Terus terang, saya kecewa dengan Metallica.
Kekecewaan ini muncul setelah saya mendengar informasi yang beredar di media sosial bahwa grup band metal yang saya kagumi ini menolak bersikap terhadap genosida Zionis Israel terhadap bangsa Palestina dengan alasan tidak mau bersikap politik.
Saya belum memastikan kebenaran informasi tersebut. Namun, jika memang benar demikian, saya merasa perlu mempertanyakan sikap mereka.
Saya dibesarkan dengan lagu-lagu humanis-politis dari Metallica. Salah satunya adalah One, yang menyuarakan sikap anti perang dari sudut pandang korban perang. Lagu ini bercerita tentang seorang prajurit yang tubuhnya hancur akibat perang, kehilangan kemampuan untuk melihat, mendengar, berbicara, dan bergerak. Ia masih hidup, tetapi hidupnya sendiri telah menjadi penderitaan yang tak berkesudahan.
Metallica mengajak kita melihat perang dari sudut pandang korbannya, bukan dari sudut pandang para jenderal yang menyusun strategi atau para penguasa yang memutuskan siapa yang harus berperang. Bagi saya, ini merupakan sikap politis yang jelas. Perang bukan sekadar urusan kemenangan dan kekalahan, melainkan juga tentang manusia-manusia yang harus menanggung akibatnya.
Ada juga For Whom the Bell Tolls, yang terinspirasi dari novel Ernest Hemingway dengan judul yang sama. Novel ini berlatar Perang Saudara Spanyol, ketika kaum Republikan berjuang melawan kediktatoran Jenderal Franco. Hemingway sendiri terlibat dalam peliputan perang Spanyol dan bersimpati kepada perjuangan kaum Republikan.
Saya tidak mengatakan bahwa lagu Metallica tersebut secara langsung merupakan dukungan terhadap sosialisme atau perjuangan kaum Republikan. Namun, latar belakangnya menunjukkan bahwa musik mereka juga bersentuhan dengan sejarah perang dan konflik politik.
Kemudian ada Master of Puppets. Lagu ini berbicara tentang bagaimana narkoba dapat mengendalikan manusia hingga kehilangan kebebasannya sendiri. Manusia yang semula merasa memiliki kendali atas dirinya justru menjadi budak dari sesuatu yang menguasai hidupnya.
Bagi saya, lagu-lagu tersebut memperlihatkan bahwa Metallica bukan band yang asing dengan persoalan kemanusiaan, kebebasan, dan penindasan.
Puncaknya, menurut saya, ada pada album ...And Justice for All. Album ini saya pandang sebagai sebuah manifesto politik bahwa penindasan harus dilawan dan keadilan harus ditegakkan. Keadilan tidak boleh hanya menjadi slogan, sementara dalam kenyataannya hukum dan kekuasaan justru berpihak kepada mereka yang memiliki uang dan kekuatan.
Karena itulah, saya merasa aneh jika Metallica benar-benar memilih untuk tidak bersikap terhadap penderitaan bangsa Palestina dengan alasan tidak mau berpolitik.
Bukankah lagu-lagu mereka sendiri memperlihatkan bahwa persoalan manusia tidak bisa begitu saja dipisahkan dari politik?
Tentu saja, saya memahami bahwa tidak semua musisi harus terlibat dalam politik praktis. Mereka tidak harus menjadi anggota partai politik atau mendukung kandidat tertentu. Namun, menolak politik praktis berbeda dengan menolak bersikap terhadap persoalan kemanusiaan.
Ketika sebuah bangsa mengalami kehancuran, ketika warga sipil menjadi korban serangan, ketika anak-anak kehilangan orang tua dan rumah mereka, apakah menyatakan solidaritas kepada para korban harus dianggap sebagai sikap politik yang harus dihindari?
Bagi saya, ini bukan semata-mata persoalan politik. Ini persoalan kemanusiaan.
Saya justru teringat kepada Axl Rose, vokalis Guns N' Roses, yang mengangkat bendera Palestina ketika tampil bersama bandnya di Bogotá, Kolombia, pada Oktober 2025. Gestur itu menjadi perhatian karena berlangsung ketika mereka membawakan lagu Civil War, yang juga berbicara tentang perang.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa Axl Rose selalu benar atau bahwa setiap musisi harus mengikuti tindakannya. Namun, apa yang dilakukannya memperlihatkan bahwa seorang musisi dapat menggunakan panggungnya untuk menunjukkan solidaritas terhadap bangsa yang sedang mengalami penderitaan.
Axl Rose tidak perlu mengubah konsernya menjadi rapat politik untuk menunjukkan sikap tersebut. Ia cukup mengangkat bendera Palestina di tengah penampilan sebuah lagu yang berbicara tentang perang.
