Hujan boleh absen berbulan-bulan, tetapi kebutuhan dapur tidak mengenal musim libur. Ketika sawah mengering dan air tak lagi cukup untuk menanam padi, petani harus mencari cara agar tanah yang mereka miliki tetap menghasilkan sesuatu. Bagi keluarga saya, kacang hijau menjadi salah satu jalan rezeki itu.
Keluarga saya terbiasa menanam padi. Namun, ketika kemarau panjang datang, keadaan memaksa petani berpikir ulang. Sawah yang kekurangan air sulit diandalkan untuk menanam padi seperti biasa. Di tengah keadaan tersebut, kacang hijau hadir sebagai alternatif yang patut disyukuri.
Bagi saya, tanaman ini punya keistimewaan tersendiri. Perawatannya relatif mudah, kebutuhan airnya tidak sama dengan padi, dan pekerjaan merawatnya terasa lebih ringan. Setelah benih ditabur dan mulai tumbuh, petani tetap perlu memperhatikan kondisi tanaman, tetapi tidak harus menghadapi pekerjaan yang sama seperti merawat padi, termasuk membersihkan gulma yang bersaing memperebutkan ruang tumbuh dan unsur hara.
Ingatan masa kecil saya masih lekat dengan musim panen kacang hijau. Setiap sore, saya ikut memetiknya sampai terkumpul berkarung-karung. Kadang, karung itu terasa begitu berat hingga saya tidak kuat mengangkatnya ketika harus melewati pematang sawah. Kalau diingat sekarang, rasanya lucu juga. Dulu, yang terasa hanya lelah dan beratnya pekerjaan. Belakangan, saya baru memahami bahwa di balik kegiatan sederhana itu ada hasil yang ikut menopang penghidupan keluarga.
Kacang hijau juga mengingatkan saya bahwa Allah menyediakan banyak jalan bagi manusia untuk berikhtiar. Ketika satu tanaman sulit diusahakan karena keadaan alam, tanaman lain bisa menjadi alternatif. Petani yang jeli membaca keadaan dapat menemukan peluang, meskipun hasilnya tetap bergantung pada cuaca, biaya produksi, dan harga jual.
Hari ini, menurut informasi dari ibu saya, kacang hijau dijual di tingkat produsen seharga Rp20.000 per kilogram. Sementara itu, harga di pasar bisa mencapai Rp35.000 per kilogram. Selisih Rp15.000 ini cukup mencolok. Tentu, selisih tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan bersih pedagang karena masih ada biaya distribusi dan penanganan barang. Namun, perbedaan harga ini menarik untuk dicermati, terutama ketika kita mengingat bahwa petanilah yang lebih dahulu mengeluarkan tenaga dan menghadapi risiko selama masa tanam.
Secara ilmiah, kacang hijau juga bukan tanaman yang bisa hidup tanpa air. Penelitian Laras Trimayora dan Sa’diatul Fuadiyah dalam Prosiding SEMNAS BIO Universitas Negeri Padang tahun 2021 menunjukkan bahwa jumlah air memengaruhi pertumbuhannya. Dalam percobaan mereka, pemberian air sebanyak 15 cc menghasilkan pertumbuhan lebih baik daripada perlakuan 10 cc dan 20 cc. Hasil itu berlaku untuk kondisi percobaan mereka, bukan ukuran penyiraman untuk semua lahan. Kekurangan maupun kelebihan air tetap dapat menghambat pertumbuhan.
Nah, Sobat Yoursay, kalian pernah menanam kacang hijau belum? Kalau selama ini hanya mengenalnya sebagai bahan bubur, isian onde-onde, atau bahan makanan lainnya, barangkali sudah waktunya berkenalan dengan sosok aslinya. Teman-teman saya yang tinggal di kota saja ada yang belum tahu seperti apa tanaman kacang hijau tumbuh.
Padahal, untuk mencoba mengenalnya, kita tidak harus memiliki sawah. Satu atau dua biji bisa menjadi permulaan untuk belajar menanamnya di dalam pot, tentu dengan media tanam dan perawatan yang sesuai. Dari sana, kita bisa melihat sendiri bagaimana biji kecil tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan polong.
Bagi saya, kacang hijau bukan sekadar tanaman alternatif saat kemarau. Ia adalah bagian dari pengalaman keluarga, kenangan masa kecil, sekaligus pengingat bahwa rezeki bisa datang melalui jalan yang tidak selalu kita duga. Kadang, berkah itu tumbuh dari benih kecil yang ditanam ketika sawah sedang kesulitan memberi harapan.
Baca Juga
-
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
-
Prestasi dan Tuntutan Sosial: Ketika Kemenangan Berujung Tagihan Traktiran
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
-
Jangan Anggap Remeh Trailer Kusuriya Season 3, Semua Adegan Punya Petunjuk
-
Bukan Musim Semi, Mengapa Bunga-Bunga Bermekaran Serentak di Jalanan Kota?
Artikel Terkait
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Pemerintahan Prabowo Dorong Kesejahteraan Petani
-
FARMRISE Diluncurkan, Perluas Akses Digital bagi Petani Indonesia
-
Diskusi Film Karst: Petani Pracimantoro Soroti Ancaman Tambang Semen
-
Arif Rahman Resmi Pimpin Petani NasDem, Bidik Kesejahteraan Petani dan Nelayan
-
Air Makin Keruh, Ledakan Alga Ganggu Ekosistem Danau Mawang
Kolom
-
Aksi Greenpeace di Bundaran HI: Alarm Darurat Krisis Iklim yang Kian Mengimpit Rakyat
-
Sirkus Istana: Saat Pemimpin Negara Kehilangan Esensi Gaya Kepresidenan
-
Ketika Kendaraan Listrik Melesat Lebih Cepat daripada Ekosistemnya
-
Jebakan Dunia Filter: Kenapa Gen Z Sulit Lepas dari Obsesi Validasi Digital?
-
Bahasa Indonesia Era Gen Z: Bertahan, Berubah, atau Kehilangan Identitas?
Terkini
-
Ghost in the Shell Umumkan Proyek Anime Baru, Science SARU Kembali Produksi
-
Mengingat Kembali Kelamnya Tragedi Orde Baru Lewat 3 Novel Fiksi Ini
-
Review Norm: The Tale of Norm Macdonald, Harga Sebuah Lelucon yang Dikenang
-
Bebas Iritasi! 4 Brightening Toner Lokal Tanpa Alkohol untuk Kulit Cerah
-
Drama Baru Ha Young, The Long Shot Trial Resmi Ditunda Usai Kontroversi