Pagi itu, saya pikir dunia sedang berjalan baik-baik saja. Saking seringnya jadwal ujian di kampus dipindahkan, hari itu saya mengira ujian tengah semester (UTS) diundur ke minggu depan. Dengan tenang, saya memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Grup WhatsApp kelas pun anteng-anteng saja, tidak ada satu pun notifikasi yang mengingatkan bahwa hari itu adalah "kiamat kecil" bagi saya.
Tepat jam 8 pagi, ujian Kimia Bahan Alam ternyata sedang berlangsung. Dosennya terkenal sangat tegas dan tidak bisa mentolerir keterlambatan. Saya baru tersadar setelah salah satu teman mengirim pesan singkat sehabis ujian, bertanya mengapa saya tidak hadir. Detik itu juga, jantung saya rasanya mau copot.
Dengan panik, saya berlari ke kampus memanfaatkan sisa waktu 10 menit terakhir. Saya memakai trik menggunakan jaket dan masker, lalu berpura-pura sakit agar diizinkan masuk. Namun, dosen tetap tidak bergeming. Bahu saya seketika turun. Saya ingin menangis di tempat, tetapi ego saya menolak untuk terlihat rapuh di depan orang lain.
Ketika ujian selesai, teman-teman satu sirkel saya mulai berdatangan. Bukannya menanyakan keadaan atau menenangkan saya yang sedang di ambang batas stres melihat bayang-bayang nilai D di depan mata, mereka justru menghujani saya dengan pertanyaan bertubi-tubi:
"Kenapa kau telat, Hel?"
"Jadi kekmana kau, Hel?"
Ironisnya, ingatan saya langsung berputar pada momen-momen sebelumnya. Setiap kali ada di antara mereka yang terlambat kuliah, sayalah orang pertama yang repot melakukan spam chat dan menelepon mereka agar tidak ketinggalan kelas. Namun, hari ini, saat saya belum muncul pada hari itu, ponsel saya hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencari saya. Setelah menanyakan hal-hal formalitas, mereka pergi dengan rencana mereka sendiri, meninggalkan saya sendirian di koridor kampus.
Sepanjang jalan pulang ke kos, air mata saya tidak bisa dibendung lagi. Masker yang saya pakai basah kuyup oleh tetesan air mata yang terus ditahan. Di dalam kamar kos, saya menangis sejadi-jadinya selama satu jam penuh.
Sejujurnya, perasaan ditinggalkan ini bukan hal baru. Memorinya memicu kembali luka lama yang sudah saya alami sejak SD. Pas SD, saya pernah difitnah dan dijauhi tiba-tiba. Pas SMP, saya dikucilkan hanya karena menolak memberikan contekan ujian. Di masa SMA, saya harus melewati fase perundungan verbal (bullying). Rentetan kejadian itu membentuk karakter saya menjadi orang yang skeptis. Saya merasa tidak ada manusia yang benar-benar bisa dijadikan sahabat tempat bersandar, selain Tuhan. Saya kira saya sudah kebal terhadap itu semua, tetapi nyatanya, ditinggalkan teman tetap terasa sangat menyakitkan.
Di titik inilah kita perlu menyadari sebuah realitas pahit dalam hubungan sosial: ekspektasi adalah akar dari rasa kecewa. Dalam psikologi relasi, wajar jika kita mengharapkan hukum timbal-balik (reciprocity)—jika kita peduli, kita berharap dipedulikan balik. Namun, kenyataannya, tidak semua orang memiliki kapasitas empati atau kepekaan yang sama dengan kita.
Di tengah keterpurukan itu, Tuhan untungnya mengirimkan pertolongan dari arah yang tidak disangka. Rini, seorang teman di luar sirkel, mau menemani saya mencari dosen pada hari itu, ketika semua teman yang lain sudah pulang. Lalu ada Bangga, wakil ketua kelas, yang berbaik hati membantu saya saat ketua kelas saya sendiri sudah angkat tangan. Dia juga berjasa melobi dosen agar mau memaafkan saya dan menginformasikan jadwal ujian susulan hingga nilai saya keluar dan dinyatakan aman. Pengalaman ini membuka mata saya bahwa bantuan sering kali datang bukan dari orang-orang terdekat yang kita prioritaskan, melainkan dari mereka yang berada di lingkaran luar.
Lalu, bagaimana saya menyikapi teman-teman sirkel terdekat saya setelah kejadian itu? Mengamuk atau memusuhi mereka? Tidak. Saya memilih jalan yang lebih dewasa. Jujur, tidak mudah bagi saya untuk memaafkan mereka, tetapi saya memilih untuk tetap memaafkan.
Cara pandang baru yang saya ambil adalah melepaskan kendali atas tindakan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk peduli, seberapa pun seringnya kita memprioritaskan mereka. Manusia memiliki keterbatasan dan urusannya masing-masing. Memaafkan mereka bukan berarti kita lemah, melainkan cara kita menyembuhkan diri agar hati kita tidak terus-menerus diracuni oleh rasa dongkol dan kecewa.
Hingga hari ini, hubungan saya dengan sirkel tersebut masih berjalan biasa saja. Saya tidak melakukan cut-off atau memutus tali silaturahmi. Namun, ada satu batasan tegas yang saya bangun (emotional boundaries). Istilahnya, "Cukup tahu saja kalau kamu orangnya seperti itu."
Sekarang, saya membagi porsi pertemanan secara rasional. Mereka tetap menjadi teman bermain dan bersenang-senang, tetapi untuk urusan personal dan tempat mencurahkan isi hati, saya memilih untuk tidak bercerita kepada mereka. Malah, saya jadi punya teman-teman di luar sirkel yang walaupun tidak terlalu dekat, mau mendengarkan segala keluh kesah saya.
Bagi teman-teman yang saat ini sedang merasa kesepian atau ditinggalkan teman, belajarlah untuk memaafkan. Manusia, pada faktanya, akan selalu memiliki celah untuk mengecewakan. Ingat, kamu tidak bisa mengontrol orang lain, namun kamu bisa mengontrol dirimu sendiri. Berhenti menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada manusia adalah langkah awal terbaik untuk melindungi kesehatan mentalmu sendiri.
Baca Juga
-
Ingin Otak Lebih Tenang? Coba 5 Kegiatan Jeda Unik Ini untuk Redakan Stres
-
Tumbuh Seperti Bunga di Sela Jalanan Aspal
-
Saat Minta Maaf Diremehkan: Bahaya Emotional Invalidation dalam Pertemanan
-
Sering Mengasihani Diri Sendiri? Jangan-Jangan Kamu Lupa Mengambil Jeda
-
Review Ciao Kedai Dimsum Batam: Tempat Healing dan Spot Nulis Paling Tenang
Artikel Terkait
-
Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat
-
Jebakan Urgensi Palsu di Balik Notifikasi: Saatnya Merebut Kembali Kendali atas Waktumu
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Pelukan Suzume dan Pelajaran tentang Inner Child yang Sering Disalahpahami
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
Kolom
-
Kalau Syaratnya Tak Terpenuhi, Mengapa Bisa Lolos Sejak Awal?
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
Terkini
-
Di Luar Ada Zombie, di Dalam Ada Pembunuh! Review Novel Murder at Shijinso
-
Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat
-
Novel Ascendance of a Bookworm Bagian 4 Diadaptasi Jadi Anime TV
-
Jebakan Urgensi Palsu di Balik Notifikasi: Saatnya Merebut Kembali Kendali atas Waktumu
-
Tinggal Tap! 3 Stamp Blush On Ini Bikin Pipi Merona Cocok Buat Daily Makeup