Saya masih tidak bisa menerima sikap Metallica yang terkesan apolitis. Setelah menulis Metallica, Palestina, dan Ironi Sebuah Band Anti-Perang, saya mencoba menelusuri kembali sejarah band ini. Saya ingin melihat bagaimana perjalanan mereka sejak awal, ketika Metallica masih sekelompok anak muda yang memainkan musik keras dengan semangat pemberontakan.
Metallica terbentuk di Los Angeles pada 1981, berawal dari James Hetfield dan Lars Ulrich. Mereka kemudian merekrut Dave Mustaine sebagai gitaris. Namun, pada 1983, Mustaine dikeluarkan dari band dan kemudian membentuk Megadeth. Setelah itu, Kirk Hammett bergabung sebagai pengganti Mustaine.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Metallica adalah Cliff Burton. Ia bukan sekadar pemain bas. Pengetahuan musiknya luas, termasuk pengaruh musik klasik. Kita bisa mendengarnya dalam For Whom the Bell Tolls, terutama pada bagian intro yang menampilkan suara bas dengan distorsi yang begitu kuat, sampai-sampai terdengar seperti gitar listrik.
Judul lagu itu mengingatkan kita pada novel Ernest Hemingway, For Whom the Bell Tolls, yang berlatar Perang Saudara Spanyol. Perang dan kematian menjadi bagian penting dari novel tersebut, sebagaimana tema perang juga muncul dalam sejumlah lagu Metallica.
Cliff tidak menyukai glam metal Los Angeles yang saat itu lebih menonjolkan penampilan glamor. Ia menginginkan Metallica mengembangkan karakter musiknya sendiri, bukan mengikuti tren yang sedang populer. Metallica kemudian pindah ke wilayah San Francisco Bay Area, tempat mereka berkembang bersama skena thrash metal.
Bersama Cliff, Metallica menghasilkan tiga album penting: Kill 'Em All, Ride the Lightning, dan Master of Puppets. Ketiganya menjadi bagian penting dari sejarah musik metal. Bagi saya, album-album tersebut bukan sekadar kumpulan lagu dengan permainan gitar yang cepat dan keras. Ada persoalan kebebasan, perang, kekuasaan, dan penderitaan manusia di dalamnya.
Pada 1986, Cliff meninggal dunia dalam kecelakaan bus tur di Swedia. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Metallica. Posisinya kemudian digantikan Jason Newsted.
Album pertama Metallica bersama Jason adalah ...And Justice for All, yang dirilis pada 1988. Bagi saya, ini salah satu album Metallica yang paling kuat. Lagu ...And Justice for All berbicara tentang keadilan yang dikhianati, sementara One membawa kita pada penderitaan seorang prajurit akibat perang.
Jason bermain bersama Metallica dalam empat album studio, termasuk Black Album, Load, dan Reload. Namun, ia keluar pada 2001. Persoalan ruang kreatif dan hubungannya dengan James Hetfield serta Lars Ulrich menjadi bagian dari cerita keluarnya Jason. Setelah itu, Robert Trujillo bergabung sebagai basis pada 2003.
Saya tidak tahu apakah perubahan personel tersebut berhubungan langsung dengan perubahan sikap politik Metallica. Namun, perjalanan band ini menarik ketika mereka tumbuh menjadi salah satu kelompok musik terbesar di dunia. Musik mereka tidak lagi berada di pinggiran industri, tetapi telah menjadi bagian dari industri hiburan global.
Ada satu hal lain yang perlu saya luruskan. Musik Metallica memang pernah digunakan oleh militer Amerika Serikat dalam interogasi tahanan. Namun, Metallica menolak dikaitkan dengan penggunaan musik mereka untuk praktik tersebut. Karena itu, saya tidak bisa menjadikan peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa mereka menyetujui penyiksaan. Penggunaan lagu oleh pihak lain tidak otomatis berarti persetujuan dari penciptanya.
Kekecewaan saya terhadap Metallica sekarang lebih berkaitan dengan pernyataan James Hetfield dalam konser mereka di Sphere, Las Vegas, pada 10 Oktober 2026. Dalam rekaman yang diberitakan sejumlah media, James menyindir entertainer yang menggunakan panggung untuk memengaruhi penonton dengan pandangan mereka. Ia mengatakan bahwa Metallica ingin membuat penonton melupakan persoalan di luar konser dan menikmati musik.
