“Ditolak lagi, ya sudah biasa.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya menyimpan banyak luka. Begitulah cara L (21) menghabiskan kesehariannya sebagai pencari kerja muda. Sejak lulus SMA di usia 18 tahun, ia sudah mulai berjuang menjadi kerja.
Ia masih ingat masa-masa itu, saat ia berpikir mencari pekerjaan hanyalah soal niat dan usaha, ternyata nggak sesederhana itu.
Selama satu tahun lebih, L menghabiskan waktu di depan layar, membuka Instagram, Indeed, Kita Lulus, hingga CareerMAP. Ia rajin melamar pekerjaan lewat akun lowongan internal maupun umum. Tapi setiap kali membuka email, hasilnya sering sama: tidak ada kabar.
“Banyak lowongan minta minimal S1, pengalaman kerja ada minimalnya, bahkan syarat fisik tertentu, bahkan sampai nahan ijazah. Padahal gajinya masih di bawah standar,” ujarnya.
Proses yang Panjang dan Menguras Mental
Menurut L, proses rekrutmen sekarang cenderung melelahkan. Ia beberapa kali ikut seleksi yang tahapnya begitu panjang, mulai dari administrasi, wawancara HRD, sampai wawancara user, tapi hasil akhirnya nihil.
L mengaku, yang paling membuat capek bukan cuma penolakannya, tapi ketidakpastian itu sendiri. “Kayak digantung. Udah nyiapin semua berkas, tapi enggak tahu diterima atau enggak. Lama-lama ya bikin capek banget,”
Setiap penolakan datang, rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit terkikis. “Awalnya masih semangat, tapi setelah ditolak berkali-kali, mulai mikir, apa aku enggak cukup bagus ya?” ceritanya.
Beban Mental yang Tak Terlihat
Perasaan itu, pelan tapi pasti, berubah jadi beban psikologis. Mental load, begitu istilahnya. Tekanan yang datang dari banyak arah, seperti penolakan berulang, rasa tidak pasti, sampai komentar lingkungan sekitar.
“Teman-teman seangkatan udah kerja semua, kadang iri, kadang malu. Kalau ditanya kerja di mana, rasanya kayak gagal,” katanya jujur.
Bagi L, mental load itu seperti bayangan yang selalu mengikuti. Ia tetap mencoba melamar ke sana-sini, tapi setiap klik tombol “kirim lamaran”, muncul rasa takut ditolak lagi. “Capek, tapi nggak bisa berhenti. Soalnya kalau berhenti, berarti nyerah.” jelasnya.
Baginya, sistem rekrutmen di Indonesia masih perlu diperbaiki. “Pemerintah jangan cuma buka lowongan, tapi juga kaji sistem perusahaan. Banyak yang belum adil,” tegasnya.
Harapan di Tengah Kelelahan
Meski sekarang sudah bekerja, ia tak melupakan masa-masa sulitnya dulu. Cerita L menggambarkan sisi lain dari realitas anak muda hari ini, kompetitif, menuntut, tapi juga penuh tekanan emosional. Penolakan demi penolakan bukan hanya menguji kemampuan, tapi juga ketahanan mental.
Namun dari kisahnya, kita belajar satu hal, bahwa lelah boleh, berhenti tidak. Karena di balik setiap “ditolak lagi”, selalu ada kemungkinan baru menunggu di depan.
Baca Juga
-
Campaign Anti-Bullying, Suara.com dan BLP UNISA Kunjungi SMA Mutiara Persada
-
100 Perempuan Muda Siap Raih Mimpi Bersama Glow & Lovely Bintang Beasiswa 2025
-
Spesial Hari Guru! Suara.com Dampingi Guru Ngaglik Pelatihan Menulis
-
Rayakan Natal dan Tahun Baru 2026 Penuh Warna di Satoria Hotel Yogyakarta
-
Segera Tayang! Intip 4 Fakta Menarik di Balik Film 'Belum Ada Judul'
Artikel Terkait
-
Terjebak di Usia Emas: Diskriminasi Pekerja Tua di Indonesia Berakhir?
-
OLX Jadi Ruang Aman untuk Pencari Kerja Harian
-
IMF: Pengangguran Indonesia Terburuk Kedua di Asia! Apa Kabar Job Fair?
-
Job Fair Bekasi: Alarm Krisis Lapangan Kerja dan Potensi Kriminalitas?
-
Pengakuan HRD: 90 Persen Job Fair Hanya Ajang Formalitas Perusahaan!
Lifestyle
-
4 Sampo Amino Acid Terbaik untuk Rambut Sehat, Lembap, dan Kuat
-
Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak
-
Samsung Galaxy S26 FE Hadir di Indonesia, Teman Andalan Anak Muda Wujudkan Ide Kreatif
-
iPhone Duo Akhirnya Rilis, Apple Siap Tantang Samsung di HP Foldable
-
4 Moisturizer yang Ampuh Pudarkan Dark Spot dan Bikin Wajah Cerah Merata
Terkini
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Tayang 20 September, RuPaul Pimpin Komedi Drag Kacau di Stop! That! Train!
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Menjelajahi Retorika dan Diplomasi Politik Perempuan dalam Film The Odyssey
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario