siswa memang dituntut untuk berinteraksi dengan informasi secara aktif, bukan sekadar mengambil jawaban.
Persoalannya, pola tugas di sekolah kadang masih sangat mudah ditebak: cari pengertian, jelaskan, sebutkan, rangkum. Tugas semacam ini memang penting sebagai latihan dasar, tetapi ketika hampir seluruh proses belajar berhenti di sana, AI punya ruang yang terlalu besar untuk mengambil alih.
Ketika Tugas Bisa Dikerjakan AI, Apa yang Sebenarnya Dinilai?
Di sinilah persoalan pendidikan kita menjadi lebih serius. Kalau tugas sekolah dapat diselesaikan AI tanpa siswa membaca sumber utama, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan cuma perilaku siswanya, melainkan desain belajarnya.
Bayangkan guru meminta siswa membuat rangkuman tentang perubahan iklim. Siswa bisa membaca buku, mencari laporan resmi, mencatat poin penting, lalu menulis dengan bahasanya sendiri. Namun, siswa juga bisa memasukkan perintah ke AI dan mendapatkan rangkuman jadi dalam waktu singkat.
Hasil akhirnya mungkin sama-sama terlihat bagus. Tetapi proses di belakangnya berbeda total.
Menurut BRIN, survei yang mereka lakukan pada 2023 terhadap hampir 400 mahasiswa menunjukkan lebih dari separuh responden sudah menggunakan AI dan sebagian besar mempercayai jawaban yang dihasilkan teknologi tersebut. BRIN juga menemukan siswa lebih cepat beradaptasi dengan AI dibandingkan sebagian guru. Ini menunjukkan persoalannya bukan sekadar anak sekarang malas, melainkan perubahan teknologi yang bergerak lebih cepat daripada kesiapan ekosistem pendidikannya.
Data literasi juga membuat persoalan ini semakin relevan. Risalah Kebijakan Kemendikbud tentang optimalisasi peran buku mencatat skor membaca Indonesia dalam PISA 2022 sebesar 359 poin. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN. Jadi, ketika kemampuan membaca belum benar-benar kuat, muncul teknologi yang bisa langsung merangkum dan menjawab untuk kita. Kombinasi ini tentu perlu disikapi serius.
Yang menarik, pemerintah sebenarnya tidak sedang memusuhi AI. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 justru memasukkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan secara bertahap mulai kelas 5 sampai 12. Pemerintah juga mendorong pembelajaran mendalam agar siswa memahami materi secara utuh dan mampu menghubungkan konsep dengan konteks berbeda.
Jadi, pertanyaannya bukan AI boleh atau tidak? Pertanyaannya jauh lebih penting: AI dipakai untuk membuat siswa berpikir lebih jauh atau supaya siswa tidak perlu berpikir?
Buku Jangan Dijadikan Lawan AI
Menyuruh siswa kembali membaca buku sambil melarang AI juga bukan solusi. Anak-anak hidup di zaman teknologi, bukan di ruang kelas yang terpisah dari internet.
Yang perlu diubah justru cara keduanya ditempatkan.
AI bisa dipakai setelah siswa membaca sumber utama. Misalnya, siswa diminta membaca satu bab buku, kemudian menggunakan AI untuk menguji pemahamannya. AI juga bisa diminta memberikan sudut pandang berbeda, lalu siswa mencari apakah jawaban tersebut sesuai dengan sumber yang dibaca.
Dengan pola seperti ini, AI menjadi teman debat, bukan mesin jawaban.
Riset dari Universitas Airlangga pada 2025 tentang literasi AI di pendidikan tinggi juga menekankan pentingnya kemampuan memahami fungsi AI dan penggunaannya secara etis. Penelitian tersebut meninjau 153 literatur dan menyimpulkan bahwa pendidikan perlu membantu mahasiswa mengembangkan literasi AI, bukan sekadar mengajarkan cara memakai teknologinya. Universitas Airlangga
Guru pun perlu mendapat ruang untuk merancang tugas yang tidak selesai hanya dengan satu perintah kepada chatbot. Tugas bisa meminta siswa menghubungkan isi buku dengan kondisi lingkungan sekitar, membandingkan dua sumber, melakukan wawancara, mempertahankan pendapat dalam diskusi, atau menjelaskan mengapa sebuah jawaban AI dianggap keliru.
Dengan begitu, buku punya fungsi yang tidak mudah digantikan AI: menjadi tempat siswa berjumpa dengan gagasan secara utuh. Sementara AI menjadi alat untuk memperluas percakapan setelah proses membaca terjadi.
Sebab, pendidikan yang terlalu sibuk mengejar jawaban cepat berisiko menghasilkan generasi yang tahu banyak jawaban, tetapi gampang kehilangan arah ketika pertanyaannya berubah.
Mungkin kelak kita tidak lagi bertanya apakah siswa membaca buku atau menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika jawaban sudah tersedia dalam tiga detik, apakah sekolah masih berhasil membuat siswa mau berpikir selama tiga puluh menit?
Kalau jawabannya tidak, yang sedang kehilangan masa depan bukan bukunya. Yang sedang kehilangan latihan adalah cara berpikir kita sendiri.
Baca Juga
-
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
-
Self Reward dan Budaya Boros yang Diam-diam Dinormalisasi Gen Z
-
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
-
Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?
-
Review Lagu 'Patient Zero' Taylor Swift: Pesan Menohok Buat Kamu yang Terjebak Hubungan Manipulatif
Artikel Terkait
Kolom
-
Endingnya Jualan Kelas: Saat Netizen Lelah Jadi Target Pasar Influencer
-
Belajar dari Sejarah: Membedah Canggihnya Pengorganisasian Akar Rumput PKI
-
Jebakan Judul Clickbait: Ketika Netizen Merasa Cukup Membaca Parateks
-
UIN Suka Ungguli UGM di THE WUR 2027, Ini Kritik di Balik Capaiannya
-
Fangirling di Usia 20-an: Bolehkah Kita Bahagia Karena Hal Sesederhana Ini?
Terkini
-
5 Rekomendasi Drakor Komedi dengan Humor Absurd, Dijamin Bikin Ngakak!
-
Review Film It Ends: Sajian Sensasi Horor Psikologis yang Bikin Merinding!
-
Tayang 18 Oktober, Ashida Mana Bintangi Extraordinary Attorney Minami
-
5 Parfum Floral Fruity Terbaik untuk Tampil Memikat Saat First Date
-
The Conjuring: Unspoken, Game Horor Interaktif Berburu Hantu di Netflix