Uang Rp25 ribu bisa habis dalam sekali beli kopi di kafe. Bagi saya, nominal yang sama justru bisa dipakai untuk bertahan hidup selama lima hari. Karena itu, kebiasaan nongkrong di tempat mahal bukan sesuatu yang bisa saya lakukan setiap hari. Di Jogja, untungnya, ada banyak alternatif yang lebih ramah di kantong.
Mencari kopi di bawah sepuluh ribu lalu duduk berjam-jam adalah cara saya bertahan hidup sekaligus bekerja. Tempatnya sangat bersahaja, fasilitasnya seadanya, dan rasanya jelas jauh dari kesan mewah. Akan tetapi selama dompet aman dan hati nyaman, rasanya tidak ada yang perlu disesali. Hidup toh tetap berputar tanpa kita harus memendam gengsi demi terlihat keren di mata orang lain.
Pengalaman ini membuat saya melihat downgrade lifestyle dengan sudut pandang berbeda, sebuah tren yang saat ini sedang ramai dibincangkan anak muda. Istilah gokil ini sebenarnya adalah fenomena turun kasta dalam bergaya hidup demi menyesuaikan isi kantong.
Wujudnya bisa apa saja. Mulai dari mengurangi jadwal nongkrong di kafe mahal, beralih ke barang lungsuran atau merek lokal yang murah, setia pada ponsel lama yang penting menyala, hingga memutus langganan aplikasi digital yang cuma jadi pajangan. Tak perlu mewah, yang penting fungsi dan berkahnya ada.
Menurut survei Voice of the Consumer 2025 dari PwC Indonesia, separuh konsumen di negeri ini mulai ketar-ketir memikirkan dompet akibat ekonomi yang labil dan biaya hidup yang makin naik kelas. Ujung-ujungnya, jurus hemat pun menjadi jalan ninja, seperti belanja dikurangi, atau cari alternatif yang lebih ramah di kantong.
Menariknya, 36 persen Gen Z Indonesia tertangkap kamera survei lebih memilih merek-merek murah ketimbang abang-abang seniornya di generasi atas. Data ini tentu menjadi bukti sahih kalau urusan harga murah dan "masuk akal" sekarang jadi panglima tertinggi, bahkan buat generasi yang katanya paling doyan estetik sekalipun.
Di luar persoalan biaya hidup, barang bermerek, tempat nongkrong hits, dan liburan estetik mendadak jadi rapor penentu kesuksesan hidup. Media sosial sukses mendekatkan mimpi-mimpi itu, membuat kita merasa wajib ikut antre dalam barisan kaum elite.
Padahal, potret digital itu sesungguhnya adalah tipuan. Foto di kafe mahal tidak memajang sisa saldo rekening, dan baju mewah tak otomatis jadi bukti sehatnya tabungan. Memaksa diri ikut semua tren konsumsi cuma karena takut dibilang kuper, ujung-ujungnya malah bikin dompet megap-megap kehabisan napas.
Untungnya, tren berhemat kini naik kelas lewat istilah loud budgeting dan underconsumption core. Yang satu mengajarkan kita buat jujur tanpa perlu malu jika kita tidak ada fulus, yang satunya lagi mengajak kita setia pakai barang lama sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi.
Fenomena ini setidaknya memberi kita angin segar bahwa hidup apa adanya kini punya panggungnya sendiri, tanpa harus minder dengan orang-orang yang pamer kemewahan. Meski begitu, pilihan untuk hidup sederhana nyatanya punya latar belakang yang berbeda.
Ada yang sengaja mengerem dompet demi masa depan, tapi ada juga yang terpaksa memangkas belanjaan karena isi dompetnya memang sedari dulu selalu sekarat. Dua hal ini jelas beda kasta, jangan sampai kesusahan hidup sehari-hari malah dibungkus rapi lalu disulap jadi tren gaya hidup yang terkesan keren.
Bagi saya pribadi, menurunkan standar gaya hidup adalah sebuah pilihan yang tidak perlu disesali. Kita tidak punya kewajiban moral untuk memelihara gengsi mahal hanya demi memuaskan pandangan tetangga. Memilih kopi murah, setia dengan motor lama, atau sesekali menolak ajakan nongkrong bukanlah tanda kita gagal dalam hidup.
Hidup yang merdeka itu diukur dari kenyamanan hati dan kemampuan kantong sendiri, bukan dari seberapa mahal barang yang bisa kita pamerkan ke orang lain.
Baca Juga
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
Artikel Terkait
Kolom
-
Pasangan Sering Mabar? Hati-Hati Terjebak Gaslighting dan Perselingkuhan Emosional
-
Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tak Harus Nunggu Teman: Seni Menemukan Ketenangan Lewat Solo Date
Terkini
-
5 Bi-Phase Micellar Water: Bersihkan Makeup Tebal Tanpa Bikin Kulit Kering
-
Review Below: Monster Laut, Keluarga, dan Konflik yang Terlalu Banyak
-
Lagi Banyak Pikiran, Kenapa Malah Ingin Menyikat Kamar Mandi?
-
Usai Hadirkan Anime, Firefly Wedding Umumkan Adaptasi Live-Action pada 2027
-
Cuaca Panas Ekstrem? Ini 4 Lip Balm SPF 50 Biar Bibir Nggak Gosong!