Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
Ilustrasi ruang kelas digital. (Unsplash)
Agustian Pamungkas

Dunia pendidikan kita sedang berbenah besar-besaran. Papan tulis kayu kini berganti menjadi layar sentuh interaktif, buku cetak yang tebal mulai digantikan oleh dokumen digital, dan tugas sekolah kini dikirim lewat aplikasi. Semua sekolah, guru, dan murid seolah diwajibkan untuk mendadak akrab dengan teknologi pintar. Transformasi ini sering disebut sebagai langkah maju menuju masa depan.

Namun, apakah semua perubahan instan ini benar-benar membawa kemajuan, atau justru menyimpan bom waktu?

Di satu sisi, kita tentu harus mendukung hadirnya teknologi di ruang kelas. Gagasan bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja adalah hal yang luar biasa. Murid zaman sekarang tidak perlu lagi tersesat di perpustakaan berjam-jam hanya untuk mencari satu referensi.

Lewat bantuan internet dan kecerdasan buatan, materi pelajaran dari belahan dunia lain bisa diakses dalam hitungan detik. Kelas menjadi lebih dinamis dengan animasi visual yang menarik.

Antara Kemajuan Kota dan Kenyataan di Pelosok

Namun, mari kita sejenak menengok ke belakang layar. Apakah semua sekolah di negeri ini sudah siap dengan pemaksaan digitalisasi ini? Di sinilah kritik sosial itu harus disuarakan. Kita sering kali melihat kebijakan pendidikan dibuat dari balik meja ruang ber-AC di kota besar, tanpa melihat realita di lapangan. Masih banyak sekolah di daerah pelosok yang jangankan memiliki gawai pintar, sinyal internet atau aliran listriknya saja masih sering timbul tenggelam.

Memaksa metode belajar berbasis teknologi pintar tanpa memedulikan pemerataan infrastruktur adalah sebuah ketidakadilan nyata. Hal ini justru memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Murid di kota besar makin melesat maju dengan fasilitas digitalnya, sementara anak-anak di pedalaman makin tertinggal karena keterbatasan alat.

Digitalisasi pendidikan pada akhirnya baru menjadi ajang gaya-gayaan estetika formalitas belaka, belum menyentuh substansi keadilan sosial.

Beban Baru di Pundak Guru

Selain masalah infrastruktur, tantangan terbesar ada pada sumber daya manusianya, yaitu para guru. Mengubah metode mengajar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak guru, terutama yang sudah senior, merasa kewalahan karena dituntut untuk mendadak mahir mengoperasikan berbagai aplikasi rumit.

Alih-alih fokus memikirkan bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran dengan menarik, waktu dan energi guru sering kali habis hanya untuk mengurusi urusan administrasi digital yang membingungkan.

Hal yang paling mengkhawatirkan dari gempuran teknologi pintar ini adalah hilangnya sentuhan kemanusiaan dalam proses belajar. Mengajar bukan sekadar mentransfer data atau rumus dari layar ke otak murid. Ada proses pembentukan karakter, etika, empati, dan moral yang hanya bisa ditularkan melalui interaksi langsung antara guru dan murid.

Layar ponsel atau laptop yang dingin tidak akan pernah bisa menggantikan tatapan mata guru yang memberikan semangat, atau tepukan di pundak saat murid sedang merasa jatuh.

Menolak Tumpul di Hadapan Layar Digital

Ketika pendidikan terlalu mendewakan teknologi, murid berisiko tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital, namun tumpul secara sosial. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban instan dari mesin pencari, sehingga daya juang dan kemampuan berpikir kritis mereka pelan-pelan terkikis. Proses belajar yang sejati membutuhkan waktu, kesabaran, dan adu argumen yang sehat di ruang kelas nyata, bukan sekadar klik tombol kirim tugas di aplikasi.

Oleh karena itu, kita perlu meluruskan kembali cara pandang terhadap teknologi di sekolah. Teknologi pintar seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk mempermudah, bukan sebagai pusat dari segalanya yang menggeser peran utama seorang pendidik. Kebijakan pendidikan harus lebih membumi. Benahi dulu pemerataan fasilitas dan berikan pelatihan yang manusiawi bagi para guru sebelum menuntut hasil yang serba digital.

Teknologi adalah sarana yang baik jika berada di tangan yang tepat, namun ia bisa menjadi bumerang jika dipaksakan tanpa kesiapan. Menatap masa depan pendidikan bukan berarti kita harus membuang semua metode lama yang masih efektif. Keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kehangatan interaksi manusia adalah kunci utama agar generasi masa depan tidak hanya pintar otaknya, tapi juga memiliki hati.

Kalau menurut Sobat Yoursay sendiri bagaimana? Apakah pemaksaan teknologi di sekolah saat ini sudah tepat sasaran, atau justru malah merepotkan guru dan murid? Tulis opini kalian di kolom komentar, ya!