Lebaran sudah tinggal menghitung hari. Suasana lebaran telah terasa. Toko-toko baju mulai ramai pengunjung yang tengah belanja baju baru untuk keperluan lebaran. Kue-kue yang hendak memenuhi meja di ruang tamu pun juga banyak diborong.
Senyum semringah anak-anak yang menyambut lebaran semakin lebar. Tergambar dalam benak mereka, sebentar lagi akan gonta-ganti baju baru, biasanya sampai tujuh hari. Mereka juga akan mendapat uang yang diberikan oleh saudara yang dikunjunginya saat silaturrahim.
Momen pemberian uang ini merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Mereka senang dan gembira saat menerima pemberian uang. Tak jarang di antara mereka menabungnya hingga bisa untuk beli mainan kesukaan mereka, beli HP baru, bahkan ada pula yang minta disunat dari uang pemberian tersebut.
Menyadur laman nu.or.id, asal-usul tradisi pemberian uang saat lebaran ini, diduga merupakan kebiasaan yang terpengaruh oleh budaya Cina yang memberikan angpau kepada anak-anak saat merayakan Imlek.
Namun, terlepas dari itu pemberian uang kepada anak-anak saat mereka berkunjung ke rumah saudaranya yang lebih tua adalah untuk menyenangkan mereka. Anak yang menerima uang dari saudaranya itu pasti menerimanya sambil tersenyum gembira. Kegembiraan anak-anak ini diyakini akan terus mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
Dengan memberikan uang, misalnya, seorang kakek akan melihat senyum lucu cucunya. Ekspresi cucunya yang sangat gembira saat menerima uang itu mampu melenyapkan kegelisahan hidup. Sementara si cucu bersemangat untuk selalu mengunjungi kakeknya sebab ia merasa diperhatikan oleh kakeknya dengan pemberian uang.
Selain itu, tradisi pemberian uang di momen lebaran juga bertujuan agar anak-anak terlatih sejak dini untuk terbiasa bersedekah kepada sesama. Mereka dilatih sejak kecil untuk memiliki rasa peduli kasih kepada orang lain.
Saling berkunjung saat lebaran ini merupakan tradisi yang tidak dapat dihapus. Sebab, dengan silaturahmi hubungan kekeluargaan tidak hilang. Dengan bersilaturahim pula seorang diajak untuk mengenal saudara-saudaranya.
Di masyarakat desa, bagi yang hendak bertamu ke rumah saudaranya biasanya membawa oleh-oleh berupa kue dan nasi. Sementara tuan rumah yang bersangkutan menyiapkan kue, menghidangkan nasi dan memberi uang kepada anak-anak tamunya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
-
Jangan Asal Cas! Ketahui 9 Tips Jitu Bikin Baterai Android Awet Seharian
-
Membaca Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Bahasa yang Mencerminkan Pikiran
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
Artikel Terkait
-
4 Tips Memilih Hidangan Sehat untuk Lebaran, Dijamin Tak Kalah Nikmat!
-
Jelang Lebaran Produksi Sampah di Garut Melonjak Dua Kali Lipat, DLH Angkut 230 Ton Sampah Perhari
-
Pengelola Jalan Tol Tangerang-Merak Beri Diskon 20 Persen Bagi Pemudik
-
THR Tidak Selalu Identik dengan Uang, Simak Baik-baik Penjelasannya!
-
Mudik Gratis 2023 Naik Kapal Perang TNI AL Bagi Pengguna Sepada Motor, Cek Syarat dan Jadwalnya
Lifestyle
-
Intip 4 OOTD Y2K Pop-Punk ala Choi Yena, Gaya Lebih Cute dan Rebel!
-
Tak Melulu Malioboro, 5 Hidden Gem Jogja yang Wajib Masuk Wishlistmu
-
5 Ide Clean Look Outfit ala Kang Hoon, Bikin Penampilan Makin Berkarisma
-
Capek Bersosialisai? Fenomena Social Battery Habis pada Anak Muda
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
Terkini
-
Makna Lagu 'Petal' Ariana Grande: Luka Jadi Bahan Bakar untuk Tumbuh
-
Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?
-
Rilis Surfin' Boy, Red Velvet Warnai Musim Panas dengan Suasana Romantis