Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi gaya komunikasi dan bahasa Gen Z (Gemini AI)
e. kusuma .n

Pernahkah kamu membaca cuitan di media sosial atau mendengar obrolan remaja di kafe yang berbunyi seperti ini: "Dia agak sus deh, kayaknya lagi delulu tingkat tinggi"? Bagi generasi yang lebih tua, kalimat ini mungkin terdengar seperti sandi rahasia atau sekadar omong kosong tanpa makna.

Istilah “sus”—singkatan dari suspicious atau mencurigakan yang populer dari game Among Us, dan “delulu”—plesetan dari delusional atau berkhayal, telah menjadi kosakata harian yang melekat erat di jempol serta lisan Gen Z.

Kehadiran slang internet yang diadopsi dari bahasa asing ini memicu gelombang kekhawatiran baru di kalangan pemerhati bahasa. Banyak yang langsung menarik kesimpulan radikal: bahasa gaul adalah “parasit” yang bisa mengancam eksistensi bahasa Indonesia.

Namun, apakah anggapan tersebut sepenuhnya benar? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang terjebak dalam kepanikan moral tanpa melihat esensi fungsi bahasa yang sebenarnya?

Kepanikan Moral dan Mitos Kerusakan Bahasa

Menuduh generasi muda merusak bahasa nasional melalui bahasa gaul bukanlah fenomena baru. Di era 1980-an, generasi terdahulu sempat diresahkan oleh bahasa Prokem. Era 2000-an, giliran bahasa "Alay" yang dihujat habis-habisan karena merombak tata cara penulisan teks SMS.

Sejarah membuktikan bahwa bahasa Indonesia tidak pernah punah akibat tren-tren musiman tersebut. Bahasa nasional kita bukanlah porselen rapuh yang akan langsung hancur berantakan hanya karena anak muda gemar menciptakan kosakata baru.

Menguji anggapan ini secara kritis berarti menyadari kalau bahasa gaul hanya bentuk variasi linguistik yang lahir dari kebudayaan populer pada masanya. Alih-alih merusak, fenomena ini justru menunjukkan betapa adaptifnya kapasitas kognitif anak muda.

Bukan sekadar mencipta, dalam prosesnya anak muda ini juga terampil dalam menyerap, memodifikasi, dan menciptakan alat komunikasi baru yang sesuai dengan dinamika zaman mereka.

Bukan Soal Kosakata, tapi Kemampuan Menilai Konteks

Ancaman nyata terhadap bahasa Indonesia sebenarnya bukan terletak pada eksistensi kata-kata gaul itu sendiri, melainkan ketidakmampuan individu dalam memahami konteks dan situasi berbahasa.

Bahasa gaul memiliki ruang bermainnya sendiri: ruang obrolan kasual, kolom komentar media sosial, dan tongkrongan santai di akhir pekan. Di ruang-ruang informal ini, fleksibilitas adalah kunci. Masalah baru muncul saat batasan-batasan situasi ini kabur.

Saat mahasiswa menulis surel resmi pada dosen menggunakan kata “sender” atau “fyi” hingga pekerja menggunakan istilah “sus” dalam laporan formal perusahaan, di sinilah letak kekeliruannya. Kegagalan menempatkan bahasa sesuai porsi mencerminkan kurangnya literasi situasional.

Oleh karena itu, edukasi kebahasaan modern tidak boleh lagi fokus soal pelarangan bahasa gaul, melainkan pada pengajaran kapan harus berbicara secara formal dan kapan boleh menggunakan ragam santai.

Menjadi "Bilingual" di Negeri Sendiri

Gen Z sebenarnya memiliki potensi unik untuk menjadi generasi yang tangkas secara linguistik dengan kapasitas individu "bilingual" di negeri sendiri. Skill code-switching hingga ratusan slang internet ekspresif bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.

Saat dihadapkan pada presentasi akademik atau wawancara kerja, banyak dari mereka tetap mampu menunjukkan performa berbahasa Indonesia yang runtut, baku, dan profesional. Ini kelenturan mental yang positif, kita tidak perlu menolak bahasa gaul secara total.

Cukup menanamkan kesadaran dan kebanggaan bahwa menguasai bahasa Indonesia yang baku adalah keahlian profesional yang mahal, sementara menguasai bahasa gaul merupakan alat untuk merawat relasi sosial harian.

Konteks adalah Penyelamat Identitas

Pada akhirnya, berbagai bahasa gaul ala Gen Z bukanlah ancaman fatal bagi bahasa Indonesia selama paham di mana harus meletakkannya. Bahasa gaul tidak sedang menjajah bahasa nasional, hanya melengkapi kebutuhan ekspresi emosional di jagat maya yang serba cepat.

Kita tidak perlu menjadi "polisi bahasa" yang kaku dan gemar menghakimi setiap percakapan kasual anak muda. Tugas publik—baik sebagai pendidik, orang tua, maupun sesama pengguna bahasa—adalah menjadi navigator yang bijak.

Dengan mengajarkan pentingnya konteks dan ketepatan situasi, kita bisa memastikan bahwa Gen Z tetap bisa berekspresi dengan caranya sendiri yang seru, tanpa harus kehilangan identitas dan wibawa bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.