Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Ilustrasi orang scroll (Pexels/Darina Belonogova)
Dian Haerani

Pernah tidak, niat awalnya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu?

Kita membuka Instagram untuk melihat satu unggahan, berpindah ke TikTok untuk menonton satu video, kemudian berakhir dengan scrolling tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dicari. Anehnya, setelah itu bukannya merasa lebih tenang, terkadang justru kepala terasa semakin penuh.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial memang sudah menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Kita menggunakannya untuk mencari informasi, berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan membangun karier.

Namun, di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, mungkin ada satu hal yang sering kita lupakan, kita juga membutuhkan jeda. Jeda tidak selalu berarti pergi berlibur atau menghilang dari kehidupan selama beberapa hari.

Terkadang, jeda bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti meletakkan ponsel dan berhenti scrolling untuk sementara. Inilah mengapa social media detox bisa menjadi salah satu bentuk self-care yang sederhana.

Social media detox tidak harus berarti menghapus semua aplikasi media sosial atau berhenti menggunakannya sama sekali. Bagi sebagian orang, langkah kecil seperti mengurangi waktu scrolling, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau memberikan batas waktu tertentu untuk membuka media sosial sudah bisa menjadi awal.

Hal terpenting adalah menyadari kembali bagaimana kita menggunakan media sosial. Apakah kita membukanya karena memang membutuhkan sesuatu, atau hanya karena merasa bosan? Apakah kita benar-benar menikmati konten yang dilihat, atau justru semakin lelah setelah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini bisa membantu kita mengenali kebiasaan digital yang selama ini dilakukan secara otomatis. Lalu, apa yang bisa dilakukan Gen Z untuk mengurangi screen time?

Pertama, coba mulai dari membuat 'waktu bebas gadget.' Tidak perlu langsung berjam-jam. Bisa dimulai dari 30 menit sebelum tidur atau ketika sedang makan. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk scrolling bisa digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih dekat dengan diri sendiri, seperti membaca buku, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati kopi tanpa harus mengabadikannya untuk media sosial.

Kedua, matikan notifikasi yang tidak benar-benar penting. Bunyi atau getaran dari ponsel sering kali membuat kita merasa harus segera memeriksa layar. Padahal, tidak semua pesan, komentar, atau unggahan membutuhkan respons saat itu juga. Memberi diri sendiri ruang untuk tidak selalu tersedia juga merupakan bentuk menghargai diri.

Ketiga, buat aktivitas pengganti. Mengurangi screen time akan terasa sulit jika satu-satunya kegiatan yang tersedia hanyalah menatap layar. Cobalah menggantinya dengan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, memasak, menggambar, membaca, berolahraga, membereskan kamar, atau mengobrol langsung dengan orang terdekat.

Keempat, jangan menjadikan detox sebagai hukuman. Kalau suatu hari kita kembali menghabiskan waktu terlalu lama di media sosial, tidak perlu merasa gagal. Tujuan dari jeda bukan untuk membuat kita sempurna dalam menggunakan teknologi, tetapi membantu kita memiliki hubungan yang lebih sadar dengan apa yang kita konsumsi setiap hari.

Pada akhirnya, media sosial bukan sesuatu yang harus kita musuhi. Ada banyak hal baik yang bisa kita dapatkan darinya. Kita bisa belajar, menemukan komunitas, mendapatkan hiburan, bahkan menemukan peluang pekerjaan melalui media sosial. Namun, kita juga berhak menentukan kapan harus berhenti.

Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, mungkin kita terlalu terbiasa mengisi setiap ruang kosong dengan scrolling. Menunggu kendaraan sambil membuka TikTok. Makan sambil menonton Reels. Sebelum tidur, kembali memeriksa timeline. Bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa, tangan kita secara otomatis mencari ponsel.

Padahal, mungkin tidak semua jeda harus diisi. Ada kalanya kita hanya perlu duduk diam, membiarkan pikiran beristirahat, dan menikmati beberapa menit tanpa harus mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia maya. Karena pada akhirnya, jeda bukan berarti kita tertinggal.

Kita tidak harus selalu online untuk tetap menjadi bagian dari dunia. Tidak harus mengetahui semua tren. Tidak harus membalas semuanya dengan cepat. Dan tidak harus mengisi setiap menit dengan sesuatu. Sesekali, letakkan ponsel. Tarik napas. Lihat sekeliling.

Mungkin ada kehidupan nyata yang selama ini terlalu sibuk kita scroll untuk diperhatikan.