Sekar Anindyah Lamase | Aryo Akhmad Maulana
Ilustrasi pria bermain gitar di atas sofa (Pexels/Vitaly Gariev)
Aryo Akhmad Maulana

Sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga. Setangguh-tangguhnya manusia bekerja, dia akan lelah juga. Jangankan makhluk hidup, mesin pun akan cepat aus jika dipaksa menyala tanpa henti. Manusia, termasuk saya dan kamu, juga perlu istirahat di tengah kesibukan.

Di sini, saya tidak hanya membahas rehat secara fisik. Istirahat memiliki makna yang lebih luas dari sekadar membaringkan tubuh atau meregangkan otot. Ia juga berarti memberi jarak antartumpukan rutinitas.

Ada banyak jenis jeda yang bisa kita ambil jika dilihat dari durasinya. Salah satunya yaitu rehat sejenak di akhir pekan. Sayangnya, ketika gaya hidup hustle culture menyerang, banyak dari kita justru melihat hak ini sebagai sebuah dosa besar: Istirahat dianggap sebagai bentuk kemalasan.

Padahal, jeda merupakan kebutuhan setiap manusia. Namun di satu sisi, kita juga perlu menjaga diri agar tidak berlebihan saat beristirahat. Perlu usaha untuk menyeimbangkan mereka. Oleh karena itu, berikut lima tips menjalani weekend tanpa rasa bersalah.

1. Ubah cara pandang terkait makna istirahat

Istirahat merupakan hak setiap individu. Bukan bentuk kemalasan. Terlebih lagi, vonis berat yang mendatangkan dosa besar. Manusia perlu rehat untuk mengisi ulang energi yang nyaris terkuras.

Tidak hanya raga, pikiran dan mental manusia juga perlu diberi waktu istirahat. Jika tidur berkualitas menjadi cara merehatkan badan, maka berhenti overthinking merupakan langkah otak untuk melepas lelah. Menanggung banyak beban emosional bisa sama lelahnya dengan melakukan aktivitas fisik. Oleh sebab itu, izinkan dirimu untuk melepas beban itu.

2. Buat rencana harian yang fleksibel

Sering kali kita merasa bersalah ketika gagal mencentang to-do-list. Tidak selalu karena kita malas. Bisa jadi itu tercipta karena ekspektasi yang berjarak terlalu jauh dari realitas. Dengan kata lain, kita menulis tugas-tugas yang jauh melampaui kapasitas diri sendiri.

Alih-alih terlalu panjang atau terlampau sulit, lebih baik kita fokus pada aktivitas penting. Tidak perlu banyak, dua atau tiga goals utama saja sudah cukup. Sisa waktunya bisa kita biarkan mengalir tanpa ada tanggungan ekspektasi.

3. Coba pengalaman baru yang sempat tertunda

Selama hari kerja, tenaga dan waktu kita dipakai untuk menyelesaikan deadline tugas. Sisa energi biasanya hanya cukup untuk perjalanan pulang, membersihkan diri, dan makan malam. Namun, tidak perlu khawatir. Kita bisa memanfaatkan akhir pekan untuk menebus itu semua.

Tidak harus muluk-muluk. Kamu bisa mencoba resep masakan baru, membaca buku favorit, atau menonton film terbaru. Apa pun kegiatan positif yang mendatangkan senyum ketika dilakukan, maka itu bisa menjadi ide rutinitas baru di akhir pekan.

4. Lakukan aktivitas ringan untuk menyeimbangkan pikiran 

Apa kamu termasuk orang yang gemar menumpuk barang? Jika iya, weekend bisa kamu manfaatkan untuk memilah timbunan tersebut. Selain menjadikan ruangan lebih lega, kegiatan ini juga bisa memicu perasaan bahagia.

Begitu pula dengan hal-hal lain. Banyak rutinitas sederhana yang cocok dilakukan ketika akhir pekan. Sebagai contoh, menyapa tetangga sekitar atau menghubungi teman dekat. Aktivitas tersebut memberi kepuasan emosional tanpa menguras banyak tenaga.

5. Terapkan digital detox sejenak

Terlalu sering melihat pencapaian orang lain bisa memicu perasaan cemas. Awalnya sekadar membayangkan jika diri kita berada di posisi itu. Namun lama-kelamaan, tumpukan ekspektasi tersebut justru bisa berbalik dan menghantui diri kita.

Memberi jeda dari mengakses media sosial itu tidak salah. Dan, tidak harus dimulai dari langkah yang besar, misalnya langsung menghapus akun. Mengatur pembatas waktu (timer) menjadi solusi realistis yang bisa dicoba.

Akhir pekan adalah kesempatan untuk sedikit berjarak dari riuh pekerjaan. Keputusan untuk rehat sejenak bukan awal dari kemunduran masa depan. Ia adalah hak sekaligus kebutuhan setiap individu.