Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi cara anak muda berbahasa (Pexels/George Pak)
e. kusuma .n

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana remaja urban maupun sub-urban berkomunikasi hari ini? Di dunia maya, mereka sangat tangkas mengetik istilah-istilah global seperti “delulu”, “sus”, atau “ygy”. Namun, ketika diminta orang tua untuk berbicara menggunakan bahasa daerah—misalnya bahasa Jawa krama inggil, bahasa Sunda, atau bahasa Minang—lidah mereka mendadak kelu dan kaku. Ada kecenderungan di mana komunikasi harian anak muda kini telah bergeser.

Fenomena ini memicu kekhawatiran kultural. Ketika bahasa internet yang serba global dan serba cepat menjadi bahasa ibu kedua bagi Gen Z, apakah identitas lokal mereka perlahan tersisih dan menuju kepunahan?

Disrupsi Algoritma dan Terasingnya Bahasa Ibu

Realitas sehari-hari Gen Z dikepung oleh ekosistem digital yang tidak mengenal batas geografis. Algoritma media sosial memang didesain untuk menyuguhkan konten yang memiliki daya jangkau universal. Akibatnya, paparan bahasa yang diterima anak muda setiap hari adalah bahasa Indonesia yang bercampur dengan slang Inggris internet. Di sisi lain, bahasa daerah makin jarang berkeliaran di lini masa mereka.

Ironisnya lagi, bahasa daerah sering dipersepsikan secara keliru sebagai bahasa yang "kuno", "tidak estetis", atau hanya cocok digunakan oleh generasi tua di ranah domestik—terlebih saat ruang digital tidak menyediakan panggung yang cukup bagi bahasa daerah.

Kondisi ini membuat proses pengasingan terhadap budaya sendiri terjadi secara halus tapi juga masif. Sebenarnya, anak muda bukan membenci bahasa daerah, hanya belum tahu cara menghidupkannya di dunia yang serba digital.

Kompleksitas Aturan Tradisi vs Efisiensi Jagat Maya

Salah satu alasan kritis mengapa Gen Z cenderung menghindari bahasa daerah—terutama yang memiliki tingkatan tutur seperti bahasa Jawa atau Sunda—adalah ketakutan jika salah dalam menempatkan tingkatan tersebut.

Dalam struktur bahasa daerah konvensional, salah memilih kata bisa dianggap tidak sopan atau tidak berbudaya. Tuntutan kesempurnaan ini sering kali memicu rasa tidak percaya diri pada anak muda, kontras dengan bahasa internet yang menawarkan kebebasan total tanpa hierarki.

Di jagat maya, efisiensi dan kesetaraan adalah mata uang utama. Seseorang tidak perlu memikirkan apakah mereka sedang berbicara dengan orang yang lebih tua atau sebaya saat mengetik di media sosial. Sifat egaliter dan instan bahasa internet ini jauh lebih memikat sisi psikologis Gen Z yang dinamis. Akibatnya, bahasa daerah yang sarat akan nilai sopan santun tradisional kalah bersaing dengan kepraktisan budaya digital.

Hibridasi Budaya: Melokalkan Bahasa Internet

Namun, benarkah identitas lokal Gen Z sepenuhnya lenyap? Jika melihat lebih jeli, yang terjadi sebenarnya bukanlah kepunahan mutlak, melainkan sebuah proses hibridasi budaya yang melokalkan bahasa internet.

Gen Z yang dikenal kreatif tidak serta-merta membuang identitas lokal, tapi memilih mengawinkannya dengan bahasa internet. Kita bisa melihat bagaimana kata “ndak”, “teh”, “jancuk”, atau “ngab” tetap eksis dan bermutasi menjadi slang baru di platform digital.

Anak muda juga menciptakan meme, lagu, dan konten komedi yang memadukan logika internet dengan humor lokal daerah masing-masing. Ini adalah bentuk perlawanan budaya lewat ekspresi baru yang lebih relevan dengan ekosistem digital.

Merebut Kembali Panggung Bahasa Daerah

Pergeseran dari bahasa daerah ke slang internet merupakan realitas sosiologis yang tidak bisa kita hentikan dengan sekadar meratap atau memarahi generasi muda. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita me-rebranding bahasa daerah agar tidak kehilangan taring di era digital.

Bahasa daerah harus keluar dari kungkungan eksklusivitas museum dan buku teks sekolah yang membosankan. Kita perlu mendukung para kreator konten muda yang berani memproduksi karya berkualitas menggunakan bahasa daerah dengan kemasan modern.

Identitas lokal Gen Z hanya akan bertahan jika bahasa daerah diposisikan sebagai sesuatu yang keren, fleksibel, dan adaptif terhadap zaman. Sebab, menjaga bahasa daerah bukan berarti menolak internet, tapi memastikan ‘suara leluhur’ tetap menggema di tengah riuhnya dunia maya.