Banyak dari kita yang merasa lebih nyaman berbagi perasaan dengan teman baik atau sahabat jika sedang dalam masalah. Hal ini wajar sekali, mengingat sahabat kita adalah salah satu orang yang peduli dengan kita. Selain dapat meringankan perasaan, bercerita dengan sahabat juga bisa memberikan semangat dan membuat perasaan kita menjadi lebih tenang.
Namun, sayangnya tidak semua orang tahu bagaimana harus merespons seorang sahabat yang sedang curhat. Agar tidak terjadi salah paham dan berakhir saling menyakiti, ada baiknya kita simak beberapa kalimat yang tidak boleh kita ucapkan untuk merespon teman kita yang sedang curhat.
1. "Yah, cuma segitu doang?"
Bayangkan jika yang sedang curhat itu adalah kita, kemudian teman kita justru meremehkan perasaan kita. Kita pasti akan merasa kecewa dengan respon yang terkesan meremehkan tersebut. Begitu pula dengan teman kita, dia pasti makin sedih, hanya saja ia memilih diam dan tidak mempermasalahkan sikap kita.
2. "Itu mah biasa".
Kita mungkin lebih hebat dan berpengalaman dari pada teman kita, tapi bukan berarti kita boleh meremehkan perasaan sahabat kita. Apalagi saat ia sedang sedih atau terluka perasaanya.
3. "Aku juga pernah".
Kalimat "aku juga pernah, .." biasanya dilanjutkan dengan kalimat pernyataan yang menyamakan keadaan kita dengan teman kita saat ia sedang curhat. Sebaiknya cari kesempatan lain jika kita ingin menceritakan kejadian yang mirip dengan yang teman kita alami, agar tidak membuatnya kecewa dan memendam perasaan jengkelnya pada kita.
4. "Aku malah lebih parah lagi".
"Aku malah lebih parah lagi, ", setelah mengatakannya pada teman kita, ia pasti akan langsung terdiam, kemudian terpaksa harus menghentikan curhatnya untuk mendengarkan cerita kita. Jangan heran jika tiba-tiba teman kita menyela pembicaraan kita, lalu mencari alasan untuk pulang agar punya waktu menyendiri diri di rumah.
Pada intinya, seorang sahabat menceritakan permasalahannya karena dia percaya dengan kita dan ingin mengeluarkan unek-uneknya. Bukannya untuk membandingkan nasibnya dengan kita, nasib bukanlah sebuah perlombaan. Jika kita tidak tahu harus bagaimana untuk meresponnya, tindakan yang paling tepat yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan ceritanya secara aktif sampai selesai. Kemudian, barulah tanyakan padanya apa yang ia butuhkan saat ini. Semudah itu.
Baca Juga
-
Hari Buruh Internasional: Seruan Perubahan untuk Dunia Kerja
-
Buka Kembali Kenangan Lama Lewat Google Maps dan Earth
-
Belajar Jadi Seru: 7 Cara Pilih Aplikasi AI yang Cocok untuk Anak
-
Chatbot vs Agen AI: Kenali Perbedaannya sebelum Memilih
-
Tren Masa Depan AI Action Figure: Mainan dengan Kecerdasan Buatan
Artikel Terkait
-
Pertamina Berikan Pelatihan Ecoprint Untuk Sahabat Difabel
-
Jerawatan Parah, Wanita Ini Putuskan Berhenti Makan Sandwich 6 Kali Sehari
-
Ustadz Adi Hidayat Bongkar Rahasia Dibalik Kalimat BISMILLAH
-
Indah Sari Bongkar Chat Roro Fitria Saat Ceritakan Masalah Rumah Tangganya : Aku Kaget
-
Terungkap! Ada Wanita Lain yang Marah Saat Tahu Raffi Ahmad akan Nikahi Nagita Slavina
Lifestyle
-
Bosan Desain TWS Itu-itu Aja? Realme Buds T500 Pro Bawa Desain Kotak Permen
-
4 Padu Padan OOTD Outerwear ala Seonghyeon CORTIS, Buat Look Makin Chill
-
4 Spray Serum Bi-Phase Kunci Kulit Glowing Setiap Hari, Under Rp100 Ribuan!
-
4 Clay Mask Peppermint dengan Sensasi Cooling untuk Hempas Minyak Membandel
-
5 Clay Mask Mugwort Lokal untuk Wajah Lebih Bersih, Tenang, dan Bebas Kilap
Terkini
-
Teach You a Lesson Rilis Jadwal Tayang, Drama Aksi Terbaru Berlatar Sekolah
-
Jadi Dokter Bedah Plastik, Intip Karakter Lee Jae Wook di Doctor on the Edge
-
Ada Park Ji Hoon, Ini 5 Pemeran Utama Drama The Legend of Kitchen Soldier
-
Episode 3 dan 4 Drama Gold Land Terasa Semakin Gelap dan Mendebarkan
-
Di Balik Sorotan Kamera: Pertarungan Moral dalam Novel Take Four