"Masa depanku gimana ya?"
Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di kepala ketika memasuki usia 20-an. Tentang pekerjaan, karier, keuangan, hubungan, keluarga, bahkan tentang apakah hidup yang sedang dijalani sekarang akan membawa kita ke tempat yang benar.
Lucunya, sebagian besar hal yang kita khawatirkan itu bahkan belum terjadi.
Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Bagaimana kalau aku belum mendapatkan pekerjaan? Bagaimana kalau karierku tidak berjalan sesuai rencana? Bagaimana kalau aku salah mengambil keputusan? Bagaimana kalau beberapa tahun lagi aku masih berada di titik yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang muncul begitu saja, terutama ketika hidup sedang terasa tidak pasti.
Sebagai seseorang yang sedang berada di usia 20-an dan baru memasuki fase setelah lulus kuliah, aku pun cukup sering mengalaminya. Setelah rutinitas sebagai mahasiswa berakhir, tiba-tiba ada banyak hal yang harus dipikirkan sendiri.
Tidak ada lagi jadwal kuliah yang teratur, tugas yang menjadi patokan, atau semester berikutnya yang sudah pasti akan dimulai. Sekarang, yang ada justru pertanyaan tentang masa depan. Sudah melamar ke mana hari ini? Kapan mendapatkan pekerjaan? Apakah pekerjaan yang didapat nanti sesuai dengan yang diinginkan? Kalau ternyata tidak, harus mulai dari mana lagi?
Kadang, satu pertanyaan bisa berkembang menjadi begitu banyak kemungkinan sampai membuat kepala terasa lelah sendiri. Yang melelahkan bukan hanya apa yang sedang terjadi hari ini, tetapi semua kemungkinan tentang hari esok yang kita ciptakan sendiri di dalam kepala. Padahal, masa depan belum terjadi.
Kita sering lupa bahwa ketika terlalu sibuk mengkhawatirkan hari esok, kita sedang kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir di hari ini. Kita sedang sarapan, tetapi pikiran sudah berada beberapa bulan ke depan. Kita sedang berbicara dengan orang lain, tetapi kepala sibuk memikirkan pekerjaan.
Seolah-olah hidup selalu menjadi perlombaan untuk sampai lebih cepat. Padahal, mungkin yang kita butuhkan bukan selalu jawaban, tetapi jeda.
Jeda untuk berhenti bertanya “bagaimana kalau?” selama beberapa saat. Jeda untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Jeda untuk mengingat bahwa hidup tidak harus selalu memiliki peta yang lengkap.
Bukan berarti kita tidak perlu memikirkan masa depan. Memiliki rencana tetap penting. Mencari pekerjaan, belajar keterampilan baru, menabung, menentukan tujuan, dan mempersiapkan diri adalah hal-hal yang bisa kita lakukan hari ini untuk masa depan.
Namun, mempersiapkan masa depan berbeda dengan terus-menerus mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Ada perbedaan antara berkata, “Apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk mendapatkan pekerjaan?” dengan “Bagaimana kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan sampai berbulan-bulan?”
Pertanyaan pertama membuat kita bergerak. Pertanyaan kedua terkadang hanya membuat kita takut. Mungkin karena itu, aku sedang belajar membedakan antara hal yang bisa aku usahakan dan hal yang memang belum bisa aku ketahui.
Kalau hari ini aku belum tahu akan bekerja di mana, tidak apa-apa. Kalau rencana yang sudah dibuat ternyata berubah, mungkin aku bisa menyesuaikannya nanti. Kalau jalanku ternyata berbeda dengan orang lain, bukan berarti aku tertinggal.
Aku hanya sedang menjalani waktuku sendiri. Dan mungkin, ini adalah salah satu hal tersulit yang harus dipelajari di usia 20-an, untuk menerima bahwa kita tidak harus mengetahui semuanya sekarang.
Kita boleh punya target tanpa harus panik ketika belum mencapainya. Kita boleh memiliki impian tanpa harus tahu persis bagaimana cara mencapainya. Kita boleh merasa bingung tanpa menganggap diri sendiri gagal. Sebab hidup bukan sesuatu yang harus diselesaikan secepat mungkin.
Ada hari ketika kita perlu berusaha. Ada hari ketika kita perlu belajar. Ada juga hari ketika kita hanya perlu berhenti sebentar dan membiarkan kepala beristirahat. Mungkin malam ini, daripada kembali memikirkan “bagaimana kalau nanti?” kita bisa bertanya sesuatu yang lebih sederhana seperti, “Apa yang bisa kulakukan untuk diriku hari ini?”
Mungkin jawabannya adalah mengirim satu lamaran pekerjaan. Mungkin membaca beberapa halaman buku. Mungkin belajar sesuatu yang baru. Atau mungkin justru tidur lebih awal karena tubuh dan pikiran sedang membutuhkan istirahat.
Tidak semua jeda adalah kemunduran. Terkadang, jeda justru membantu kita kembali melihat hidup dengan lebih jernih. Masa depan akan tetap datang, bahkan tanpa kita pikirkan sepanjang hari. Kita tidak perlu terus berlari mengejarnya sampai lupa bahwa kita sedang hidup hari ini.
Jadi, untuk diri sendiri dan mungkin juga untuk siapa pun yang sedang berada di fase yang sama, tidak apa-apa kalau masa depanmu belum terlihat jelas. Tidak semua hal tentang masa depan harus dijawab hari ini. Untuk sekarang, mungkin cukup jalani hari ini dengan sebaik yang kita bisa. Besok akan datang pada waktunya.
Dan ketika ia tiba, semoga kita sudah cukup beristirahat untuk menghadapinya.
Tag
Baca Juga
-
Stop Kebanyakan Scroll! Saatnya Kamu Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
-
Melangkah Mundur Sebelum Maju Lebih Jauh, Belajar dari Drama Summer Strike
-
Fangirling di Usia 20-an: Bolehkah Kita Bahagia Karena Hal Sesederhana Ini?
-
Review Streaming: Ketika Mengejar Jumlah Views Membawa Kita Terlalu Jauh
-
Post-Graduation Slump: Hilang Arah karena Rutinitas Berubah setelah Kuliah
Artikel Terkait
Kolom
-
Bahaya Brain Rot: Ketika Video Singkat Mengikis Fokus dan Daya Kritis
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Tanpa Kita Sadari, Politik Mempengaruhi Kehidupan Lingkungan dan Satwa
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Bukan Cuma Dua Musim, Laboratorium Sedusun Bongkar Mitos lewat Kearifan Gunungkidul
Terkini
-
Arin dan Yoon Chan Young Jadi Pemeran Utama Film Horor Bongcheon-dong Ghost
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri
-
Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri