Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Aurelie Moeremans (Instagram/aurelie)
Natasya Regina

Aurelie Moeremans tengah menjadi sorotan publik setelah merilis buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.

Karya yang bersampul hitam tersebut langsung menarik perhatian warganet karena memuat kisah personal yang selama ini tidak pernah ia ungkap secara terbuka.

Melalui buku ini, Aurelie untuk pertama kalinya berbagi pengalaman pahit yang membentuk perjalanan hidupnya sejak remaja.

Ia secara terbuka mengaku pernah menjadi korban grooming, sebuah bentuk manipulasi yang kerap luput disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar.

Pengakuan Personal yang Menggugah

Dalam unggahan media sosialnya pada 3 Januari 2026, Aurelie menjelaskan alasan di balik penulisan buku tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh cerita yang dituangkan merupakan pengalaman nyata yang pernah ia alami sendiri.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umurku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie Moeremans.

Pengakuan ini sontak memicu diskusi luas di media sosial, terutama karena isu grooming masih sering dianggap tabu dan jarang dibicarakan secara terbuka oleh figur publik.

Awal Pertemuan dan Proses Grooming

Dalam Broken Strings, Aurelie menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang ia sebut dengan nama samaran Bobby. Sosok tersebut bukan nama sebenarnya dan digambarkan berusia 29 tahun saat pertama kali mendekatinya.

Pertemuan mereka terjadi di lokasi syuting iklan, sebuah lingkungan kerja yang seharusnya aman bagi remaja yang baru merintis karier di dunia hiburan. Namun dari situlah, proses grooming perlahan dimulai.

Aurelie mengungkap bagaimana Bobby secara bertahap menjauhkan dirinya dari lingkaran terdekat. Ia mulai dipisahkan dari teman-temannya, saudara kandung, hingga orang tuanya sendiri. Ketimpangan usia yang cukup jauh membuat relasi tersebut dipenuhi kontrol dan dominasi.

Tak hanya itu, pria tersebut juga mengatur cara Aurelie berpakaian serta membatasi komunikasinya dengan dunia luar. Tanpa disadari, ruang gerak dan kebebasannya semakin menyempit, sementara ketergantungan emosional terus dibangun.

Memoar sebagai Proses Penyembuhan

Broken Strings bukan sekadar catatan luka masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan Aurelie.

Buku ini ia posisikan sebagai upaya memahami kembali dirinya sendiri, sekaligus bentuk keberanian untuk berbicara setelah lama memilih diam.

Di sisi lain, Aurelie berharap kisahnya bisa menjadi peringatan bagi publik tentang bahaya laten grooming dan manipulasi dalam relasi, terutama yang melibatkan anak dan remaja.

Memahami Apa Itu Grooming

Mengacu pada informasi dari Alo Dokter, child grooming merupakan teknik manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun kepercayaan anak atau remaja. Tujuan akhirnya adalah eksploitasi atau pelecehan seksual.

Proses ini biasanya berlangsung secara bertahap. Pelaku berusaha membangun ikatan emosional, membuat korban merasa dipahami, dilindungi, dan bergantung secara psikologis.

Dalam banyak kasus, pelaku memiliki niat khusus untuk mengendalikan cara berpikir anak agar patuh terhadap arahan dan perintahnya.

Pelaku yang sering disebut sebagai predator kerap menargetkan anak atau remaja dengan kepercayaan diri rendah. Selain intimidasi dan ancaman, pelaku juga bisa memisahkan korban dari keluarganya dengan menanamkan keyakinan bahwa hanya dirinya yang paling memahami korban, bahkan melebihi orang tua.

Dampak Jangka Panjang bagi Korban

Child grooming tidak hanya berdampak pada kondisi saat kejadian berlangsung, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental korban dalam jangka panjang.

Dampaknya dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pada kondisi psikologis dan dukungan lingkungan sekitar.

Namun secara umum, korban berisiko mengalami trauma emosional mendalam, depresi, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder atau PTSD.

Tak jarang, korban juga mengalami kesulitan mempercayai orang lain, mempertahankan hubungan yang sehat, serta mengalami hambatan dalam perkembangan emosional dan sosial.

Melalui kisahnya, Aurelie Moeremans membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang isu grooming, sekaligus mengingatkan pentingnya perlindungan dan kesadaran bersama terhadap anak dan remaja di berbagai lingkungan.