Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Menghitung Gaji (magnific.com/jcomp)
Ukhro Wiyah

Orang bilang, uang bukanlah segalanya. Iya, saya pun sebenarnya setuju dengan pernyataan itu. Namun, kita juga tak bisa mengabaikan fakta bahwa nyaris semua hal yang kita lakukan dan butuhkan di dunia ini membutuhkan uang. Kebutuhan sehari-hari dibeli pakai uang, nongkrong perlu uang, jalan-jalan harus bawa uang, bahkan sekadar mampir buang air di toilet umum pun, ada tarif yang harus kita bayar.

Menghadapi kenyataan seperti itu, jujur, membuat saya kadang merasa jadi "kalkulator" berjalan untuk diri sendiri. Setiap kali ingin melakukan sesuatu, misal, nongkrong di kafe, short trip ke luar kota, atau sekadar makan di luar, yang pertama kali terlintas di kepala saya adalah angka-angka nominal yang perlu saya keluarkan. Seolah di pikiran ada kalkulator yang otomatis menghitung pengeluaran. Bahkan untuk keinginan paling sederhana sekalipun, rasanya perlu dipertimbangkan dengan matang.

Saya rasa itulah salah satu ironi menjadi orang yang memiliki gaji imut. Sudah bekerja keras tiap hari dan menghasilkan uang sendiri, tetapi masih harus menghitung berkali-kali sebelum menggunakannya untuk bersenang-senang. Situasi ini mungkin terasa lebih rumit bagi mereka yang juga harus menanggung kebutuhan keluarga atau yang kita kenal dengan istilah sandwich generation. Sebab uang yang mereka peroleh bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga turut menentukan nasib orang-orang yang bergantung padanya.

Sampai sini, saya akan coba berikan contoh sederhana, ketika ada keinginan untuk pergi ke luar kota, misalnya, hal pertama yang saya lihat ketika menyusun itinerary adalah uang yang harus dikeluarkan di setiap tempatnya. Mulai dari biaya transportasi, harga tiket, harga makanan, HTM tempat wisata, hingga pengeluaran darurat yang mungkin muncul saat berada di tempat tujuan.

Sebenarnya, nggak ada yang salah dengan menghitung pengeluaran di awal agar nggak berakhir boncos. Namun, terkadang kita sudah membuat perhitungan sedemikian rupa dan merasa mampu membiayainya, tetapi tetap saja ragu untuk berangkat. Ada kekhawatiran bahwa uang yang dikeluarkan sekarang justru akan merepotkan kita di kemudian hari. Alhasil, keinginan yang semula ingin diwujudkan malah kembali masuk daftar rencana. 

"Tapi kalau emang ada budget bukannya tinggal berangkat aja?"

Iya, bisa saja begitu. Namun, bagi sebagian orang dengan pendapatan pas-pasan, persoalannya bukan sekadar punya atau tidak punya budget. Ada pertimbangan lain yang membuat kita ragu, seperti kebutuhan yang belum terpenuhi atau kekhawatiran akan pengeluaran tak terduga. Akhirnya, menikmati hidup pun terasa seperti kemewahan yang harus dipikirkan berkali-kali. 

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar bisa survive sambil tetap menikmati hidup?

Jujur, cukup sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan itu. Sebab sampai saat ini, saya pun masih berada di titik yang sama.

Meskipun demikian, saya tetap berusaha menikmati hidup dengan lebih realistis. Mencoba menetapkan batasan untuk hal-hal yang bersifat keinginan dengan kesadaran bahwa tak semuanya harus dituruti sekarang juga. Hingga mencoba menyesuaikan bentuk kesenangan dari sesuatu yang sederhana dan sesuai kemampuan, tanpa harus mengikuti standar orang lain agar tak merasa bersalah saat mengeluarkan uang.

Semakin beranjak dewasa, kita seolah dipaksa untuk menyadari bahwa masalah keuangan di fase ini tidaklah sederhana. Kita mungkin sudah bekerja keras demi bisa bertahan hidup. Uang memang bukan segalanya.

Namun, di saat yang sama, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa keterbatasan uang bisa turut memengaruhi cara kita menjalani hidup. Mungkin kita tak bisa sepenuhnya berhenti untuk menghitung pengeluaran, tapi jangan sampai seluruh waktu kita habis hanya untuk  menghitung apa yang mampu dan tidak mampu kita beli.