James memang tidak menyebut nama Macklemore. Namun, pernyataan itu muncul di tengah sorotan terhadap rapper Amerika Serikat tersebut karena dukungannya kepada Palestina dan kontroversi terkait keterlibatannya dalam rangkaian konser Ed Sheeran. Saya menduga sindiran James berkaitan dengan situasi itu, meskipun sasaran sebenarnya belum dapat dipastikan.
Yang membuat saya keberatan adalah anggapan bahwa panggung musik seharusnya dijauhkan dari persoalan politik. Bukankah lagu-lagu Metallica sendiri berbicara tentang perang, ketidakadilan, dan hilangnya kebebasan?
Saya tidak menuntut semua musisi menjadi aktivis politik. James Hetfield berhak menentukan apa yang ingin ia sampaikan dalam konsernya. Namun, Macklemore juga berhak menyuarakan dukungan kepada Palestina. Mengapa seorang musisi harus dianggap keliru hanya karena menggunakan panggung untuk menyampaikan sikap terhadap penderitaan manusia?
Saya dibesarkan dengan lagu-lagu Metallica seperti For Whom the Bell Tolls, Master of Puppets, One, dan ...And Justice for All. Lagu-lagu itu menjadi bagian dari cara saya memahami musik keras, pemberontakan, dan ketidakadilan.
Karena itulah saya kecewa. Bukan karena Metallica tidak memainkan musik seperti dulu, melainkan karena saya mempertanyakan jarak antara semangat yang saya temukan dalam lagu-lagu mereka dan sikap mereka terhadap persoalan kemanusiaan hari ini.
Saya tahu, lagu tidak selalu mencerminkan seluruh pandangan pribadi penciptanya. Namun, ketika sebuah band telah begitu lama berbicara tentang perang dan ketidakadilan, saya merasa wajar jika pendengarnya mempertanyakan sikap mereka ketika penderitaan serupa terjadi di dunia nyata.
Bagi saya, pemberontakan tidak cukup hanya menjadi suara gitar yang keras. Ia juga menyangkut keberanian untuk bersikap ketika manusia lain mengalami penindasan.
Dan sekarang, ketika rakyat Palestina terus mengalami penderitaan, saya kembali bertanya: ke mana semangat pemberontakan yang dahulu saya dengar dalam lagu-lagu Metallica?
Baca Juga
-
Metallica, Palestina, dan Ironi Sebuah Band Anti-Perang
-
Pansus Ijazah Gibran Menggelinding, Siapa Elite Politik yang Paling Diuntungkan?
-
Pansus Ijazah Gibran: Siapa yang Diuntungkan Jika Kursi Wapres Kosong?
-
Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?
-
Setan dan Seorang Anak
Artikel Terkait
-
Metallica, Palestina, dan Ironi Sebuah Band Anti-Perang
-
Tablig Akbar di Monas, Ribuan Jemaah Panjatkan Doa untuk Indonesia
-
Menembus Tenda: Mengapa Safe Zone di Gaza Gagal Melindungi Sipil?
-
Macklemore Bikin Tur 'Free Palestine', Tiket dari 3 Kota Langsung Ludes
-
Tolak Pidato Netanyahu di PBB, DPR Puji Aksi Walk Out Delegasi Indonesia
Kolom
-
Bahaya Asal Sebar Video Bencana di Medsos, Niat Baik yang Bisa Berujung Kepanikan Massal
-
Pulang dari Belanda ke Jakarta: Kapan Artefak Adat Benar-Benar Merdeka?
-
Kita Tak Wajib Menjadi Penampung Masalah Rumah Tangga Orang Lain
-
Mengenal Degree Inflation: Mengapa Gelar S1 Makin Sulit Cari Kerja?
-
Sisi Gelap Ekonomi Sirkular: Saat Semangat Daur Ulang Warga Kandas karena Pasar
Terkini
-
Ulasan Bapak Paling Jujur: Komedi Politik yang Menertawakan Janji Penguasa
-
Detective Conan: Heiji dan Kazuha Akhirnya Resmi Pacaran Setelah 28 Tahun
-
Tingkatkan Literasi Pelajar, Permata Bank Gelar Edukasi di SMP Negeri 3 Ngaglik
-
Drama Kelangkaan BBM di Bali: Saat Pertalite Jadi 'Barang Mewah' di Tangan Calo Online
-
Apakah Mitos di Waduk Salmokji Seseram di Film Salmokji: Whispering Water?