Lantas, mengapa Metallica harus bersembunyi di balik alasan tidak mau berpolitik jika memang persoalannya adalah menyatakan solidaritas terhadap Palestina?
Bagi saya, persoalannya bukan apakah Metallica harus menjadi aktivis politik. Persoalannya adalah konsistensi antara pesan yang mereka sampaikan melalui lagu-lagu mereka dan sikap yang mereka tunjukkan ketika berhadapan dengan persoalan kemanusiaan.
Saya tahu bahwa sebuah lagu bisa memiliki makna yang berbeda bagi penciptanya dan bagi pendengarnya. Saya juga tidak bisa memaksakan tafsir saya terhadap lagu-lagu Metallica kepada para personelnya. Namun, sebagai pendengar yang tumbuh bersama musik mereka, saya merasa berhak mempertanyakan sikap mereka.
Saya mengagumi Metallica bukan hanya karena musiknya, tetapi juga karena pesan yang saya temukan dalam lagu-lagu mereka. One membuat saya melihat penderitaan korban perang. For Whom the Bell Tolls mengingatkan saya pada kematian yang ditimbulkan peperangan. Master of Puppets berbicara tentang manusia yang kehilangan kebebasannya. Sementara itu, ...And Justice for All mengingatkan saya pada keadilan yang dapat dikhianati oleh kekuasaan.
Karena itulah, jika kabar tentang sikap Metallica terhadap Palestina tersebut benar, saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan saya.
Saya tidak menuntut mereka untuk selalu menyuarakan pandangan politik yang sama dengan saya. Saya hanya berharap band yang lagu-lagunya berbicara tentang penderitaan manusia dan ketidakadilan tidak menjadikan alasan tidak mau berpolitik sebagai cara untuk menghindari persoalan kemanusiaan.
Sebab, bagi saya, keadilan bukan sekadar judul album. Kemanusiaan juga bukan sekadar tema lagu.
Dan jika kita bisa merasakan penderitaan seorang korban perang melalui One, seharusnya kita juga bisa melihat penderitaan manusia yang menjadi korban perang di Palestina.
Saya tetap menghargai lagu-lagu Metallica yang telah menemani perjalanan hidup saya. Namun, mengagumi sebuah band tidak berarti saya harus berhenti bersikap kritis terhadap mereka.
Justru karena saya pernah begitu mengagumi Metallica, saya merasa kecewa ketika mendengar kabar tersebut.
Sebab, bagi saya, musik yang berbicara tentang kemanusiaan semestinya tidak membuat kita berpaling ketika kemanusiaan itu sendiri sedang diinjak-injak.
Baca Juga
-
Pansus Ijazah Gibran Menggelinding, Siapa Elite Politik yang Paling Diuntungkan?
-
Pansus Ijazah Gibran: Siapa yang Diuntungkan Jika Kursi Wapres Kosong?
-
Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?
-
Setan dan Seorang Anak
-
The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama
Artikel Terkait
-
24 Tahun Bom Bali, Kenangan dan Doa untuk 202 Korban
-
Tablig Akbar di Monas, Ribuan Jemaah Panjatkan Doa untuk Indonesia
-
Menembus Tenda: Mengapa Safe Zone di Gaza Gagal Melindungi Sipil?
-
Macklemore Bikin Tur 'Free Palestine', Tiket dari 3 Kota Langsung Ludes
-
Tolak Pidato Netanyahu di PBB, DPR Puji Aksi Walk Out Delegasi Indonesia
Kolom
-
Ketua Komite FFI 2026 Ikut Kaget, Publik Pertanyakan Transparansi Seleksi Piala Citra
-
Ironi Guru di Indonesia: Tunjangan Tak Kunjung Cair Sampai Harus Ngutang Bensin buat Mengajar
-
Rekonstruksi Makna YOLO: Hidup Cuma Sekali, tapi Masa Depan Butuh Biaya
-
Pendidikan Indonesia Abad 21: Bukan Zamannya Lagi Gonta-ganti Kurikulum
-
Pansus Ijazah Gibran Menggelinding, Siapa Elite Politik yang Paling Diuntungkan?
Terkini
-
Anime Adaptasi Webtoon The Boxer Bagikan PV, Ungkap 4 Pengisi Suara Utama
-
Review Film Whalefall: Pengalaman Menegangkan Berada di Perut Mamalia Laut
-
Kulit Dehidrasi? Ini 4 Krim Malam Hyaluronic Acid Penyelamat Skin Barrier
-
Dicibir Netizen karena Tanya Target Nikah ke Marsha Aruan, Evelyn Chrestella Akhirnya Minta Maaf
-
Terjebak Hustle Culture? Ini Tanda Gen Z Harus Segera Ambil Jeda Biar Nggak Kena Job Fatigue