Dalam hidup memang banyak tantangan yang kadang terasa berat untuk dilalui, sehingga menyebabkan kita memilih menyerah sebagai opsi yang dipilih. Tentunya hal itu tidak memberikan hasil yang memuaskan dalam pengembangan diri karena berhenti berjuang di tengah perjalanan perjuangan.
Harusnya setelah mengambil jalan untuk mewujudkan impian mesti dituruti dan diikuti prosesnya hingga menggapai hasil yang memuaskan.
Tetapi, memang tidak jarang banyak orang yang memilih untuk menyerah dalam menggapai impian/tujuan mereka. Kondisinya tentu sangat memprihatikan dan dapat lebih memperpanjang lagi masa untuk menjadi hidup yang lebih baik.
Walau kita tahu bahwa tidak ada orang yang menginginkan untuk menyerah dalam berjuang dan memang sangat patut untuk dihindari. Tetapi, kenapa menyerah? Apa alasannya? Mengutip dari akun Instagram @golongan.sukses, pada dasarnya orang mudah menyerah karena alasan berikut.
1. Mengharapkan hasil yang instan
Mesti disadari untuk menggapai suatu hasil yang memuaskan tentu tidak ada yang instan dan harus memang butuh perjuangan. Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan secara konsisten dan tidak ada hasil yang bisa langsung diterima, kesuksesan memang bisa digapai kalau melalui kesabaran dan perjuangan.
Orang yang mengharapkan hasil yang instan tentu bakalan mudah menyerah karena tidak kuat untuk mengikuti segala proses.
2. Terus menyesali kesalahannya
Kesalahan dalam perjuangan adalah hal lumrah terjadi, tidak ada orang yang langsung pintar tanpa melalui proses pembelajaran dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.
Tetapi, orang sukses adalah mereka yang berbuat salah, namun mengambil pelajaran dari kesalahan yang diperbuat untuk menjadi lebih baik lagi dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Mereka yang terus menyesali kesalahannya tentu bakalan sulit berkembang hingga akhirnya memilih menyerah karena tidak sanggup kalau menerima kembali kesalahan.
3. Berhenti percaya pada diri sendiri
Kalau sudah tidak percaya lagi pada diri sendiri bisa jadi membuat berhenti untuk berjuang. Percaya pada diri sendiri adalah kunci untuk menggapai impian. Orang yang tidak lagi percaya pada dirinya sendiri tentu merasa tidak punya lagi kekuatan untuk terus berjuang hingga memilih untuk menyerah.
4. Menolak adanya perubahan
Orang yang tidak mampu menerima perubahan tentunya bakalan sulit untuk berkembang dan bisa jadi memilih menyerah di tengah medan perjuangan.
Kita tahu bahwa perkembangan zaman begitu cepat perubahannya, kalau orang yang tidak mampu menerima perubahan dan tidak meng-upgrade kemampuannya tentu akan ketinggalan dan sulit untuk beradaptasi terhadap zaman.
5. Terlalu pesimis pada progres
Bagi mereka yang terlalu pesimis pada progres tentu bisa membuat tidak semangat berjuang hingga akhirnya memilih untuk menyerah pada perjuangan.
Sifat pesimis dalam hidup hanya akan membuat keterlambatan dan menimbulkan rasa tidak percaya diri. Padahal, setiap langkah perjuangan yang kita lakukan mesti dilandasi rasa optimis, meskipun masih banyak progres yang harus dilalui.
6. Percaya bahwa kegagalan adalah tanda untuk menyerah
Orang yang beranggapan kalau terjadi kegagalan sebagai tanda untuk menyerah jelas sulit untuk bisa berkembang. Mereka tidak sadar bahwa kegagalan dalam menggapai tujuan adalah hal wajar, mereka tidak mampu mengambil pelajaran kalau kegagalan adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Seharusnya ketika terjadi kegagalan justru bisa menjadi cambuk untuk memperbaiki kesalahan dan lebih semangat lagi untuk berjuang.
Nah, itulah tanda kenapa banyak orang yang menyerah dan semoga saja kita tidak termasuk di dalamnya. Kalau memang tidak tercapai suatu tujuan bukan berarti kamu gagal.
Gagal pun bukan berarti kamu harus menyerah. Tetapi dengan kegagalan harusnya bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuk berjuang kembali dengan strategi yang baru.
Baca Juga
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Kacang Rebus Terakhir di Pasar Malam
-
4 Serum Actosome Retinol Atasi Tekstur Kulit dan Garis Halus Tanpa Iritasi
-
4 Rice Cooker Digital Multifungsi dengan Fitur Lengkap untuk Sehari-hari
-
4 Ide Daily Outfit ala Bae Suzy yang Simpel tapi Tetap Kece Buat Nongkrong!
-
5 Look Kantor Fresh dan Rapi ala Lee Jun Hyuk
Terkini
-
Arya Saloka Resmi Gabung Film Dilan ITB 1997, Perannya Jadi Sorotan Publik
-
Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi: Belajar Integritas dari Sang Legenda
-
Malang Dreamland Tawarkan Liburan Mewah Dengan View Instagenic
-
Profil Putri Intan Kasela, Aktris yang Mencuri Perhatian Lewat Film Kuyank
-
Berlatar Dunia Musik Klasik, Drama 'Four Hands' Umumkan Pemeran Utama