Di tengah lautan informasi digital yang tak terbatas, manusia modern seringkali terjebak dalam perilaku yang mungkin tidak mereka sadari, yakni doomscrolling. Fenomena ini merujuk pada kebiasaan membaca berita atau konten negatif secara terus-menerus di media sosial atau platform berita digital. Meskipun tampak seperti kegiatan yang sepele, doomscrolling sebenarnya dapat memiliki dampak serius pada kesejahteraan mental dan emosional kita.
Doomscrolling dan Faktor Penyebabnya
Salah satu alasan utama mengapa doomscrolling begitu menarik adalah adanya ketidakpastian. Manusia secara alami cenderung mencari informasi untuk memahami dunia di sekitar mereka, dan kecenderungan untuk mencari berita buruk bisa menjadi hasil dari keinginan untuk mengatasi rasa takut dan kekhawatiran. Ketidakpastian yang disuguhkan oleh berita-berita negatif mendorong kita untuk terus-menerus menyelusuri informasi, mencari kepastian di tengah-tengah kekacauan.
Doomscrolling juga muncul sebagai sebuah lingkaran setan di mana pengguna terjerat dalam pola pencarian informasi negatif tanpa memandang seberapa buruk beritanya. Selain itu, karena platform online sangat memahami apa yang paling memikat perhatian kita dengan menggunakan sistem algoritmik, mereka menyajikan konten yang dirancang untuk menarik perhatian kita berdasarkan interaksi kita sebelumnya di dunia maya (Satici, et al, 2023).
Oleh karena itu, apakah motivasi doomscrolling adalah untuk mencari informasi negatif atau dipengaruhi oleh faktor individu seperti kehilangan kendali diri, atau sistem algoritmik yang terus memberikan umpan berita tak terbatas mengenai hal yang bersifat negatif, semuanya akhirnya akan membentuk perilaku scrolling kompulsif.
Lebih lanjut, Bekalu (2021) dalam risetnya mencatat bahwa sebagai manusia, kita cenderung secara alami lebih tertarik pada berita negatif. Ini berarti bahwa, secara umum, kita terprogram untuk terus-menerus mencari informasi negatif tanpa disadari. Dengan fenomena ini, platform media sosial secara aktif mengambil keuntungan dari kecenderungan "alami" manusia ini untuk menarik lebih banyak pengguna dan membuat mereka tetap menggunakan platform tersebut.
Dampak dan Cara Mengatasi Doomscrolling
Meskipun awalnya terlihat sebagai kegiatan yang tidak berbahaya, doomscrolling dapat memiliki dampak serius pada kesejahteraan mental. Paparan berulang terhadap berita negatif dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Selain itu, doomscrolling juga dapat mengganggu pola tidur, mengurangi produktivitas, dan merusak hubungan sosial.
Mengatasi kebiasaan doomscrolling memerlukan kesadaran dan usaha yang konsisten. Pertama-tama, penting untuk membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan platform berita. Tetapkan batas waktu harian untuk konsumsi berita dan hindari membuka aplikasi berita sebelum tidur. Selain itu, pilih sumber berita yang dapat dipercaya dan fokus pada informasi yang positif atau mendukung.
Selain itu, untuk mengurangi dampak doomscrolling, penting untuk membangun kecerdasan emosional digital. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi saat berinteraksi dengan dunia digital. Mulailah dengan mengidentifikasi perasaan yang muncul selama doomscrolling dan temukan cara untuk mengubah pola pikir negatif menjadi positif. Aktivitas-aktivitas seperti meditasi dan olahraga juga dapat membantu mengurangi stres yang disebabkan oleh doomscrolling.
Doomscrolling, meskipun tampak sepele, dapat menjadi lubang hitam digital yang menghisap kesejahteraan mental dan emosional kita. Penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran akan perilaku ini dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Dengan membatasi waktu doomscrolling, memilih sumber berita yang positif, dan membangun kecerdasan emosional digital, kita dapat menjaga keseimbangan yang sehat antara terhubung dengan dunia dan menjaga kesejahteraan pikiran dan jiwa kita.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Memahami Keberadaan Meme dalam Interaksi di Media Sosial
-
Ogah Flexing Barang Mewah, Ini Alasan Selvi Ananda Tak Pakai Media Sosial
-
Ingat, Kreator Konten di Medsos Tak Terimbas Perpres Publisher Rights
-
Dari Konten Kreator, Azhar Dzaki Irawan Sukses Tingkatkan Ekonomi Keluarga Sejak SMA
-
Tiru Snapchat, Instagram Siapkan Fitur Friend Map
Lifestyle
-
4 OOTD Edgy Streetwear ala Jihyo TWICE yang Siap Bikin Kamu Makin Pede!
-
Jangan Cuma Keripik! Ini 7 Pilihan Camilan Segar untuk Nonton Piala Dunia
-
Lenovo TA410: TWS Open Ear Murah dengan Bluetooth 7.0 dan Baterai hingga 48 Jam
-
Super Iconic, 4 OOTD Grungy Hip Hop ala Woojin LNGSHOT yang On Point!
-
Intip Bocoran iPhone 18 Pro, Hadir dengan Face ID di Bawah Layar dan Chip A20 Pro 2nm
Terkini
-
Prediksi Lini Prancis vs Irak, Les Bleus Bidik Tiket Lolos Grup Piala Dunia
-
Salah Kaprah tentang Makna Benefit yang Tercantum di Iklan Lowongan Kerja
-
Karakter Lotso dan Romantisme terhadap Sosok Pemimpin Otoriter
-
Tayang 2 Juli, TOHO Gandeng Netflix Garap Versi Baru The Human Vapor
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita