Seorang perempuan berusia 17 tahun diduga dicekoki minuman keras dan dirudapaksa saat bersama dengan teman laki-lakinya di wilayah Cipondoh, Kota Tangerang, Banten. Mula-mula, korban didapati bermain bersama dengan delapan laki-laki di rumah, hingga suatu ketika diajak oleh salah satu temannya bernama Ivan untuk pergi dengan alasan ingin memperbaiki motor.
Nyatanya, Ivan justru membeli minuman beralkohol dan menjebak korban dengan membawanya ke dalam rumah. Masih ada beberapa laki-laki di dalam rumah itu dan kemudian korban dipaksa untuk meminum miras tersebut. Setelah itu, korban baru sadar pada pukul 07.00 WIB dirinya sudah tidak mengenakan busana.
Diketahui pelaku menyimpan foto dan video aksi kekerasan tersebut saat korban tak sadarkan diri. Korban lantas menceritakan tindakan ini kepada keluarga dan sang kakak melaporkan aksi bejat tersebut ke Polres Metro Tangerang. Sampai saat ini, pelaku utama masih menjadi buron karena melarikan diri.
Dari kronologi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa korban sedang merasa dalam mode aman di lingkungan pertemanan itu. Akan tetapi, mungkin kita bertanya-tanya mengapa perempuan tersebut tidak menarik langkah saat Ivan membeli minuman beralkohol yang setidaknya tentu menimbulkan rasa curiga.
Korban Mengaku Pernah Mabuk
Melalui tangkapan layar ini, korban mengaku pernah mengonsumsi minuman beralkohol sebatas untuk pergaulan atau nongkrong tapi tetap dalam koridor menjaga diri dan kehormatan. Artinya, minuman keras di mata korban bukanlah hal yang baru.
Mungkin ini bisa menjadi penyebab mengapa korban tidak menarik langkah saat Ivan membeli minuman beralkohol. Hal ini juga yang mengindikasikan bahwa pelaku sengaja memanfaatkan celah normalisasi minuman keras dalam pergaulan tersebut untuk melancarkan aksi kejinya.
Selain itu, terlalu percaya kepada teman justru berdampak negatif. Kita tidak bisa berharap kepada setiap insan untuk memberi perlakuan yang sama. Begitu juga dengan yang dialami perempuan tersebut, mungkin ia berpikir positif bahwa miras yang dibeli digunakan untuk bersenang-senang saja. Padahal, laki-laki tersebut menyimpan niat terselubung.
Setiap perempuan perlu berhati-hati ketika berteman dengan lawan jenis. Batasan pertemanan harus dijunjung tinggi agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Simpan rasa curiga meski tidak diungkapkan, karena rasa curiga adalah modal untuk bertindak saat terjadi hal di luar batas wajar. Jangan acuhkan rasa curiga yang muncul, cepatlah bertanya atau pergi menjauh sebelum terancam.
Di samping itu, munculnya ketertarikan akibat nafsu dari sisi pelaku adalah manusiawi, tetapi hal terpenting dari itu adalah pengendalian diri. Alasan khilaf karena nafsu adalah pernyataan yang cacat dan tak bermoral.
Jika alasan tersebut terus digunakan oleh para pelaku kekerasan seksual, justru sejatinya mereka sedang merendahkan derajat laki-laki setara dengan makhluk yang tidak memiliki nurani. Jadilah laki-laki yang bukan berarti membiarkan insting bekerja tanpa kendali akal dan etika.
Batasan Pertemanan Perempuan dengan Laki-Laki
Ada ironi besar jika kita membandingkan zaman dahulu dan sekarang. Dahulu, meski norma sosial sangat ketat, rasa hormat laki-laki terhadap perempuan dalam pertemanan cenderung lebih terjaga sehingga perempuan merasa aman meski berteman dengan lawan jenis karena ada batasan moral yang tak tertulis tapi dijunjung tinggi.
Berbeda dengan saat ini, di tengah era yang serba terbuka, situasi justru berbalik. Kedekatan yang dianggap bentuk dari pergaulan zaman sekarang justru sering kali disalahgunakan. Kebebasan berteman saat ini kerap mampu menghilangkan unsur rasa hormat dan digantikan oleh niat manipulatif.
Banyak laki-laki yang gagal mengendalikan nafsu dan justru menjadikan kedekatan sebagai kesempatan untuk menjebak, seperti yang dialami korban dalam kasus tersebut. Inilah mengapa perempuan sekarang dituntut untuk lebih waspada dan menyimpan rasa curiga, sebab pertemanan yang tampak akrab tak lagi menjamin keamanan seperti di masa lalu.
Batasan dalam pergaulan juga sejalan dengan nilai-nilai universal yang diajarkan dalam agama. Contohnya, dalam ajaran Islam telah menyampaikan bahwa batasan pergaulan antara lawan jenis ditujukan untuk menjaga kehormatan dan mencegah fitnah.
Anjuran tersebut di antaranya menutup aurat, menghindari berduaan, menundukkan pandangan, serta membatasi interaksi fisik dan komunikasi yang tidak perlu. Dengan demikian, pertemanan antara lawan jenis mampu memberikan dampak positif ataupun negatif tergantung pada kedewasaan dan bagaimana cara menyikapinya.
Baca Juga
-
Usul Pindah Gerbong: Mengapa Pernyataan Menteri PPPA Memicu Amarah Publik?
-
Joget Kicau Mania di Hari Buruh: Apa yang Sebenarnya Dirayakan?
-
Tragedi Stasiun Bekasi Timur: Evaluasi Lintasan Sebidang dan Sistem Sinyal
-
Pesan di Balik Air Mata: Mengapa Orang Tua Harus Lebih Peka Saat Memilih Daycare
-
Tanya TK, Bukan Kampus: Mengupas Gagasan Anies Baswedan soal Ketidakjujuran
Artikel Terkait
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Ternyata, Pertemanan Dewasa yang Tulus Tidak Perlu Selalu Bersama
-
Seni Mengenal Diri Lewat Teman: Membaca Kita Adalah Siapa yang Kita Temui
-
Sehari di Bukit Gundaling: Momen Perpisahan Bersama Teman Sebelum ke Batam
-
AI sebagai Teman Curhat: Solusi atau Ancaman Relasi Sosial?
Kolom
-
Tren 'Kicau Mania' dan Suara Burung yang Tak Lagi Saya Dengar
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Tren Sujud Freestyle Berujung Petaka: Alarm Keras Dunia Pendidikan
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
Terkini
-
IHR: Perebutan Piala Raja Mangkunegaran dan Laga Krusial Triple Crown di Tegalwaton
-
6 Eyeliner Smudgeproof di Bawah Rp50 Ribu: Bebas Transfer, Anti Bleber!
-
Ringan dan Terjangkau! 5 Moisturizer Ini Cocok untuk Semua Jenis Kulit Remaja
-
Bukan Minimarket Biasa: Rahasia Mematikan dalam A Shop for Killers
-
Review Drama Korea As You Stood By: Sulitnya Keluar dari Hubungan Toxic