Hayuning Ratri Hapsari | Sukatman Sukatman
Ilustrasi seseorang yang sedang pusing memikirkan anggaran dan beban pengeluaran keuangan. (Pexels/El Jundi)
Sukatman Sukatman

Melansir laporan teranyar International Monetary Fund (IMF) yang disiarkan BeritaSatu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan bakal tetap stabil di kisaran 5,1%. Angka ini berada di atas rata-rata negara berkembang di Asia yang diperkirakan melambat ke kisaran 4,9%.

Di atas kertas laporan makro, capaian ini tentu terdengar memukau. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri: mengapa angka pertumbuhan yang mentereng itu kerap terasa kontras di ruang dapur rumah tangga kita?

Ilusi Angka Makro dan Realita di Struk Belanja

Bagi sebagian besar publik, pujian lembaga donor internasional seperti IMF kerap disambut dengan nada skeptis. Ada alasan kuat di baliknya. Ketika indikator makro berstatus hijau, kelompok masyarakat kelas menengah justru sedang bertarung dengan fenomena "mantab" alias makan tabungan.

Proyeksi inflasi yang diperkirakan merangkak naik ke kisaran 3,3% menjadi penanda bahwa daya beli memang sedang diuji. Lantas, siapa yang paling merasakan dampaknya?

Jawabannya adalah kelas menengah. Kelompok ini berada di posisi yang serba canggung:

  • Kelompok Atas: Memiliki aset tebal yang relatif terproteksi dari gejolak inflasi.
  • Kelompok Bawah: Mendapat jaring pengaman sosial berupa Bantuan Sosial (Bansos) pemerintah.
  • Kelompok Menengah: Terjepit di tengah. Dianggap terlalu mampu untuk menerima Bansos, namun terlalu rentan untuk menanggung kenaikan harga kebutuhan dasar, pajak, dan beban biaya hidup sehari-hari.

Mengapa Tulang Punggung Ekonomi Ini Menjadi Rentan?

Meski tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis ke 4,7%, sebagian besar penyerapan tenaga kerja baru berada di sektor informal dengan tingkat pendapatan yang serba tidak pasti.

Di saat yang sama, porsi pengeluaran wajib untuk kesehatan, pendidikan, dan cicilan hunian terus membengkak. Keterbelahan (decoupling) antara statistik makro yang stabil dan daya tahan finansial riil inilah yang berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan tepat.

Jika mesin konsumsi domestik dari kelas menengah meredup, ketahanan ekonomi yang dipuji IMF tersebut berisiko tergerus dari dalam.

Solusi Bijak: Meredam Tekanan Fiskal dan Moneter

Menanggapi situasi ini, kita tidak perlu terjebak dalam arus sinisme ekstrem maupun perayaan angka secara berlebihan. Yang dibutuhkan saat ini adalah langkah taktis dan bersolusi dari pembuat kebijakan:

  1. Fleksibilitas Kebijakan Fiskal: Pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) atau insentif potongan pajak riil yang menyasar biaya pendidikan dan kesehatan kelas menengah.
  2. Program Hunian Terjangkau: Menyediakan skema pembiayaan perumahan (affordable housing) dengan suku bunga yang stabil dan terjangkau khusus bagi kelompok pekerja produktif.
  3. Efisiensi Pengeluaran Publik: Memastikan akses layanan dasar publik beroperasi secara optimal sehingga pengeluaran swasta (out-of-pocket expense) masyarakat dapat ditekan secara signifikan.

Refleksi Akhir

Angka 5,1% dari IMF adalah modal berharga di tengah badai ekonomi global. Namun, ukuran keberhasilan ekonomi sejati tidak hanya berhenti pada tabel kalkulasi statistik, melainkan sejauh mana angka tersebut memberi ruang napas bagi daya beli masyarakatnya.

Menurut Anda, kebijakan konkret apa yang paling mendesak agar pertumbuhan ekonomi ini benar-benar terasa di kantong kita sehari-hari?