Membangun karier biasanya identik dengan keinginan mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Namun, kondisi pasar kerja belakangan menunjukkan pilihan yang berbeda. Ada profesional yang sudah memiliki pengalaman cukup panjang di perusahaan swasta justru memilih melamar pekerjaan dengan tingkat posisi yang lebih rendah.
Fenomena ini dikenal sebagai downgrade career, yaitu ketika seseorang mengambil pekerjaan dengan tingkat tanggung jawab, kewenangan, atau penghasilan yang berada di bawah pekerjaan sebelumnya. Salah satu contohnya terlihat dari profesional berpengalaman yang ikut mencoba seleksi untuk posisi di sektor pemerintahan.
Menurut saya keputusan tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai kemunduran. Ada alasan ekonomi dan kondisi pekerjaan yang membuat seseorang rela mengubah arah kariernya.
Ketika Stabilitas Lebih Penting dari Jabatan
Tidak semua orang mengejar jabatan tinggi sepanjang perjalanan kariernya. Ketika kondisi perusahaan tidak menentu, kepastian penghasilan dan keberlangsungan pekerjaan bisa menjadi pertimbangan yang jauh lebih penting.
Efisiensi perusahaan, pengurangan tenaga kerja, dan perubahan kebutuhan industri membuat sebagian pekerja harus memikirkan kembali rencana kariernya. Posisi yang sebelumnya dianggap terlalu rendah bisa terlihat berbeda ketika dibandingkan dengan risiko kehilangan pekerjaan.
Menurut saya, di sinilah downgrade career menjadi sesuatu yang cukup lumrah dilakukan. Seseorang mungkin rela melepas sebagian pendapatan atau status pekerjaan sebelumnya karena ingin mendapatkan kondisi kerja yang lebih stabil.
Pilihan tersebut juga tidak selalu berarti orang itu menyerah terhadap karier. Bisa saja pekerjaan baru digunakan sebagai cara untuk menjaga kondisi keuangan sambil mencari kesempatan yang lebih sesuai di kemudian hari.
Pekerjaan Stabil, Tapi Masih Bisa Berkembang?
Meski memberikan rasa aman, pekerjaan yang berada jauh di bawah kemampuan seseorang tetap memiliki risiko.
Seseorang yang sudah bertahun-tahun mengasah kemampuan tentu berharap keahliannya tetap bisa digunakan. Jika pekerjaan baru lebih banyak diisi tugas sederhana dan berulang, kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri bisa semakin terbatas.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa membuat pekerjaan terasa kurang menantang. Keterampilan yang sebelumnya terus diasah melalui pengalaman kerja pun berisiko tidak berkembang seperti sebelumnya.
Menurut saya, hal ini juga perlu dipikirkan sebelum seseorang memutuskan turun level. Mendapatkan pekerjaan yang stabil memang penting, tetapi tetap memiliki ruang untuk berkembang juga tidak kalah penting.
Birokrasi Jangan Hanya Jadi Tempat Menampung Talenta
Masuknya profesional berpengalaman dari sektor swasta sebenarnya bisa memberikan keuntungan bagi birokrasi. Mereka membawa pengetahuan tentang dunia industri, pengalaman menyelesaikan masalah, dan kemampuan yang sudah dibentuk selama bekerja. Namun, pengalaman tersebut akan sia-sia jika tidak digunakan dengan baik.
Misalnya, seseorang memiliki keahlian khusus dalam pengelolaan SDM atau teknologi, tetapi setelah masuk birokrasi justru hanya mengerjakan tugas administratif yang tidak membutuhkan kemampuan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, organisasi memang mendapatkan pegawai baru, tetapi belum tentu mendapatkan manfaat dari seluruh pengalaman yang dimilikinya.
Karena itu, pemetaan kompetensi menjadi hal penting. Profesional yang masuk ke sektor publik seharusnya tetap memiliki ruang untuk memberikan kontribusi sesuai kemampuan, sekaligus kesempatan mengembangkan karier.
Yang Perlu Diperhatikan Pekerja
Memilih pekerjaan dengan posisi lebih rendah memang bisa menjadi jalan keluar ketika kondisi pasar kerja sedang tidak menentu. Namun, keputusan tersebut sebaiknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan rencana karier ke depan.
Pekerjaan yang memberikan kepastian akan lebih baik jika tetap memberi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan keahlian. Dengan begitu, kita tidak hanya mendapatkan pekerjaan untuk bertahan, tetapi juga masih punya ruang untuk membangun kariernya kembali.
Baca Juga
-
Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia
-
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
-
Lagu 'Haters' Kotak Mengajarkan Cara Terbaik Menikmati Hidup Tanpa Beban
-
Konflik Memanas di Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Buka Suara soal Insiden Keluar Kamp
-
Review Four Hands Two Sonatas: Kisah Dua Pianis Melawan Trauma Masa Lalu
Artikel Terkait
-
Usai Putusan MK, Karier Politik Gibran Dinilai Terancam hingga 2029
-
Sepatu Lari Apa yang Paling Stabil? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Pelari Pemula dan Pro
-
MBA Bukan Cuma Soal Gelar, Ini yang Makin Dicari Dunia Kerja
-
Tak Cuma Jawab Telepon, Ini Alasan Profesi Contact Center Makin Menjanjikan buat Karier
-
Ramai Jasa Bikin Surat Sakit Palsu: Bukti Karyawan Makin Licik atau Budaya Kerja yang Toxic?
Kolom
-
Diet Informasi: Cara Merebut Kembali Kedamaian Pikiran di Era Digital
-
Seni Berdamai dengan Kecewa: Mengapa Kita Sangat Membutuhkan 'Emotional Boundaries'
-
Kalau Syaratnya Tak Terpenuhi, Mengapa Bisa Lolos Sejak Awal?
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
Terkini
-
Demi Target Piala Asia 2027, Indonesia Siap Tambah Naturalisasi Pemain Baru
-
Gila Validasi dan Tak Mau Repot: Membedah Tren 5 Joki Paling Absurd di Indonesia
-
Pesta Buah di Hutan Ceria
-
Lelah dengan Rutinitas? Coba Tulis 5 Hal Ini di Jurnal Harian untuk Tenangkan Pikiran
-
Room Reset, Mind Reset: Saatnya Memberi Jeda untuk Diri Sendiri