“Kalau mau punya rumah, jangan kebanyakan ngopi dan nongkrong.”
Sobat Yoursay, begitulah komentar yang saya temukan di media sosial akhir-akhir ini menanggapi gaya hidup Generasi Z yang senang menghabiskan waktunya untuk nongkrong di kafe. Banyak orang yang mengaitkan kebiasaan tersebut dengan sulitnya anak muda membeli rumah. Mereka menggunakan logika yang cukup sederhana: semakin sedikit pengeluaran, semakin banyak tabungan, semakin besar pula peluang untuk bisa mempunyai rumah sendiri.
Namun, setelah melihat datanya, ternyata fakta tidak sesederhana komentar netizen di dunia maya. Data BPS menunjukkan ada sekitar 81 juta anak muda di Indonesia yang belum memiliki rumah. Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi juga menunjukkan bahwa persoalan kepemilikan rumah bukan dialami oleh segelintir orang yang dianggap kurang hemat. Jika ada puluhan juta anak muda yang menghadapi persoalan serupa, artinya mungkin memang ada faktor lain yang perlu kita perhatikan, selain gaya hidup.
Sebagai bagian dari generasi muda yang sedang kita bicarakan hari ini, saya mengakui pentingnya hidup hemat dan perlunya menabung. Mengendalikan pengeluaran tetap menjadi bagian dari literasi keuangan yang perlu kita pelajari dan biasakan agar bisa menjadi generasi yang melek finansial. Namun, jika bicara dalam konteks kepemilikan rumah, apakah nasihat tersebut masih relevan di kondisi ekonomi hari ini?
Seperti yang kita tahu, efektivitas sebuah nasihat sering kali bergantung pada konteks zamannya. Berdasarkan data yang saya temukan di berbagai situs, rata-rata pertumbuhan gaji hanya sekitar 2,5-6,5% per tahun. Sementara itu, harga properti terus mengalami peningkatan sekitar 5-15% per tahun. Melihat fakta tersebut, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa saat gaji Gen Z berjalan kaki, harga rumah justru berlari kencang.
Saya akui, mengurangi kebiasaan ngopi dan nongkrong mungkin memang bisa menambah tabungan. Tetapi sekali lagi, kita dihadapkan pada fakta yang menunjukkan selisih antara kenaikan pendapatan dan kenaikan harga rumah jauh lebih besar daripada sekadar uang yang kita keluarkan untuk membeli kopi atau makan di kafe. Artinya yang menjadi persoalan utama kini bukan hanya soal seberapa hemat seseorang hidup, tetapi juga seberapa cepat target finansial itu terus menjauh.
Bahkan secara global pun, Indonesia termasuk negara dengan harga properti yang tidak ramah di kantong pekerja muda. Selain itu, data yang diperoleh dari berbagai survei menunjukkan bahwa hambatan membeli rumah mayoritas karena kesulitan mengumpulkan uang muka dan terhambat harga properti yang terus meroket.
Lantas, benarkah semua itu terjadi karena gaya hidup Gen Z yang dianggap terlalu boros?
Hari ini, kita mungkin melihat banyak Gen Z yang menghabiskan waktu untuk ngopi dan nongkrong di kafe estetik. Tetapi di sisi lain, kita pun tahu saat ini generasi muda sudah jauh lebih melek finansial. Banyak Gen Z yang mempunyai pekerjaan sampingan yang bahkan lebih dari satu. Tidak sedikit pula anak muda yang sudah memulai investasi, baik saham, kripto, maupun emas.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa di balik kebiasaannya yang dianggap boros, banyak Gen Z yang justru aktif mencari cara untuk mengembangkan asetnya. Mereka pun menyadari bahwa menabung saja sering kali tidak mampu mencapai target finansial yang diinginkan serta mengejar laju kenaikan harga properti.
Jika ditarik kembali pada persoalan awalnya, apakah nasihat hidup hemat masih relevan?
Saya akan menjawab, iya, tetapi tentu itu saja belum cukup untuk menjadi solusi. Kemampuan mengelola keuangan tetap menjadi bekal penting yang dibutuhkan oleh siapa pun untuk mencapai tujuan finansialnya. Namun, mengaitkan sulitnya anak muda memiliki rumah semata-mata dengan kebiasaan ngopi dan nongkrong di kafe rasanya terlalu menyederhanakan persoalan.
Kita tak bisa menutup mata bahwa tantangan yang dihadapi oleh anak muda jauh lebih kompleks daripada sekadar menahan keinginan nongkrong. Ketika harga properti terus melonjak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, yang jadi soal bukan sekadar gaya hidup, melainkan juga realitas ekonomi kita yang terus berubah.
Oleh karena itu, mungkin kini yang bisa menjadi pertanyaan bukan lagi tentang apakah anak muda sudah cukup hemat, melainkan apakah hidup hemat saja cukup untuk mengejar mimpi memiliki rumah di usia muda. Sebab jika puluhan juta anak muda menghadapi masalah serupa, sepertinya masalah ini tidak sesederhana mengurangi kebiasaan ngopi dan nongkrong saja.
Baca Juga
-
Punya Kemasan Bekas Paket? Ini Cara Sederhana Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Bawa Tas Belanja Sendiri: Langkah Sederhana untuk Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Saat Impian ke Tanah Suci Berujung Nestapa: Di Mana Letak Tanggung Jawab Influencer?
-
Sila Kelima Pancasila: Mengapa Keadilan Masih Terasa Begitu Jauh dari Jangkauan?
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
Artikel Terkait
Kolom
-
Gen Z dan Impulsive Buying yang Bertabrakan dengan Zero Waste, Relate?
-
"Uangmu Uangku, Uangku Milikku": Masih Relevankah Prinsip Ini di Era Modern?
-
Bukan Sekadar Salah Kelola: Ada Pola 'Titip Proyek' di Balik MBG?
-
Promo Belanja Tanggal Kembar:Tradisi Baru Kaum Rebahan Buru Diskon Midnight
-
Punya Kemasan Bekas Paket? Ini Cara Sederhana Memulai Gaya Hidup Less Waste
Terkini
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Sang Pengembara: Jejak Sunyi yang Menuntun Manusia Pulang ke Diri Sendiri
-
Ketika Iblis Iri: Pelajaran Berharga dari Rahasia Semesta Sebelum Dunia
-
Xiaomi Watch S5 46 mm: Jam Tangan Pintar Elegan dengan Layar 2500 Nits dan Baterai 21 Hari
-
Huawei Nova 16 Ultra Resmi Hadir dengan Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh