Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Ilustrasi membalas pesan. (Pexels/Anna Shvets)
Dian Haerani

Pernahkah kamu merasa bersalah hanya karena belum membalas pesan seseorang? Padahal, kamu sedang beristirahat, sibuk mengerjakan sesuatu, atau bahkan sedang tidak punya energi untuk berbicara dengan siapa pun.

Namun, begitu melihat notifikasi masuk, pikiranmu langsung dipenuhi pertanyaan seperti, bagaimana kalau dia tersinggung? Bagaimana kalau dia menganggapku tidak peduli? Bagaimana kalau dia berpikir aku sengaja mengabaikannya?

Akhirnya, kamu tetap membalas pesan itu meskipun sebenarnya sedang ingin menikmati waktu sendiri. Kalau pernah mengalaminya, kamu mungkin tidak sendirian. Di era ketika komunikasi berlangsung begitu cepat, kita seolah terbiasa untuk selalu tersedia bagi orang lain.

Pesan bisa datang kapan saja, dari siapa saja, dan melalui berbagai platform. Bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa, kita terkadang merasa harus segera merespons setiap notifikasi yang muncul.Tanpa sadar, kita mulai menganggap bahwa menjadi orang yang baik berarti menjadi orang yang selalu bisa dihubungi.

Padahal, bukankah kita juga punya kehidupan yang perlu dijalani di luar layar ponsel?

Ada kalanya kita membalas pesan dengan cepat karena memang ingin melakukannya. Kita senang berbicara dengan teman, bertukar cerita dengan orang terdekat, atau membantu seseorang yang sedang membutuhkan tempat bercerita. Masalahnya muncul ketika kita merasa tidak punya pilihan selain selalu merespons.

Kita takut dianggap berubah hanya karena membalas pesan lebih lama dari biasanya. Kita khawatir seseorang akan kecewa ketika kita menolak telepon. Kita bahkan merasa harus menjelaskan panjang lebar mengapa kita tidak bisa membalas pesan saat itu juga.

Pada akhirnya, komunikasi yang seharusnya menjadi sarana untuk terhubung justru terasa seperti kewajiban yang tidak pernah selesai. Kita sedang makan, tetapi masih memikirkan pesan yang belum dibalas. Kita sedang menonton film, tetapi perhatian terus teralihkan oleh notifikasi. 

Kondisi ini bisa semakin melelahkan ketika kita terbiasa menjadi orang yang selalu mengutamakan kenyamanan orang lain. Kita ingin semua orang merasa diperhatikan, tetapi sering kali lupa memeriksa keadaan diri sendiri. Padahal, kita tidak harus mengorbankan ketenangan diri hanya untuk membuktikan bahwa kita peduli.

Salah satu hal yang perlu kita pelajari adalah membedakan antara peduli dan selalu tersedia (available). Tidak membalas pesan selama beberapa jam bukan otomatis berarti kita tidak menyayangi seseorang. Menolak telepon karena sedang lelah bukan berarti kita teman yang buruk. Mengatakan bahwa kita belum punya energi untuk bercerita juga tidak membuat kita menjadi orang yang egois.

Kita boleh membalas pesan setelah menyelesaikan pekerjaan. Kita boleh meletakkan ponsel ketika sedang makan bersama keluarga. Kita boleh mengaktifkan mode jangan ganggu saat ingin beristirahat. Kita bahkan boleh tidak membuka media sosial untuk sementara waktu.

Tentu saja, konteks tetap penting. Pesan darurat atau komunikasi yang memang berkaitan dengan tanggung jawab tertentu perlu diperlakukan berbeda dari obrolan santai. Menjaga batasan bukan berarti mengabaikan kewajiban, melainkan belajar menentukan kapan kita perlu merespons dan kapan kita boleh mengambil jeda.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memastikan orang lain tidak merasa diabaikan sampai lupa bahwa diri sendiri juga membutuhkan perhatian. Karena itu, sesekali kita perlu mengambil jeda dari tuntutan untuk selalu tersedia.

Mulailah dengan hal sederhana. Tidak perlu langsung menghilang dari media sosial atau berhenti membalas pesan sepanjang hari. Cobalah meletakkan ponsel ketika sedang menikmati makanan, membatasi notifikasi yang tidak mendesak, atau menyediakan waktu tertentu untuk beristirahat tanpa gangguan.

Jika ada pesan yang belum bisa dibalas, biarkan pesan itu menunggu sebentar. Kamu tidak harus menyelesaikan semua percakapan dalam satu waktu. Gunakan jeda tersebut untuk melakukan sesuatu yang membuatmu merasa lebih hadir dalam kehidupan sendiri seperti membaca buku, mendengarkan musik, dan berjalan santai.

Awalnya, mungkin akan muncul rasa bersalah. Kita mungkin masih bertanya-tanya apakah orang lain akan kecewa atau menganggap kita berubah. Namun, perlahan-lahan, kita bisa belajar bahwa tidak semua ketidaknyamanan orang lain harus langsung kita selesaikan dengan mengorbankan kebutuhan sendiri.

Pada akhirnya, menjadi orang yang peduli tidak harus berarti menjadi orang yang bisa dihubungi setiap saat. Kita boleh memiliki hubungan yang hangat sekaligus batasan yang sehat. Kita boleh menyayangi orang lain tanpa mengabaikan diri sendiri. Dan kita boleh mengambil waktu untuk beristirahat tanpa merasa harus meminta maaf karena menjadi manusia yang punya keterbatasan.

Sebab, di tengah dunia yang menuntut kita selalu terhubung, mungkin salah satu bentuk jeda yang paling sederhana adalah memberi diri sendiri izin untuk tidak selalu tersedia. Kamu tidak harus selalu online untuk membuktikan bahwa kamu peduli. Sesekali, hadirlah untuk dirimu sendiri.