Media sosial kini memberi ruang untuk setiap orang berkesempatan menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Berbagai konten yang diunggah, mulai dari jalan rusak, tumpukan sampah, bencana alam, hingga konflik antarwarga dapat menjadi unggahan yang menarik perhatian publik.
Kehadiran akun pribadi pada media sosial yang sering kali mengangkat masalah lokal dapat menjadi hal positif, karena tidak semua persoalan mendapat perhatian dalam lingkup media massa. Melalui foto, video, atau cerita yang dibagikan, seseorang dapat menunjukkan kondisi nyata di lingkungannya sekaligus mendorong masyarakat dan pihak terkait untuk peduli dengan persoalan tersebut.
Pedang Bermata Dua Citizen Journalism
Fenomena yang marak terjadi zaman sekarang berkaitan dengan konsep citizen journalism yaitu keterlibatan masyarakat sipil dalam proses pembuatan dan penyebaran informasi mengenai kepentingan publik. Hal ini selaras dengan Zhou (2025), yang mengatakan citizen journalism merupakan kegiatan masyarakat umum atau nonprofesional ikut berpartisipasi dalam pembuatan, penyebaran dan konsumsi informasi melalui platform media sosial.
Zhou (2025) menjelaskan bahwa konten berita yang dibuat pengguna memiliki potensi untuk menyampaikan informasi secara cepat dan memengaruhi masyarakat, namun tetap menghadapi persoalan kredibilitas, bias, dan informasi yang keliru. Hal ini menunjukkan perlunya keseimbangan dengan tanggung jawab dalam memastikan ketepatan informasi sebelum publikasi dan penyebaran kepada publik.
Selain kebenaran informasi, cara seseorang menyampaikan masalah lokal yang ingin diangkat seperti kalimat yang berlebihan ataupun mengandung unsur negatif juga dapat memengaruhi reaksi dan resepsi masyarakat.
Persoalan seperti kepanikan yang berlebihan juga dapat muncul akibat unggahan yang hanya menampilkan situasi mengkhawatirkan tanpa memberikan penjelasan atau saran lanjutan mengenai tindakan yang sebaiknya dilakukan masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, pengguna media sosial mungkin hanya mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya, tetapi tidak memahami secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana menyikapinya. Akibatnya, unggahan yang tersebar berisiko menimbulkan bias dan memperbesar kepanikan masyarakat.
Dalam situasi tertentu, penyebaran informasi yang belum terverifikasi juga dapat menimbulkan ketakutan atau kepanikan. Hilberts et al. (2025), melalui tinjauan terhadap sejumlah penelitian, menjelaskan bahwa misinformasi di media sosial dalam konteks bencana dapat menyebar lebih cepat daripada komunikasi resmi, meningkatkan ketakutan dan kecemasan, serta mengganggu respons terhadap keadaan darurat.
Tanggung Jawab Pembuat dan Pembaca Konten
Meskipun demikian, bukan berarti masyarakat harus berhenti mengunggah masalah lokal yang mereka temui di lingkungan sekitar. Dokumentasi mengenai jalan rusak, fasilitas umum yang tidak terawat, bencana alam atau dugaan pelanggaran pelayanan publik tetap dapat membantu membuka perhatian terhadap masalah yang sebelumnya kurang diketahui oleh masyarakat ataupun pemerintahan.
Selain memastikan kebenaran informasi, pemilik akun juga dapat membantu para pengguna memahami langkah yang perlu dilakukan melalui keterangan yang jelas dan relevan. Terutama ketika informasi yang diunggah berkaitan dengan keadaan darurat, pemilik akun dapat menyertakan imbauan yang terverifikasi atau rujukan positif lainnya kepada para pengguna media sosial yang menonton.
Di sisi lain, pengguna media sosial yang melihat unggahan tersebut juga memiliki tanggung jawab untuk tidak langsung mempercayai atau menyebarkan kembali. Membaca informasi secara menyeluruh, memeriksa sumber, dan membandingkan keterangan dengan informasi lain yang dapat dipercaya merupakan langkah sederhana untuk mengurangi penyebaran informasi keliru.
Pada akhirnya, akun pribadi dalam bermedia sosial memiliki kesempatan untuk menjadi ruang bagi masyarakat dalam menyuarakan masalah lokal yang sedang terjadi dan penting untuk diketahui masyarakat.
Menyuarakan masalah memang penting, tetapi menyampaikan informasi secara bertanggung jawab juga tidak kalah pentingnya. Media sosial seharusnya membantu masyarakat dalam memahami suatu permasalahan dan mengambil tindakan yang tepat, bukannya justru menimbulkan kepanikan hebat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Pulang dari Belanda ke Jakarta: Kapan Artefak Adat Benar-Benar Merdeka?
-
Kita Tak Wajib Menjadi Penampung Masalah Rumah Tangga Orang Lain
-
Mengenal Degree Inflation: Mengapa Gelar S1 Makin Sulit Cari Kerja?
-
Sisi Gelap Ekonomi Sirkular: Saat Semangat Daur Ulang Warga Kandas karena Pasar
-
Ketika Anak Takut Berangkat Sekolah, Siapa Bertanggung Jawab?
Terkini
-
Detective Conan: Heiji dan Kazuha Akhirnya Resmi Pacaran Setelah 28 Tahun
-
Tingkatkan Literasi Pelajar, Permata Bank Gelar Edukasi di SMP Negeri 3 Ngaglik
-
Drama Kelangkaan BBM di Bali: Saat Pertalite Jadi 'Barang Mewah' di Tangan Calo Online
-
Apakah Mitos di Waduk Salmokji Seseram di Film Salmokji: Whispering Water?
-
Review Film Street Fighter: Kembalinya Turnamen Bela Diri Paling Ikonik!