Dalam beberapa tahun terakhir, istilah job hopping sempat menjadi tren di kalangan profesional muda. Pindah-pindah kerja dianggap sebagai langkah strategis untuk menaikkan gaji, memperluas jejaring, hingga memperkaya pengalaman. Namun kini, muncul fenomena baru yang justru bertolak belakang: job hugging.
Pernah dengar istilah job hugging? Kalau kamu membayangkan seseorang memeluk meja kerjanya erat-erat dan enggan berpindah, kamu tidak sepenuhnya salah. Istilah ini memang sedang ramai dibicarakan, terutama di kalangan pekerja muda Indonesia. Job hugging adalah kondisi di mana seseorang memilih tetap bertahan di tempat kerja saat ini, meskipun sudah merasa tidak nyaman dan memiliki tawaran atau peluang baru yang menggiurkan.
Berbeda dengan era job hopping, yang menjadikan perpindahan kerja sebagai bagian dari strategi karier, job hugging lebih menekankan pada kebutuhan akan stabilitas, keamanan, dan keberlanjutan. Ini bukan sekadar soal merasa nyaman, tetapi juga menjadi respons terhadap situasi global yang serba tak menentu.
Banyak faktor yang membuat job hugging menjadi pilihan realistis saat ini. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, ancaman PHK massal, hingga dinamika dunia kerja yang semakin cepat dan kompleks, banyak profesional muda akhirnya memilih untuk bertahan. Mereka merasa lebih aman berada di lingkungan yang sudah dikenal, dengan sistem kerja yang bisa mereka pahami dan adaptasi yang tidak lagi perlu diulang dari awal.
Namun, apakah job hugging ini sesuatu yang sepenuhnya baik? Tidak juga. Di satu sisi, keputusan untuk bertahan bisa menjadi langkah bijak jika pekerjaan saat ini masih menawarkan tantangan, ruang berkembang, dan stabilitas. Tetapi, jika dilakukan hanya karena rasa takut akan perubahan, job hugging justru bisa membawa risiko stagnasi karier, hilangnya motivasi, dan ketertinggalan kompetensi di tengah dunia kerja yang terus berkembang.
Job hugging bukan berarti kamu harus berhenti bermimpi atau mengejar hal yang lebih baik. Kuncinya adalah mengenali kapan kamu sedang membuat keputusan yang strategis, dan kapan kamu sedang “main aman” karena takut mengambil resiko.
Job hugging juga bisa jadi refleksi dari perubahan cara kita memandang karier. Dulu, “pindah kerja = ambisius”, sekarang, “bertahan = mindful”. Banyak anak muda kini lebih fokus pada work-life balance, kesehatan mental, dan keberlanjutan karier dalam jangka panjang. Karier tidak lagi harus diukur dari seberapa cepat kamu naik jabatan atau pindah perusahaan, tapi seberapa kamu bisa berkembang dengan versi terbaik dirimu.
Baca Juga
-
Ngaku Fans Peterpan, Pasha Ungu Antusias Ditawari Jadi Vokalis
-
Ipar Dituding Numpang Hidup, Ayu Ting Ting Langsung Pasang Badan
-
Swara Prambanan 2025, Tutup Tahun dengan Nada, Budaya, dan Doa
-
Tanpa Kembang Api, Swara Prambanan 2025 Rayakan Tahun Baru dengan Empati
-
Saat Sketsa dan Tulisan Berubah Jadi Aksi Menjaga Mangrove di Pantai Baros
Artikel Terkait
-
Kreatif dan Luwes, Ini 5 Pekerjaan yang Paling Cocok untuk Zodiak Gemini
-
Polandia Jadi Negara Eropa Kedua yang Kerja Sama dengan Indonesia Berantas Kejahatan Lintas Negara
-
Apakah PPPK Paruh Waktu Dapat Gaji 13 dan THR? Begini Aturan Resminya
-
Thariq Halilintar Kerja Apa? Bingung Dicecar Deddy Corbuzier Punya Bisnis Apa
-
Ada Pemotongan Anggaran, 800 Ribu Buruh hingga Guru Mogok Kerja
Lifestyle
-
4 Moisturizer Lokal Licorice untuk Wajah Cerah dan Lembap Sepanjang Hari
-
5 Brand Parfum Lokal Anti Mainstream, Wajib Masuk Koleksi!
-
Kadokawa Umumkan Adaptasi Anime "Doumo, Suki na Hito", Visual Perdana Dirilis
-
4 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Penyimpanan Internal 256 GB, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Jangan Buru-buru! 7 Rekomendasi HP Ini Jadi Lawan Sengit Redmi Note 15 5G