Selain puasa, bulan Ramadan selalu dibarengi dengan kegiatan keagamaan, ada banyak aktivitas tambahan yang bisa kita ikuti di bulan suci ini.
Hal ini tentu bukan sesuatu yang negatif, justru bisa membuat kita melakukan lebih banyak kebaikan. Namun, segala sesuatu yang berlebihan juga tidak baik.
Terkadang kita jadi terobsesi harus melakukan sesuatu, hingga akhirnya melenceng dari niat awal. Aktivitas yang seharusnya bisa membuat kita menjalani Ramadan dengan khidmat, justru diwarnai dengan drama-drama yang tidak perlu.
Menjalani Ramadan dengan konsep slow living bisa membantu kita mengontrol kegiatan yang berlebihan. Berikut ini adalah tips menjalani bulan Ramadan versi slow living.
1. Ibadah dengan Jadwal yang Realistis
Selama Ramadan kita cenderung ingin memperbanyak ibadah sebagai bentuk rasa syukur dan senang bisa bertemu bulan suci. Namun, kadang kita juga lupa memperhatikan kualitas ibadah yang kita lakukan.
Sebagai contoh, kita ingin membaca Al Quran dalam jumlah banyak dalam sehari, tapi kita lupa memperhatikan bacaannya. Kemudian, memperbanyak dzikir, tapi tangan kita sesekali masih memegang HP/scroll media sosial.
Bisa lebih banyak beribadah di bulan Ramadan adalah nikmat yang harus kita syukuri, tapi usahakan untuk tidak melupakan kualitas ibadah kita. Untuk itu, membuat jadwal ibadah yang realistis juga penting.
2. Buka Puasa Secukupnya
Masih banyak orang beli/membuat makanan dalam jumlah berlebih saat berbuka puasa dan ujung-ujungnya terbuang percuma. Dalam kondisi puasa, saat perut lapar dan tenggorokan menahan dahaga, memang ingin kita merasakan semua makanan yang ada di depan mata.
Akan tetapi, kita juga harus sadar bahwa itu hanya keinginan palsu. Nyatanya, setelah berbuka kita sering tidak menghabiskan makanan yang sudah dibuat/dibeli. Kalaupun habis, dampaknya selalu tidak baik, perut begah, mual, dan akhirnya mengganggu ibadah.
Tips menghindari berbuka yang berlebihan adalah dengan membatasi diri kita sendiri, membatasi untuk tidak membeli makanan dalam jumlah banyak misalnya, atau membatasi diri untuk tidak selalu pergi keluar rumah setiap jelang waktu buka puasa.
3. Detoks Media Sosial
Salah satu kunci kehidupan slow living adalah bijak dalam menggunakan media sosial. Saat ini, utamanya bulan puasa, media sosial diibaratkan sebagai pisau bermata dua, artinya bisa memiliki dampak yang positif atau negatif.
Dampak positif media sosial saat bulan Ramadan di antaranya adalah untuk media promosi dan informasi. Di samping itu, ada banyak dampak negatif yang ditimbulkan.
Misalnya, budaya bukber atau buka bersama yang kini lebih terlihat sebagai kegiatan adu outfit dibandingkan dengan menyambung tali persaudaraan. Tren makanan atau pakaian yang juga membuat gaya hidup makin konsumtif.
Oleh karena itu, di bulan Ramadan ini penting bagi kita untuk lebih bijak dalam mendetoks apa yang kita lihat, terutama di media sosial. Jangan sampai niat buka bersama yang seharusnya jadi momen silaturahmi, justru jadi ajang adu gengsi.
4. Menghadiri Acara Sewajarnya
Masih ada kaitannya dengan kegiatan di bulan Ramadan, kalian pasti lebih sering menerima ajakan untuk menghadiri sebuah acara. Mulai dari buka bersama, sahur on the road, dan bagi-bagi takjil.
Tidak ada yang salah dengan kegiatannya, justru itu sangat positif. Namun, perlu diingat bahwa kamu tidak perlu mengiyakan semua ajakan itu, kamu boleh memilah-milah atau bahkan menolak.
Pasalnya, kegiatan di bulan Ramadan ini cenderung lebih padat, apalagi kamu juga masih punya tanggung jawab lain, misalnya bekerja dan mengurus rumah.
Langkah baiknya adalah memilih kegiatan yang akan diikuti, misalnya boleh kamu datang ke suatu acara, batasi setidaknya satu kali dalam seminggu atau waktu yang kamu tentukan sendiri.
Pada intinya, cukupkan kegiatan agar tidak mengganggu waktu lainnya, seperti istirahat, waktu bersama keluarga, dan yang pasti ibadah. Kegiatan yang berlebihan juga bisa mengganggu kondisi dompetmu.
Nah, itu tadi 4 tips menjalani bulan Ramadan versi slow living yang bisa kamu terapkan. Lebih sedikit drama yang kita hadapi, semakin banyak makna Ramadan yang kita dapatkan.
Baca Juga
-
Gelar Juara Dunia Terbuka, Jorge Martin Tak Menolak Jika Ada Kesempatan
-
Jadwal MotoGP Jerez 2026: Usai Libur Panjang, Tim Mana yang akan Bersinar?
-
Marc Marquez Tunda Perpanjangan Kontrak, Ducati Sudah Cari Pengganti?
-
Mulai Menjauh, Fabio Quartararo Sudah Tak Aktif Kembangkan Motor Yamaha
-
Tak jadi ke Yamaha, Fabio Di Giannantonio Perpanjang Kontrak dengan VR46?
Artikel Terkait
-
Gaji Rp2 Juta Zakat Berapa? Ini Hitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah
-
Panitia Zakat Dapat Berapa Persen? Ini Penjelasan Menurut Syariat Islam
-
Ijab Qabul Zakat Fitrah: Bacaan Lengkap Saat Menyerahkan Zakat dan Menerimanya
-
IEMF 2026 Dorong Do Good Marketing Jadi Strategi Indonesia Memimpin Ekosistem Bisnis Islam Global
-
Stok Barang Impor Mampet, Pengusaha Ritel Cemas Momentum Lebaran 2026 Terganggu
Lifestyle
-
Rekomendasi Parfum Brand Lokal yang Cocok Dipakai Saat Berkebaya
-
Gaya Preepy ke Formal Look, Sontek 4 Ide Daily OOTD ala Kim Go Eun Ini!
-
5 Body Serum Cooling Sensation: Solusi Praktis Kulit Segar saat Cuaca Panas
-
4 Sunscreen Stick Panthenol, Praktis Re-apply Rawat Skin Barrier agar Kuat!
-
5 Inspirasi Gaya Rambut ala IU yang Bikin Tampilan Makin Fresh dan Girly
Terkini
-
Desember yang Pahit, Luka yang Manis: Jatuh Cinta Lagi di Buku Sarah Morgan
-
Jalan Panjang Satelit Palapa: Cerita Insinyur Asing di Indonesia 1976
-
Novel Isekai Populer Karya Yasukiyo Kotobuki Resmi Dapat Adaptasi Anime TV
-
Ong Seong Wu Bergabung dengan Park Eun Bin dan Yang Se Jong di Spellbound
-
Bicara Soal Kartini di 2026: Apakah Emansipasi Perempuan Masih Relevan?