Di era media sosial saat ini, popularitas sudah dianggap seperti tolok ukur kesuksesan baru yang wajib dikejar. Banyak orang berlomba-lomba panjat sosial, membuat konten terlewat nyeleneh, hingga rela melakukan hal nekat demi mendapatkan perhatian netizen dan masuk ke beranda For You Page (FYP). Namun, di balik indahnya dipuja dan dihujani pujian di dunia maya, pernahkah kita memikirkan sisi kelam yang tersembunyi di baliknya? Popularitas yang dikejar mati-matian itu sering kali menuntut bayaran yang sangat mahal, yaitu hilangnya ruang pribadi dan rasa kesepian yang mendalam.
Kisah musisi papan atas Justin Bieber adalah gambaran paling nyata dari fenomena ini. Lewat lagunya yang berjudul Lonely yang rilis pada tahun 2021 lalu, ia secara terbuka menggambarkan betapa terisolasinya hidup di puncak ketenaran. Ada salah satu lirik yang akhir akhir ini saya pikirkan, yaitu "What if you had it all, but nobody to call?" Sekilas frasa itu terdengar mengada-ada. Bagaimana mungkin seorang bintang dunia yang kaya raya dan punya puluhan juta penggemar seperti Justin Bieber merasa bingung mencari teman untuk sekadar curhat?
Namun, itulah kenyataan pahit dari sebuah popularitas. Saat seseorang berada di puncak ketenaran, sangat sulit baginya untuk membedakan mana orang yang benar-benar tulus berteman dan mana yang mendekat hanya demi memanfaatkan nama besarnya. Ketenaran bukannya mendekatkan kita pada hubungan sosial yang hangat, melainkan justru membangun tembok isolasi yang tebal. Seseorang bisa saja dikelilingi ribuan orang yang bertepuk tangan, tetapi merasa amat sendirian ketika lampu panggung dipadamkan.
Rasa kesepian ini makin diperparah oleh fakta bahwa kehidupan seorang figur publik ibarat tinggal di dalam rumah kaca tembus pandang. Tidak ada lagi privasi yang tersisa. Setiap sudut kehidupan diintai, setiap perkataan diawasi, dan setiap gerak-gerik siap dinilai oleh publik yang serba penasaran. Kondisi penuh tekanan inilah yang mengingatkan kita pada pesan tegas dari ulama Imam Ahmad: "Barangsiapa yang diuji dengan popularitas, maka dia tidak aman dari fitnah."
Ketika seseorang tidak lagi memiliki ruang aman untuk bercerita atau sekadar menjadi manusia biasa yang tidak sempurna, risiko tergelincir menjadi sangat besar. Kesalahan kecil atau prasangka sepihak bisa dalam hitungan detik digoreng oleh netizen, memicu gelombang penghakiman massa, hingga menghancurkan nama baik yang telah dibangun bertahun-tahun.
Melihat betapa rapuhnya kehidupan di bawah sorotan lampu kilat, obsesi untuk menjadi terkenal di media sosial sudah sepantasnya kita pertanyakan kembali. Nasihat bijak dari Imam Al-Ghazali sangat tepat untuk menampar fenomena "kebelet viral" yang kian marak hari ini: "Yang tercela adalah apabila seseorang menyengajakan dirinya mencari popularitas. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka ia tidaklah tercela."
Bayangkan saja, hampir semua permasalahan keluarga, percintaan, dan pekerjaan milik orang orang terkenal diunggah ke media sosial untuk mencari atensi. Bahkan tidak jarang, aib yang seharusnya kita jaga rapat-rapat langsung mencuat begitu saja.
Namun, di balik semua itu, kita perlu memahami bahwa tidak semua orang ingin viral hanya karena gengsi atau sekadar cari perhatian. Di tengah tuntutan ekonomi saat ini, menjadi content creator adalah profesi yang sah, penuh perjuangan, dan diidamkan banyak orang. Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan media sosial untuk mencari rezeki, promosi, atau membangun karier. Hanya saja, kita perlu makin cerdas menetapkan batas. Jangan sampai demi mengejar algoritma dan perhatian publik, kita justru mengorbankan privasi, ketenangan pikiran, dan ruang aman bersama orang-orang terdekat yang benar-benar peduli.
Baca Juga
-
5 Rekomendasi Drakor Awal Oktober yang Wajib Masuk Watchlist Kamu!
-
Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!
-
Pagi Hari Nongkrong di Warkop, Mengapa Petani Bojonegoro Sering Dikira Pengangguran?
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
Artikel Terkait
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
WhatsApp Siapkan Fitur Baru Sembunyikan Chat dari Perangkat Terhubung
-
WiFi Publik Apakah Aman? Ini Cara Mengaktifkan Privasi Agar Tak Dipantau
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
-
Ribuan Followers tapi Kesepian? Buku Klasik Tahun 1936 Ini Punya Jawaban Menohok Buat Gen Z!
Kolom
-
Quiet Quitting pada Gen Z: Malas Bekerja atau Butuh Jeda Akibat Burnout?
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri
-
Takut Menikah dan Pilih Childfree: Kebebasan atau Cermin Krisis Ekonomi?
-
Tak Semua Pesan Harus Dibalas Sekarang, Berhenti Jadi Terlalu Available!
-
Jebakan Phubbing: Ketika Layar HP Mengikis Kehangatan Hubungan Nyata
Terkini
-
Ulasan Be With You: Jika Hujan Bisa Membawa Kembali Orang yang Kita Rindu
-
Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982
-
The Rivals of Amziah King: Balas Dendam Tragis Peternak Lebah di Oklahoma
-
Ketika Latihan Militer Berujung Teror Alien di Film War Machine
-
Scrolling saat Istirahat, Bisakah Menjadi Bentuk Jeda yang Kita Butuhkan?