Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Journaling. (Pexels/Anastasia Shuraeva)
Dian Haerani

Kamu pasti pernah merasa begitu banyak hal memenuhi kepala, tetapi tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. Ada kekhawatiran tentang masa depan, pekerjaan yang belum selesai, percakapan yang terus terngiang, hingga perasaan yang sulit dijelaskan.

Semuanya bercampur menjadi satu, membuat pikiran terasa penuh bahkan ketika tubuh sedang tidak melakukan apa-apa. Kita mungkin mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton video, membuka media sosial, mendengarkan musik, atau mencari kesibukan lain.

Untuk sementara, pikiran terasa lebih tenang. Namun, ketika layar ponsel dimatikan dan suasana kembali sunyi, berbagai hal yang tadi berusaha kita abaikan terkadang muncul lagi. Dalam situasi seperti itu, mungkin kita tidak selalu membutuhkan hiburan baru.

Barangkali, kita hanya membutuhkan ruang untuk mendengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri sendiri. Salah satu cara sederhana untuk memulainya adalah melalui journaling.

Belakangan, journaling cukup sering dibicarakan sebagai bagian dari rutinitas self-care. Ada yang menghias jurnal dengan stiker dan warna-warna cantik, menuliskan daftar rasa syukur, mencatat suasana hati, atau membuat rencana untuk hari berikutnya.

Melihatnya di media sosial mungkin membuat kita tertarik untuk mencoba. Namun, terkadang kita justru mengurungkan niat karena merasa tidak pandai menulis. Kita berpikir bahwa jurnal harus terlihat rapi, menggunakan buku khusus, atau berisi kalimat-kalimat indah yang enak dibaca.

Padahal, journaling tidak harus seperti itu. Kita bisa memulainya dengan buku tulis biasa, aplikasi catatan di ponsel, atau selembar kertas yang kebetulan tersedia. Tidak perlu memikirkan tata bahasa, susunan kalimat, maupun apakah tulisan kita terdengar menarik.

Sebab, jurnal bukan sesuatu yang harus dipamerkan kepada orang lain. Ia adalah ruang pribadi tempat kita bisa jujur tanpa perlu khawatir akan dinilai. Kalau hari ini kita hanya mampu menulis, “Aku lelah, tetapi aku sendiri tidak tahu kenapa,” tuliskan saja. Tidak semua perasaan harus terdengar baik agar layak untuk dituliskan.

Ada kalanya pikiran terasa melelahkan bukan semata-mata karena banyaknya masalah, melainkan karena semuanya terus berputar tanpa menemukan tempat untuk berhenti. Kita memikirkan sesuatu, mengulang percakapan yang sudah berlalu, membayangkan kemungkinan terburuk, lalu memikirkan hal lain sebelum sempat memahami perasaan sendiri.

Menuliskannya di atas kertas bisa menjadi cara untuk memperhatikan pikiran-pikiran tersebut dengan lebih teratur. Hal yang semula terasa bercampur aduk perlahan dapat terlihat sebagai beberapa persoalan yang berbeda. 

Tentu saja, menulis tidak otomatis membuat semua masalah selesai. Ada persoalan yang tetap membutuhkan tindakan, percakapan dengan orang lain, atau bantuan profesional. Namun, journaling bisa menjadi langkah awal untuk memahami apa yang sedang kita rasakan sebelum memutuskan apa yang perlu dilakukan selanjutnya.

Terkadang, kita tidak membutuhkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang muncul di kepala. Kita hanya perlu mengakui bahwa pertanyaan itu ada, lalu memberi diri sendiri izin untuk tidak menyelesaikannya sekaligus.

Salah satu hal yang menarik dari journaling adalah kita tidak harus selalu mengakhirinya dengan kesimpulan positif. Kita tidak wajib menutup setiap tulisan dengan kalimat penuh semangat atau daftar pelajaran hidup. Ada hari ketika kita merasa bersyukur.

Ada hari ketika kita marah, kecewa, sedih, atau kehilangan arah. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak perlu selalu disamarkan menjadi sesuatu yang indah. Cobalah menyediakan waktu lima hingga sepuluh menit untuk menulis tanpa gangguan.

Letakkan ponsel jika memungkinkan, ambil napas perlahan, lalu tuliskan apa pun yang sedang memenuhi pikiran. Kamu juga bisa memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti “Apa yang sedang aku rasakan hari ini?”, “Apa yang membuatku lelah akhir-akhir ini?”, atau “Apa yang sebenarnya aku butuhkan sekarang?”

Tidak perlu memaksakan diri melakukannya setiap hari. Jika suatu waktu kamu tidak ingin menulis, tidak apa-apa. Jadikan journaling sebagai pilihan untuk merawat diri, bukan kewajiban baru yang justru menambah beban.

Pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengendalikan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan. Ada pekerjaan yang belum menemukan ujungnya, masa depan yang masih penuh tanda tanya, dan perasaan yang terkadang datang tanpa bisa kita jelaskan.

Jadi, ketika isi kepala terasa terlalu ramai, cobalah berhenti sejenak dan ambil selembar kertas. Tidak perlu menunggu sampai memiliki kata-kata yang tepat. Mulailah dari apa yang ada, bahkan jika itu hanya satu kalimat sederhana.

Sebab, terkadang jeda tidak berarti mengosongkan pikiran sepenuhnya. Jeda bisa berarti memberikan tempat bagi pikiran untuk beristirahat, bagi perasaan untuk diakui, dan bagi diri sendiri untuk bernapas tanpa harus segera menemukan jawaban.