Hernawan | Alexein Putra
Ilustrasi Scroll Media Sosial (Unsplash/Camilo Jimenez)
Alexein Putra

Di tengah lautan informasi digital yang tak terbatas, manusia modern seringkali terjebak dalam perilaku yang mungkin tidak mereka sadari, yakni doomscrolling. Fenomena ini merujuk pada kebiasaan membaca berita atau konten negatif secara terus-menerus di media sosial atau platform berita digital. Meskipun tampak seperti kegiatan yang sepele, doomscrolling sebenarnya dapat memiliki dampak serius pada kesejahteraan mental dan emosional kita.

Doomscrolling dan Faktor Penyebabnya

Salah satu alasan utama mengapa doomscrolling begitu menarik adalah adanya ketidakpastian. Manusia secara alami cenderung mencari informasi untuk memahami dunia di sekitar mereka, dan kecenderungan untuk mencari berita buruk bisa menjadi hasil dari keinginan untuk mengatasi rasa takut dan kekhawatiran. Ketidakpastian yang disuguhkan oleh berita-berita negatif mendorong kita untuk terus-menerus menyelusuri informasi, mencari kepastian di tengah-tengah kekacauan.

Doomscrolling juga muncul sebagai sebuah lingkaran setan di mana pengguna terjerat dalam pola pencarian informasi negatif tanpa memandang seberapa buruk beritanya. Selain itu, karena platform online sangat memahami apa yang paling memikat perhatian kita dengan menggunakan sistem algoritmik, mereka menyajikan konten yang dirancang untuk menarik perhatian kita berdasarkan interaksi kita sebelumnya di dunia maya (Satici, et al, 2023).

Oleh karena itu, apakah motivasi doomscrolling adalah untuk mencari informasi negatif atau dipengaruhi oleh faktor individu seperti kehilangan kendali diri, atau sistem algoritmik yang terus memberikan umpan berita tak terbatas mengenai hal yang bersifat negatif, semuanya akhirnya akan membentuk perilaku scrolling kompulsif.

Lebih lanjut, Bekalu (2021) dalam risetnya mencatat bahwa sebagai manusia, kita cenderung secara alami lebih tertarik pada berita negatif. Ini berarti bahwa, secara umum, kita terprogram untuk terus-menerus mencari informasi negatif tanpa disadari. Dengan fenomena ini, platform media sosial secara aktif mengambil keuntungan dari kecenderungan "alami" manusia ini untuk menarik lebih banyak pengguna dan membuat mereka tetap menggunakan platform tersebut.

Dampak dan Cara Mengatasi Doomscrolling 

Meskipun awalnya terlihat sebagai kegiatan yang tidak berbahaya, doomscrolling dapat memiliki dampak serius pada kesejahteraan mental. Paparan berulang terhadap berita negatif dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Selain itu, doomscrolling juga dapat mengganggu pola tidur, mengurangi produktivitas, dan merusak hubungan sosial.

Mengatasi kebiasaan doomscrolling memerlukan kesadaran dan usaha yang konsisten. Pertama-tama, penting untuk membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan platform berita. Tetapkan batas waktu harian untuk konsumsi berita dan hindari membuka aplikasi berita sebelum tidur. Selain itu, pilih sumber berita yang dapat dipercaya dan fokus pada informasi yang positif atau mendukung.

Selain itu, untuk mengurangi dampak doomscrolling, penting untuk membangun kecerdasan emosional digital. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi saat berinteraksi dengan dunia digital. Mulailah dengan mengidentifikasi perasaan yang muncul selama doomscrolling dan temukan cara untuk mengubah pola pikir negatif menjadi positif. Aktivitas-aktivitas seperti meditasi dan olahraga juga dapat membantu mengurangi stres yang disebabkan oleh doomscrolling.

Doomscrolling, meskipun tampak sepele, dapat menjadi lubang hitam digital yang menghisap kesejahteraan mental dan emosional kita. Penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran akan perilaku ini dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Dengan membatasi waktu doomscrolling, memilih sumber berita yang positif, dan membangun kecerdasan emosional digital, kita dapat menjaga keseimbangan yang sehat antara terhubung dengan dunia dan menjaga kesejahteraan pikiran dan jiwa kita.