Hayuning Ratri Hapsari | Mira Fitdyati
Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (Pexels/Alena Darmel)
Mira Fitdyati

Perceraian masih sering dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Tidak sedikit orang merasa bahwa setelah sebuah hubungan berakhir, khususnya melalui perceraian, mereka seolah dicap sebagai barang bekas oleh lingkungan sekitar.

Stigma ini perlahan membentuk keyakinan bahwa berpisah berarti menurunkan nilai diri di mata masyarakat. Pandangan tersebut membuat sebagian orang memilih bertahan dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic.

Bukan karena tidak menyadari luka yang dialami, melainkan karena rasa takut akan penilaian sosial yang dianggap lebih menyakitkan dibandingkan hubungan itu sendiri.

Zola Yoana, seorang matchmaker atau makcomblang bersertifikat dari Amerika Serikat, menjelaskan mengapa banyak orang tetap bertahan dalam hubungan toxic. Hal tersebut ia sampaikan melalui video di kanal YouTube Rory Asyari, Selasa (30/12/2025).

Takut Penilaian Sosial dan Stigma Pasca-Perceraian

Menurut Zola, rasa takut dihakimi atau mendapat judgement menjadi faktor yang hampir selalu muncul. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain seperti Singapura.

Orang yang bercerai sering dipandang sebelah mata, bahkan dianalogikan seperti barang bekas, meskipun pada dasarnya manusia tidak bisa dinilai seperti sebuah objek.

Zola menegaskan bahwa tidak ada orang yang menikah dengan tujuan untuk bercerai. Pernikahan adalah keputusan besar dan penuh pertimbangan.

Tekanan sosial inilah yang akhirnya membuat banyak orang tetap bertahan, meski hubungan yang dijalani sudah tidak lagi sehat.

Bagi perempuan, tekanan tersebut sering terasa lebih berat. Status janda masih sering dilekatkan dengan stigma negatif, sehingga rasa takut akan label sosial menjadi alasan kuat untuk tetap bertahan.

Faktor Ekonomi, Anak, dan Harapan akan Perubahan

Selain tekanan sosial, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan besar. Zola menjelaskan kondisi ini sering terjadi ketika salah satu pasangan tidak memiliki pekerjaan.

Ketidakpastian tentang kehidupan setelah berpisah membuat seseorang merasa ragu dan takut mengambil keputusan.

Rasa takut menghadapi kesendirian juga turut memengaruhi. Ada kekhawatiran bahwa setelah berpisah, seseorang akan benar-benar sendiri dan mulai mempertanyakan apakah masih ada orang yang mau menerima dirinya.

Anak pun menjadi alasan utama bagi banyak pasangan untuk tetap bertahan. Demi anak-anak, mereka memilih menahan diri meskipun harus mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan emosional.

Dalam pengalamannya, Zola sering menanyakan satu pertanyaan, mengapa masih bertahan, padahal sudah tahu akan kembali terluka?

Jawaban yang sering muncul adalah karena pasangan masih bisa bersikap manis ketika kondisi sedang baik-baik saja.

Saat tidak terjadi konflik, pasangan terlihat perhatian dan penuh kasih. Dari situlah harapan muncul, bahwa pasangan mungkin akan berubah dan hal menyakitkan tidak akan terulang.

Meski begitu, harapan ini sering kali membuat seseorang hanya melihat satu sisi, tanpa benar-benar menilai hubungan secara utuh.

Zola mengingatkan pentingnya melihat bagaimana pasangan menghadapi konflik. Apakah emosinya stabil, mampu mendengarkan, atau justru menunjukkan perilaku kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.

Jika hubungan sudah tidak lagi sejalan dengan tujuan awal dan harapan akan perubahan hanya berulang kali berujung pada luka, Zola menyarankan untuk berhenti berharap dan berani mengambil jarak. Menurutnya, perubahan tidak bisa dipaksakan.

Seseorang hanya bisa berubah jika memang ada keinginan dari dalam dirinya sendiri. Kita bisa mengingatkan, tetapi keputusan untuk berubah sepenuhnya tetap berada di tangan masing-masing.