Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Prank Hihu. (ilustrasi Chat GPT)
Chairun Nisa

Sobat YourSay, sudah kena prank Hihu belum? Atau justru sedang sibuk mencari korban berikutnya?

Belakangan ini, media sosial diramaikan tren prank Hihu. Bermula dari video-video di Instagram, seseorang menghampiri pengendara motor dan bertanya, "Bang, bang, standarnya!" Ketika pengendara itu menoleh atau mencoba memeriksa standar motornya, si penanya justru menjawab, "Hihu!" Sederhana, spontan, dan kadang membuat orang yang menjadi sasaran kebingungan.

Entah siapa yang pertama kali mencetuskannya, tren ini cepat menyebar. Korbannya pun beragam. Mulai dari teman sebaya, anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu, guru, dosen, bahkan aparat kepolisian. Belakangan, ada pula yang mencoba melakukannya kepada petugas pemadam kebakaran. Salah satu keisengannya adalah menanyakan standar motor matik yang sebenarnya sudah dinaikkan. Padahal, motor matik umumnya memiliki fitur pengaman yang membuat mesin tidak bisa berjalan ketika standar samping diturunkan. Pertanyaan sederhana itu justru menjadi bagian absurd dari kelucuan prank ini.

Saya sendiri termasuk orang yang cukup sering menjadi korban prank Hihu. Mulai dari teman kuliah, teman pondok, sampai orang yang ditemui di jalan. Rasanya hampir di mana-mana ada saja orang yang tiba-tiba menyapa dengan panggilan, "Hihu!" Kadang ikut tertawa, kadang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Rupanya, menjadi korban pun bisa menjadi bagian dari keseruan tren ini.

Menariknya, respons orang-orang yang menjadi sasaran tidak selalu sama. Ada yang langsung tertawa, membalas dengan candaan serupa, bahkan ikut membuat konten. Ada pula yang memasang wajah kesal karena merasa sedang dipermainkan. Tidak sedikit yang awalnya tampak serius, tetapi akhirnya ikut tertawa setelah mengetahui maksud keisengan tersebut. Dari sini terlihat bahwa sebuah lelucon sederhana bisa diterima dengan cara yang berbeda oleh setiap orang.

Perbedaan itu juga berkaitan dengan kebiasaan komunikasi antargenerasi. Generasi Z yang tumbuh bersama media sosial, meme, dan video pendek relatif akrab dengan humor spontan yang kadang absurd. Bagi mereka, sesuatu yang tidak masuk akal justru bisa menjadi bahan tertawaan.

Sementara itu, sebagian generasi Baby Boomer mungkin lebih terbiasa dengan komunikasi yang formal, terutama ketika berhadapan dengan orang yang belum dikenal. Tentu saja, ini bukan ukuran mutlak. Ada orang tua yang sangat humoris dan ada anak muda yang tidak suka dijadikan sasaran prank. Selera humor memang tidak mengenal batas usia, tetapi setiap orang tetap memiliki batas kenyamanan.

Lantas, apakah tren Hihu harus dilarang? Rasanya tidak perlu sejauh itu. Bercanda merupakan bagian dari interaksi sosial. Humor dapat mencairkan suasana, membangun keakraban, bahkan menjadi cara sederhana untuk mengurangi ketegangan dalam keseharian. Namun, kemampuan melucu sebaiknya berjalan beriringan dengan kemampuan membaca situasi.

Memanggil teman sebaya dengan teriakan, "Bang, bang, standarnya!" mungkin menjadi hiburan tersendiri. Akan tetapi, menerapkannya kepada guru, dosen, orang tua, atau orang yang sedang menjalankan tugas tentu membutuhkan pertimbangan berbeda. Jangan sampai keinginan mengikuti tren membuat kita lupa menempatkan kesopanan. Terlebih, hubungan antara mahasiswa dan dosen atau murid dan guru memiliki konteks komunikasi yang tidak sepenuhnya sama dengan pergaulan antarteman.

Begitu pula ketika berhadapan dengan petugas kepolisian atau pemadam kebakaran. Mereka bukan sekadar objek konten untuk mendapatkan tawa dan jumlah penonton. Ada pekerjaan dan tanggung jawab yang sedang mereka jalankan. Jika ingin bercanda, pastikan situasinya memungkinkan, tidak mengganggu pekerjaan, dan tidak merendahkan orang yang menjadi sasaran.

Pada akhirnya, mengikuti tren bukan berarti harus meniru semua hal tanpa pertimbangan. Kita boleh ikut meramaikan, menjadi pelaku, bahkan sesekali menjadi korban prank Hihu. Namun, jangan sampai keinginan membuat orang lain tertawa justru mengabaikan perasaan orang tersebut.

Hihu boleh saja, tetapi tahu tempatnya. Sebab, bercanda yang baik bukan hanya tentang seberapa keras orang tertawa, melainkan juga tentang bagaimana kita tetap menghargai orang lain. Jangan sampai yang tertawa hanya pembuat konten, sementara korbannya pulang membawa kesal.