Sebagian besar dari kita tumbuh dengan pola pikir bahwa hidup adalah soal bekerja keras, menabung sebanyak mungkin, dan menikmati hasilnya ketika usia sudah senja.
Tapi sudut pandang itu berubah cukup jauh bagi Raditya Dika setelah membaca buku Die with Zero karya Bill Perkins.
Dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya pada Selasa (24/6/2025), Radit bercerita bahwa isi buku tersebut membuatnya memikirkan ulang banyak hal tentang pensiun, tabungan, dan investasi.
Ia melihat bahwa hidup bukan hanya tentang mengumpulkan uang, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu dan kesempatan selagi masih produktif.
Yuk Simak Lima Pelajaran dari Die with Zero Versi Raditya Dika!
1. Tujuan Hidup Bukan Menabung Sebanyak-banyaknya
Pelajaran pertama ini mungkin terdengar bertentangan dengan apa yang sering kita dengar. Menabung memang penting, tapi menurut buku ini, hidup tidak seharusnya dihabiskan hanya untuk mengumpulkan uang.
Radit mengatakan bahwa jika uang yang kita kumpulkan tidak pernah terpakai sampai kita meninggal, itu sama saja seperti bekerja keras tanpa menikmati hasilnya.
Hidup perlu dijalani, bukan hanya direncanakan terus-menerus. Bukan soal boros, tetapi jangan sampai kita pergi meninggalkan dunia dengan uang yang tidak pernah kita gunakan.
2. Gunakan Waktu Selagi Masih Produktif
Radit memberi contoh saat masih muda, tubuh masih kuat dan sehat. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa hal hanya bisa dilakukan di usia tertentu. Itu sebabnya, menunda terlalu lama sering kali membuat kita kehilangan kesempatan tersebut.
Radit menyebutkan bahwa banyak orang baru mulai ingin menikmati uang pensiun saat sudah tua, padahal kondisi fisik mungkin sudah tidak seprima dulu.
Ia pun mengaku awalnya sulit untuk spending, tetapi setelah membaca buku ini, ia lebih yakin bahwa wajar menikmati hidup selama masih dalam batas kemampuan.
Radit juga menambahkan bahwa jangan menunggu hingga usia 70-80 tahun untuk menikmati uang, karena kondisi tubuh sudah berbeda. Itulah alasan ia ingin menggunakan waktu produktifnya untuk terus berkarya.
3. Salah Satu Tujuan Investasi Itu untuk Membeli Pengalaman
Dalam pelajaran ketiga, Radit menyoroti bahwa pengalaman juga sebuah bentuk aset. Banyak orang menunda kebahagiaan karena merasa harus menabung dulu. Padahal, momen menikmati hidup sering datang justru saat kita masih muda dan sehat.
Ia juga mengaku lebih senang menghabiskan uang untuk pengalaman yang bisa ia bagikan kepada banyak orang, dibandingkan membeli barang. Menurutnya, investasi tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang memperkaya hidup dengan pengalaman yang berkesan.
4. Bagi Hidup Menjadi Periode atau Konsep Time Buckets
Buku ini menyarankan konsep time buckets yaitu membagi hidup dalam beberapa periode, misalnya usia 20-30, 30-40, dan seterusnya. Dengan cara itu, kita bisa membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukan atau dicapai sebelum fase tersebut terlalui.
Radit memberi contoh, di usia 20-30 kita bisa mengeksplorasi banyak hal. Lalu di usia 30-40, kita mungkin ingin lebih banyak waktu bersama anak sambil mengurangi jam kerja.
Menurut Radit, konsep ini membantu hidup menjadi lebih terstruktur dan mudah dibayangkan, sehingga kita tahu apa yang perlu dilakukan di setiap fase.
5. Berikan Warisan Saat Masih Hidup
Pelajaran terakhir ini cukup memancing perdebatan. Buku tersebut menjelaskan bahwa memberi warisan atau bantuan tidak harus menunggu kita tiada. Jika diberikan ketika orang yang kita bantu masih benar-benar membutuhkan, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Radit mengaku masih merenungkan konsep ini, apakah ia setuju sepenuhnya atau tidak. Namun, ia mengakui bahwa pelajaran itu tentu saja dapat membuka cara pandang baru untuk memberi manfaat pada orang lain.
Ia juga menekankan bahwa kelima poin ini adalah pemahamannya pribadi. Jika membaca buku ini secara langsung, bisa saja setiap orang menangkap pesan yang berbeda.
Setiap orang tentu punya pilihan masing-masing, tapi perspektif ini bisa menjadi pengingat bersama bahwa menikmati hidup bukanlah bentuk kemunduran, melainkan bagian dari menghargai diri sendiri.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Sering Disalahartikan, Ini Makna Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan dari Idgitaf!
-
Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin
-
Siap Menikah, Ranty Maria dan Rayn Wijaya Siapkan Live Streaming untuk Fans
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
-
Campaign Bullying Tidak Sama dengan Jokes: Bercanda Boleh, Menyakiti Jangan
Artikel Terkait
-
Apa Itu Ghost Job dan Ciri-Cirinya? Pencari Kerja Wajib Tahu!
-
Siapa Gabriel Han Willhoft-King? Pemain Keturunan Indonesia Resmi Gantung Sepatu Demi Kuliah
-
Angin Segar atau Jalan Pintas? Dosen UGM Bongkar Ironi di Balik Lonjakan Lowongan Kerja Luar Negeri
-
Aksi Jatuh Bareng: Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Terkoreksi
-
Program SMK Go Global Dinilai Bisa Tekan Pengangguran, P2MI: Target 500 Ribu Penempatan
Lifestyle
-
Tablet Makin Gahar! Ini 6 Pilihan Terbaik untuk Multitasking 2026
-
Super Effortless! Intip 4 Inspirasi OOTD Smart Casual ala Kim Jae Young
-
4 Face Spray Lokal, Solusi Anti-Ribet Wajah Glowing dan Lembap Setiap Hari
-
Praktis dan Hemat! 6 Rekomendasi Bundle Lipstik Ombre untuk Daily Makeup
-
4 Moisturizer Gel Rawat Kulit Berminyak Ampuh Redakan Kemerahan dan Jerawat
Terkini
-
Demokrasi Bukan soal Kubu: Kenapa Kita Tak Bisa Kritik Tanpa Dicap?
-
Jadwal Lebaran dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah Berdasarkan Maklumat Terbaru
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
-
Mengumpulkan Kembali Puing-puing Sisa Kehancuran, Pasca Banjir Aceh
-
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang