M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar ekonomi hijau (Pixabay)
Juandi Manullang

Kebakaran hutan dan perusakan hutan dengan cara penebangan liar menjadi masalah serius bagi alam kita. Apalagi akhir-akhir ini kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan banyaknya asap di wilayah Kalimantan belum selesai. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan ditambah lagi masyarakat yang terkena penyakit saluran pernapasan akibat asap.

Dari kondisi tersebut, menjadi sebuah perbincangan dan diskusi penting buat kita agar mulai hari ini mengajak seluruh masyarakat sampai pemerintah mewujudkan kelestarian lingkungan sebagai rumah ternyaman dan tempat singgah yang menyehatkan.

Coba seandainya negara kita beralih kepada pekerjaan maupun aktivitas yang mengedepankan ekonomi hijau, di mana masyarakat dipekerjakan untuk merawat alam dengan berbagai cara dan diberikan upah atas pekerjaan tersebut. Transisi menuju ekonomi hijau membuka peluang munculnya berbagai jenis pekerjaan baru di Indonesia.

Sejalan dengan hal ini, green jobs atau pekerjaan hijau diproyeksikan menjadi salah satu sumber lapangan kerja baru dalam beberapa tahun mendatang. Mengacu pada definisi yang digagas oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO), pekerjaan hijau adalah pekerjaan yang membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang pada akhirnya menciptakan kegiatan usaha berkelanjutan secara lingkungan, ekonomi dan sosial.

Menciptakan perusahaan yang bersinergi dengan ekonomi hijau 

Coba kita bayangkan seandainya perusahaan-perusahaan di Indonesia beralih pada produksi usaha berbasis ekonomi hijau. Dengan kata lain, produk yang dihasilkan dari sampah-sampah bekas yang memiliki nilai ekonomis maupun bergerak dalam bidang-bidang pelestarian alam di hutan dan lingkungan sekitar.

Andai saja sampah-sampah seperti botol plastik, kantong plastik dan jenis lainnya diolah dan diperjualbelikan ke masyarakat, maka bukan hanya lingkungan lestari tetapi juga dompet terisi. 

Coba juga seandainya perusahaan-perusahaan bergerak dalam bidang reboisasi bagi hutan yang telah rusak, memperbaiki alam sebagai tempat wisata yang memiliki unsur ekonomis sekaligus menjaga kawasan hutan, tentu saja alam kita akan tetap lestari, terjaga dan memiliki manfaat positif. 

Apalagi sekarang banyak kita temui pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dimana mengolah sampah menjadi gantungan kunci, boneka, gelang, kalung maupun mainan anak-anak yang cantik dan lucu sehingga dapat diperjualbelikan dan bersifat ekonomis.

Mungkinkah green jobs dapat diwujudkan?

Jika bertanya, apakah green jobs dapat diwujudkan?, maka jawabannya dapat diwujudkan bila semua pihak mau dan bersedia menciptakan green jobs tersebut. Pemerintah kita harus mau dan bersedia untuk mengutamakan izin bagi perusahaan, individu atau perseorangan mendirikan perusahaan yang berbasis pada ekonomi hijau dan menutup perusahaan yang melakukan kegiatan merusak hutan.

Pemerintah memiliki hak untuk lebih banyak mendirikan usaha yang bergerak pada usaha hijau. Pemerintah harus mendukung UMKM yang bergerak dalam ekonomi hijau dan mengajak masyarakat untuk membeli dan mempromosikan usaha tersebut kepada khalayak ramai demi menciptakan ekonomi hijau.

Sudah saatnya kita mendukung kreativitas anak bangsa dalam mengolah sampah dan merawat alam sebagai rumah kita bersama. Merawat alam tidak hanya mencegah kebakaran dan penebangan liar terhadap hutan tetapi juga menciptakan usaha-usaha yang memiliki konsep dalam pelestarian alam. 

Kita dapat melihat banyaknya oknum korporasi yang terlibat dalam perusakan hutan. Kegiatan perusakan itu haruslah ditindak tegas agar ada efek jera dan menghindari adanya kegiatan perusakan alam. Kita harus bersama-sama berpikir bahwa mengelola alam dengan baik dapat menciptakan ekonomi yang baik. 

Banyak masyarakat yang menjadikan rumah sebagai bank sampah dan menciptakan sampah-sampah tersebut menjadi barang ekonomis. Jadi, kita berharap mulai sekarang, kita memulai untuk menciptakan usaha yang berbasis ekonomi hijau. Percayalah bahwa akan banyak kebaikan yang datang bila kita mengutamakan ekonomi hijau.